Cekricek.id — Bunyi suling di sebuah kampung Minangkabau dan bunyi hujan di sebuah desa Jepang ternyata bekerja dengan cara yang nyaris sama: keduanya memanggil pulang orang yang sedang jauh. Yang satu tersimpan dalam lirik Kampuang Nan Jauah di Mato, yang lain dalam lirik Furusato. Dua lagu itu lahir di dua kepulauan yang bahasanya tidak berkerabat, pada zaman yang berbeda, untuk publik yang berbeda. Namun tiga peneliti Universitas Andalas menemukan bahwa keduanya menyusun kerinduan dengan bahan yang mirip, lalu mengarahkannya ke sasaran yang tidak sama.
Penelitian itu ditulis Imelda Indah Lestari, Darni Enzimar Putri, dan Rumbardi dari Universitas Andalas, Indonesia, dengan judul An Anthropolinguistic Analysis of Cultural Values and Social Structure in the Traditional Songs Kampuang Nan Jauah di Mato and Furusato. Artikel tersebut terbit di jurnal Andalas International Journal of Socio-Humanities (AIJOSH) Volume 7 Nomor 2 tahun 2025, halaman 107 hingga 116, dan dapat ditelusuri melalui DOI 10.25077/aijosh.v7i2.93. Naskahnya diterima redaksi jurnal pada 14 November 2025 dan dinyatakan terbit pada 16 Desember 2025. Pertanyaan risetnya sederhana: nilai budaya apa yang terpantul lewat pilihan kata pada kedua lagu itu.
Bahan bacaan keduanya berimbang. Kampuang Nan Jauah di Mato dicatat peneliti sebagai gubahan Oslan Husein (1931) yang tumbuh sebagai bagian tradisi lisan Minangkabau dan kerap dibawakan pada upacara adat, pergelaran seni, serta festival daerah. Furusato ditulis Takano Tatsuyuki untuk liriknya dan Okano Teiichi untuk musiknya pada 1914, lalu menempati posisi penting dalam pendidikan dasar dan upacara kenegaraan Jepang. Yang pertama berangkat dari nagari di Sumatera Barat, yang kedua dari desa Jepang. Keduanya sama-sama dihafal jauh melampaui tempat kelahirannya, dan sama-sama berbicara tentang tempat yang ditinggalkan, bukan tempat yang dituju.
Ketiga peneliti memakai pendekatan antropolinguistik, cabang linguistik yang menempatkan bahasa sebagai praktik budaya dan bukan sekadar sistem struktur, dengan merujuk Duranti, Foley, dan Kramsch. Klasifikasi kata budaya Peter Newmark tahun 1988 dipakai untuk memilah leksikon lirik ke dalam kategori ekologi, budaya sosial, serta gagasan. Analisisnya bertumpu pada dua teknik: comparison-matching untuk mencari persamaan dan comparison-differentiating untuk menandai perbedaan. Datanya adalah lirik resmi kedua lagu, dibaca berulang lewat close reading, lalu ditafsirkan menurut konteks budaya masing-masing sebelum ditarik ke tataran nilai. Teknik pertama mencari yang seiring, teknik kedua menandai yang berselisih.
Kampuang, Gunung, dan Nagari sebagai Pusat
Dalam kategori ekologi, lirik Minang membuka diri lewat baris “Kampuang nan jauh di mato” dan “Gunuang sansai bakuliliang”, kampung yang jauh di mata dan gunung yang mengelilinginya. Para peneliti membaca citra itu bukan sebagai latar pemandangan, melainkan sebagai jangkar budaya yang mengikat perasaan pada nagari. Gambaran kampung yang dikepung gunung, berair jernih, dan berpemandangan indah dinilai memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau menempatkan nagari di titik pusat identitas budayanya, bukan sekadar sebagai alamat tempat tinggal. Alam, dalam pembacaan itu, ikut menyusun cara orang memandang dirinya.
Baca juga Tata Bahasa Sanskerta yang Berubah Jadi Kalender Ritual
Dari sana peneliti menarik pandangan hidup yang dirumuskan pepatah alam takambang jadi guru, alam terkembang menjadi guru. Alam tidak diperlakukan sebagai panggung yang pasif, melainkan sebagai sumber pengetahuan, ilham, dan tuntunan moral yang ikut membentuk perilaku sosial. Struktur sosial yang terbayang pun mengikuti: kehadiran gunung dan sumber air yang menghidupi menggambarkan masyarakat agraris yang sangat bergantung pada kondisi geografis. Ketergantungan itulah, menurut ketiganya, yang memperkuat ikatan komunal dan tanggung jawab bersama. Gunung dan air, dengan kata lain, dibaca sebagai penjelas hubungan antarmanusia.
Gotong Royong dan Keluarga dalam Lirik Minang
Pada lapis budaya sosial, lirik Minang menyimpan dua ingatan yang bekerja bersamaan. Baris “Takana jo kawan-kawan nan lamo” dan “Sangkek den basuliang-suliang” merekam kawan lama dan permainan suling masa kecil sebagai lambang kehangatan komunal. Baris “Panduduknyo nan elok”, “Nan suko bagotong-royong”, serta “Sakik sanang samo-samo diraso” menegaskan keramahan, kerja bersama, dan kesediaan menanggung susah maupun senang secara berbarengan. Peneliti membaca rangkaian itu sebagai gambaran masyarakat yang mengukur kebahagiaan dari hubungan sosial, bukan dari kepemilikan benda. Kampung pun tampil sebagai ruang sosial, bukan sekadar titik di peta.
Kerinduan dalam lirik itu lalu dialamatkan kepada induak, ayah, dan adiak sadonyo — ibu, ayah, dan adik semuanya. Meski Minangkabau menganut sistem matrilineal, ikatan emosional dengan orang tua dan saudara kandung tetap disebut peneliti sebagai poros kehidupan sosial, terutama bagi yang tinggal jauh dari rumah. Tradisi merantau, kebiasaan lama meninggalkan kampung untuk menuntut ilmu, pengalaman, atau perbaikan ekonomi, hadir tersirat lewat kerinduan itu. “Pandangan hidup orang Minangkabau sangat berorientasi komunitas; hidup dipahami bermakna ketika dijalani bersama-sama, dengan hubungan sosial sebagai fondasi identitas,” tulis Imelda Indah Lestari, Darni Enzimar Putri, dan Rumbardi.
Furusato, Gunung Hijau, dan Air yang Jernih
Di sisi lain, Furusato dibuka dengan dua ingatan lapangan yang setara ukurannya: gunung tempat si penutur dulu mengejar kelinci dan sungai tempat ia memancing ikan mas kecil. Bait penutupnya menyebut gunung yang biru kehijauan dan air yang jernih di kampung halaman. Peneliti membaca citra hijau dan bening itu sebagai lambang kebersihan, keteraturan, serta penghormatan pada alam yang menjadi nilai pusat kebudayaan Jepang. Alam di sana ditampilkan sebagai ruang yang stabil dan selaras, yang merawat rasa aman serta kesinambungan budaya. Gunung hadir di kedua lagu, tetapi dibaca dengan tekanan makna yang tidak sama.
Pandangan hidup yang ditarik dari sana adalah prinsip wa, keselarasan antara manusia dan alam. Menurut peneliti, citra lingkungan dalam lagu itu menyiratkan bahwa ketertiban sosial dan keseimbangan batin dicapai dengan menyelaraskan diri pada dunia alam. Struktur sosial yang tergambar pun berupa masyarakat yang tertib dan padu, menekankan tanggung jawab kolektif serta kedisiplinan. Gambaran itu menguatkan citra komunitas desa Jepang sebagai satuan yang terintegrasi secara sosial, tempat keselarasan didahulukan di atas ekspresi individual. Hal yang sama tidak berlaku persis di sisi Minangkabau, yang penekanannya jatuh pada solidaritas horizontal antaranak nagari.
Wa, Kizuna, dan Kawan Masa Kecil
Pada lapis budaya sosial, Furusato mengarahkan rindunya kepada dua alamat sekaligus: chichi-haha, ayah dan ibu, serta tomogaki, kawan-kawan masa kecil. Peneliti membaca pertanyaan tentang kabar orang tua dan harapan agar kawan lama tidak tertimpa kesulitan sebagai wujud wa, keselarasan dalam kelompok, sekaligus kizuna, ikatan emosional yang terjalin sejak kecil. Sikap omoiyari, kepedulian empatik pada orang lain, muncul dalam keinginan tulus agar orang lain tidak mengalami kesusahan. Nuansa mono no aware, kesadaran halus akan keindahan yang tidak bisa diulang, terbaca pada rindu yang lembut terhadap masa lalu.
Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Alam pun ikut bekerja di ranah batin. Hujan dan angin dalam lirik berfungsi sebagai pemantik ingatan, sehingga masa lalu dan furusato dibaca bukan semata sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai sumber ketenangan dan pemahaman diri. Dalam kamus Kokugo Jiten, furusato memang diartikan sebagai tanah atau daerah tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. “Kerinduan tidak hanya diarahkan kepada keluarga inti, tetapi juga kepada teman sebaya yang menjadi bagian dari lingkungan emosional seseorang,” tulis ketiga peneliti Universitas Andalas tersebut. Definisi kamus itu menekankan jarak batin, bukan semata jarak fisik yang terbentang.
Ditimbang berdampingan, simpulan penelitian ini berjalan di tiga jalur. Pada nilai budaya, keduanya sama-sama mengangkat kecintaan pada alam dan kampung halaman sebagai sumber identitas; bedanya, lagu Minang menonjolkan kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas keluarga, sedangkan Furusato menonjolkan keselarasan dengan alam, kesederhanaan, serta wa, kizuna, dan mono no aware. Pada pandangan hidup, orang Minangkabau memaknai hidup sebagai sesuatu yang dijalani bersama keluarga dan nagari, sementara masyarakat Jepang meletakkan alam, pengalaman masa kecil, dan relasi sosial di pusat pembentukan identitas. Persamaannya berhenti pada rindu; perbedaannya mulai pada apa yang dirindukan.
Baca juga Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia
Pada struktur sosial, lagu Minang memantulkan masyarakat komunal dan matrilineal dengan solidaritas horizontal yang kuat serta tradisi merantau yang mewarnai dinamika kerinduan. Furusato memantulkan masyarakat Jepang yang homogen, tertib, dan kolektif, dengan ikatan erat antara keluarga, tetangga, dan kawan masa kecil di desa tradisional. “Bahasa dalam lirik lagu rakyat bukan sekadar media estetis, melainkan juga wahana untuk merekam memori sosial, membangun identitas kolektif, dan menggambarkan cara sebuah masyarakat memahami dunia, alam, serta hubungan antarmanusia,” tulis mereka pada bagian simpulan. Dua struktur itu sama-sama komunal, tetapi porosnya berlainan.
Klaim itu perlu dibaca dengan takaran yang pas. Ketiga peneliti tidak memuat bagian keterbatasan penelitian dalam artikelnya, sehingga batas jangkauan temuan tidak mereka paparkan sendiri. Yang bisa dibaca dari uraian metodenya, datanya hanya berupa lirik resmi dua lagu yang dianalisis lewat pembacaan berulang, tanpa wawancara penutur, survei pendengar, atau pengukuran kuantitatif. Peneliti juga mencatat bahwa bahasa Jepang dan bahasa Minangkabau tidak berkerabat secara genetis, dan bahwa riset antropolinguistik yang membandingkan keduanya secara langsung masih terbatas. Temuannya berlaku pada teks lirik, bukan pada seluruh masyarakat Minangkabau atau Jepang hari ini.
Yang tersisa dari perbandingan ini bukan pertanyaan lagu mana yang lebih dalam. Kampuang Nan Jauah di Mato menyimpan rindu yang bergerak ke arah kaum, rumah gadang, dan nagari; Furusato menyimpan rindu yang bergerak ke arah gunung, sungai, orang tua, dan kawan sepermainan. Yang satu meletakkan kebersamaan sebagai ukuran, yang lain meletakkan keselarasan. Keduanya, dalam pembacaan ketiga peneliti Universitas Andalas itu, sama-sama bekerja sebagai dokumen budaya yang hidup, teks yang terus menyimpan ingatan sebuah masyarakat setiap kali dinyanyikan ulang. Penelitian ini tidak menobatkan salah satunya sebagai yang lebih unggul.
















