Harga Minyak Brent Stabil di US$91,87 per Barel

Pompa angguk di ladang minyak

Pompa angguk beroperasi di sebuah ladang minyak. [Foto: Reuters via CNA]

Cekricek.id — Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan awal Kamis, 20 Agustus 2026, saat investor menimbang prospek perang Amerika Serikat–Iran dan keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz. Dikutip dari channelnewsasia.com, kedua acuan utama minyak mentah bertahan di dekat level tertinggi hampir sebulan.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 25 sen atau 0,3 persen ke US$91,87 per barel pada pukul 00.37 GMT. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat untuk September turun 2 sen ke US$85,81 per barel. Kontrak WTI Oktober yang lebih aktif diperdagangkan menguat 14 sen atau 0,2 persen ke US$84,53 per barel.

Baca juga: Penjualan Home Depot Naik 5,7 Persen di Kuartal Kedua

Brent dan WTI sama-sama menguat untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu, 19 Agustus 2026, dan ditutup pada posisi tertinggi sejak 24 Juli. Kontrak WTI September akan kedaluwarsa pada Kamis waktu setempat.

Pasar Menunggu Kepastian Selat Hormuz

“Harga minyak tetap tinggi karena pasar ditopang serangan-serangan sporadis di Timur Tengah, tetapi tidak ada momentum baru tanpa eskalasi besar,” kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa. Perusahaan itu merupakan unit dari Nissan Securities.

“Pasar kemungkinan akan mempertahankan tren naik yang bertahap mengingat ketidakpastian atas perundingan damai serta ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab, Oman, dan Iran,” ujarnya menambahkan.

Keputusan Uni Emirat Arab menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran sampai pemberitahuan lebih lanjut kembali menyorot hubungan yang rapuh antara produsen minyak utama Teluk itu dan Iran.

Baca juga: Imbal Hasil Obligasi Eropa Tembus Tertinggi 17 Tahun

Pada Selasa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak ada perundingan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz dalam keadaan terbuka. Iran, sebaliknya, menyatakan jalur perairan itu masih tertutup. Data yang keluar pada Rabu menunjukkan pelayaran melalui Selat Hormuz melambat karena sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur tersebut akibat tidak adanya sinyal jelas soal pembukaannya kembali dari blokade yang diberlakukan selama perang Iran.

Ancaman Sanksi Baru dari Washington

Tekanan terhadap Teheran bertambah setelah Trump mengumumkan operasi ekonomi baru lewat unggahan media sosial pada Rabu malam waktu Amerika Serikat. Dikutip dari bbc.com, ia menyatakan negara mana pun yang membantu Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi.

“Negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, badan usaha, bandar udara, atau entitas pemerintahannya memberi bentuk bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi Konsekuensi Ekonomi yang LUAR BIASA,” kata Trump. Ia tidak merinci bentuk hukuman yang dimaksud dan tidak menyebut satu pun nama negara.

Trump juga menyinggung penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang, transfer tunai, rumah penukaran uang, registrasi kapal, dan perusahaan cangkang yang menurutnya harus dihentikan. Sepekan sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan negaranya akan menjatuhkan isolasi ekonomi terhadap Iran seperti yang belum pernah disaksikan dunia.

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Baru

Stok Minyak Mentah Amerika Serikat Naik

Dari sisi pasokan, Energy Information Administration Amerika Serikat melaporkan pada Rabu bahwa persediaan minyak mentah dan bensin naik, sedangkan stok distilat turun pada pekan lalu. Persediaan minyak mentah bertambah 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus 2026, berbanding perkiraan pasar yang memproyeksikan penyusutan 600.000 barel.

Selat Hormuz menjadi titik paling menentukan bagi arah harga energi dunia. Dikutip dari bbc.com, sekitar 20 persen minyak mentah dan gas alam cair dunia biasanya melintasi selat tersebut. Gangguan pada jalur itu sejak awal tahun telah mengerek harga minyak mentah, petrokimia, dan komoditas lain, sehingga menaikkan tagihan impor negara-negara yang bergantung pada pasokan energi luar negeri.

Baca Juga

Spesialis bekerja di lantai perdagangan New York Stock Exchange
Imbal Hasil Obligasi Global Turun, Dolar AS Melemah
Gerai Home Depot
Penjualan Home Depot Naik 5,7 Persen di Kuartal Kedua
Gedung Bank Sentral Eropa di Frankfurt Jerman
Imbal Hasil Obligasi Eropa Tembus Tertinggi 17 Tahun
Kapal-kapal berlabuh di perairan dekat Selat Hormuz
Iran Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Baru
CEO Nvidia Jensen Huang.
Nvidia Gandeng Enam Raksasa Wall Street dalam Kesepakatan US$500 Miliar
Warga Iran menjalani kegiatan sehari-hari di tengah tekanan ekonomi akibat perang, 16 Agustus 2026.
Inflasi Iran Tembus 88 Persen, Harga Pangan Naik 128 Persen