Indonesia Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras ke Malaysia

Ilustrasi pekerja memuat barang ekspor ke dalam peti kemas

Ilustrasi pengapalan komoditas ekspor ke dalam peti kemas. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Indonesia melepas pengiriman perdana 1.000 ton beras premium ke Malaysia dengan harga yang disepakati 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp17.000 per kilogram. Pengiriman tahap awal itu direncanakan melewati jalur perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, menuju Sarawak, menurut siaran pers yang dimuat pertanian.go.id, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ekspor itu dibuka setelah pemerintah memastikan pasokan dalam negeri aman. “Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia,” ujarnya.

Baca juga: Indonesia Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras ke Malaysia

Menurut Amran, harga jual menjadi butir yang paling lama dirundingkan sebelum kesepakatan tercapai. “Yang terpenting harga sudah sepakat, yang terpenting harga dulu. Ini yang nego lama, harganya Rp17.000 per kilo,” katanya. Ia menambahkan kesepakatan itu sudah dibicarakan dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu.

Sarawak Butuh 200.000 Ton Beras Setahun

Pembelinya adalah Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd. General Manager perusahaan itu, Jumaat bin Ibrahim, menyebut pengiriman 1.000 ton hanya pembuka. “Untuk Sarawak kita membutuhkan lebih kurang 200.000 ton untuk setahun. Dan ini kita akan usahakan dengan cara promosi di mana 1.000 ton yang pertama itu sebagai langkah promosi kita untuk mempromosikan beras-beras Indonesia ke Sarawak khasnya dan Malaysia amnya,” ujarnya.

Jumaat menyebut kebutuhan beras Malaysia secara keseluruhan lebih dari 1,5 juta ton per tahun, sementara Amran menyebut angka 1,5 sampai 1,7 juta ton per tahun. Kementerian Pertanian memperkirakan, bila volume ekspor naik ke 200.000 ton, nilai perdagangannya mencapai sekitar Rp3,39 triliun.

Pilihan jalur pengiriman punya arti tersendiri. “Untuk pertama kita akan order 1.000 ton dahulu dan kita akan menggunakan border Entikong untuk simboliknya untuk penghantaran yang pertama,” kata Jumaat. Entikong berada di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dan merupakan pos lintas batas darat resmi yang menghubungkan wilayah itu langsung dengan Sarawak — jalur yang selama ini lebih dikenal untuk lalu lintas orang dan barang harian warga perbatasan, bukan untuk pengapalan komoditas pangan.

Baca juga: Enam Umbi Papua Dibaca di Bawah Mikroskop untuk Kamus Butir Pati

Stok 5,25 Juta Ton, Surplus 3,67 Juta Ton

Dasar pembukaan keran ekspor itu adalah posisi neraca beras nasional. Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026 yang disampaikan Kementerian Pertanian, produksi beras diperkirakan 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional 31,10 juta ton, sehingga tersisa surplus sekitar 3,67 juta ton. Stok cadangan beras hingga Agustus 2026 disebut mencapai 5,25 juta ton.

“Di mana kita sudah swasembada beras, stok kita 5,2 juta ton sampai dengan hari ini. Bahkan kita sudah sewa gudang, 2 juta ton kita surplus,” kata Amran. Kementerian juga mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di ASEAN dengan produksi 38,6 juta ton dan peringkat keempat dunia untuk periode 2026/2027.

Amran menegaskan pengiriman dilakukan bertahap dan tetap mendahulukan kebutuhan domestik. Ekspor perdana itu dilepas dari kediamannya, bukan dari hotel seperti rencana semula. “Kita hilangkan biaya seminar di hotel, tanda tangan seperti ini di hotel, seremoni, gunting pita, tidak ada,” ujarnya, menyebut anggaran seremoni lebih baik dialihkan untuk benih dan pupuk petani.

Kedelai, Daging Sapi, dan Susu Belum Swasembada

Baca juga: Kadin NTT Salurkan Bantuan ke Tujuh Wilayah Terdampak Gempa Flores

Di luar beras, Kementerian Pertanian mencatat nilai tukar petani berada di angka 127,84 pada Juli 2026, yang disebut tertinggi dalam 34 tahun. Nilai tukar petani adalah indeks susunan Badan Pusat Statistik yang membandingkan harga yang diterima petani dengan harga yang harus mereka bayar untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi; angka di atas 100 berarti harga jual hasil panen bergerak lebih cepat daripada harga barang yang dibeli petani.

“Capaian yang menggembirakan adalah kesejahteraan petani tertinggi selama 34 tahun,” kata Amran. Ia juga menyebut ekspor sektor pertanian mencapai sekitar Rp166 triliun sementara impor turun Rp41 triliun, serta kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.

Meski demikian, sasaran swasembada belum tercapai untuk seluruh komoditas. Dari 11 komoditas yang ditargetkan, tiga di antaranya masih bergantung pada pasokan luar negeri. “Dari 11 komoditas, masih ada tiga yang harus kita kejar, yaitu daging sapi, susu dan kedelai. Kami yakin kalau kita kolaborasi dan kompak, pasti ini bisa kita capai,” kata Amran. Ia memperkirakan ketiganya baru bisa dikejar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Baca Juga

Ilustrasi umbi-umbian pangan lokal di meja laboratorium berlatar danau dan perbukitan
Enam Umbi Papua Dibaca di Bawah Mikroskop untuk Kamus Butir Pati
Penyerahan bantuan Kadin untuk warga terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kadin NTT Salurkan Bantuan ke Tujuh Wilayah Terdampak Gempa Flores
Ilustrasi mahasiswa berjalan beriringan di luar ruang.
Tim KKN UGM Susun Arsip Budaya Desa Bayan di Lombok Utara
Ilustrasi penandatanganan dokumen kerja sama.
Ekspor Kerapu ke Amerika Naik, KKP Perkuat Sertifikasi Mutu
Pembagian bibit gratis Kementerian Kehutanan kepada warga di Jalan Sudirman, Jakarta.
Kemenhut Bagikan 17.845 Bibit Gratis di 20 Provinsi
Tim Universitas Sumatera Utara memaparkan kajian penetapan kawasan konservasi perairan Pulau Pandang, Kabupaten Batu Bar
USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara