Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah

Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi

Ilustrasi kubur bilik batu megalitik dengan sisa pigmen merah di dataran tinggi [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Di dinding bagian dalam beberapa kubur bilik batu di Dataran Tinggi Pasemah, Sumatera Selatan, ada lukisan yang sebenarnya sudah nyaris tidak ada lagi. Mata telanjang cuma menangkap noda kecokelatan dan bercak samar yang bisa saja lumut, bisa saja bekas rembesan air musim hujan, bisa saja memang tidak berarti apa-apa. Namun ketika foto dinding yang sama dimasukkan ke sebuah perangkat lunak pengolah citra, noda itu berubah menjadi spiral, lengkungan, dan garis yang tertata rapi. Gambarnya kembali terbaca. Batunya sendiri tidak disentuh sama sekali.

Kejanggalan itu terekam dalam penelitian Mentari Halimun dari Program Studi Pascasarjana Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sekaligus Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Kementerian Kebudayaan, R. Cecep Eka Permana dari Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Irsyad Leihitu dari Program Studi Arkeologi Universitas Jambi, dan Pramudianto Dwi Hanggoro dari Museum dan Cagar Budaya Unit Jawa Timur Kementerian Kebudayaan. Laporan mereka, Integrasi Terrestrial Laser Scanning dan DStretch untuk Pelestarian Berbasis Digital pada Situs Kubur Bilik Batu di Dataran Tinggi Pasemah, Sumatera Selatan, terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 2 tahun 2025.

Bagaimana Air Hujan Menghapus Lukisan dari Dalam Bilik

Kubur bilik batu dibangun dengan cara menggali lubang persegi di permukaan tanah, lalu menyusun balok-balok batu andesit di setiap sisi lubang sampai membentuk dinding, dan menutupnya dengan satu bongkahan besar sebagai atap. Dasarnya kerap dilapisi lempengan batu pipih yang berfungsi seperti tegel, sementara salah satu sisi dinding sengaja dibiarkan berlubang sebagai pintu masuk. Hasilnya sebuah ruang tiga dimensi yang lantainya duduk lebih rendah daripada tanah di sekelilingnya. Rancangan itu masih berdiri sampai hari ini. Di situ pula persoalannya bermula.

Ruang yang lebih rendah akan menampung air, dan air tidak pernah datang sendirian. Tim peneliti mendokumentasikan tiga situs di Kabupaten Lahat, yaitu Kotaraya Lembak dan Talang Pagar Agung di Kecamatan Pajar Bulan, serta Gunung Megang di Kecamatan Jarai. Menurut laporan juru pelihara situs kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI, pada akhir 2023 hingga awal 2024 terjadi peningkatan volume air yang signifikan sehingga bagian dalam bilik tergenang sampai menyentuh permukaan dinding berlukis. Pada bilik nomor tujuh Kotaraya Lembak, air berhenti persis sejajar ambang pintu, tepat di bawah lukisan yang menyerupai kepala kerbau.

Genangan yang datang dan surut setiap musim membawa tanah serta pasir yang kemudian mengendap di dalam ruang. Pada bilik nomor satu di situs yang sama, penelitian Manachim tahun 2002 mencatat tinggi ruang mencapai 1,34 meter; ketika tim mendatanginya kembali, sedimentasi telah menyusutkan ruang itu menjadi sekitar 80 sentimeter sehingga sulit dimasuki orang dewasa. Dinding sisi barat daya dan tenggara yang dulu dilaporkan berlukis tidak lagi menyisakan indikasi visual yang jelas akibat pelapukan. Di sektor lain situs itu, dindingnya rusak oleh vandalisme berupa ukiran dan coretan arang.

Cara Laser Mengubah Bilik Batu Menjadi Jutaan Titik

Perekaman bentuk fisik bilik dikerjakan dengan Terrestrial Laser Scanning atau TLS, memakai instrumen Leica BLK360. Alat ini menembakkan berkas laser kelas satu menurut standar IEC 60825-1:2014, aman dipakai di ruang terbuka, dengan teknologi waveform digitizing yang sanggup merekam hingga 680.000 titik per detik. Jangkauan efektifnya 0,5 sampai 45 meter, dengan bidang pandang 360 derajat mendatar dan 270 derajat tegak. Setiap berkas yang memantul dari permukaan batu dicatat sebagai satu koordinat ruang beserta jaraknya. Kumpulan koordinat itulah yang kemudian disebut point cloud.

Satu posisi alat tidak pernah cukup. Batu besar menghalangi batu lain, sudut ruang menciptakan bayangan, dan bagian yang tidak tersentuh laser akan menjadi lubang kosong di dalam data yang tak bisa ditambal belakangan. Karena itu pemindaian dilakukan dengan pendekatan multi-stasiun, rata-rata enam titik pemasangan alat pada setiap bilik, disesuaikan dengan topografi, akses ruang, dan potensi terhalangnya pandangan. Hasil dari seluruh stasiun kemudian diregistrasi ke dalam satu sistem koordinat, lalu diekspor dalam format e57 agar terbaca berbagai perangkat lunak pengolah data spasial.

Dari kumpulan titik itu tim menurunkan model permukaan, ortoproyeksi, dan analisis morfometri. Irisan melintang vertikal memperlihatkan profil kedalaman bilik sekaligus ketebalan lapisan tanah penutup di atas struktur, yang bervariasi antara 0,25 hingga 0,5 meter dan ikut menentukan besar tekanan yang ditanggung batu di bawahnya. Tampilan ortogonal dari atas menunjukkan adanya cekungan mikro di area tengah situs. Yang paling penting bagi pelestarian, dinding yang terekam ternyata tidak sepenuhnya tegak lurus, melainkan miring — indikator potensi pergeseran tanah dan risiko keruntuhan.

Baca juga: Gua Karst Benau, Situs Arkeologi yang Masih Ditinggali Orang Punan Batu

Cara Perangkat Lunak Memisahkan Pigmen dari Warna Batu

Lukisannya sendiri menuntut alat yang sama sekali berbeda, sebab laser merekam bentuk dan bukan warna. DStretch adalah plugin dalam perangkat lunak ImageJ yang bekerja dengan algoritma decorrelation stretch, mula-mula dikembangkan Jet Propulsion Laboratory milik NASA untuk pengolahan citra multispektral, kemudian diadaptasi Jon Harman pada 2005 khusus untuk kajian gambar cadas. Prinsip kerjanya memisahkan tiga kanal warna merah, hijau, dan biru dalam sebuah foto, memperlebar rentang variasi warna melalui transformasi matematis, lalu memetakannya kembali ke ruang warna baru yang telah diperkuat.

Hasil akhirnya citra warna palsu yang menonjolkan pigmen tertentu, terutama merah, kuning, dan hitam. Seluruh prosesnya berjalan di komputer, bukan di dinding: tidak ada cairan, tidak ada sikat, tidak ada sentuhan pada batu, sehingga metodenya tergolong non-destruktif. Foto yang dipakai berformat TIFF 16-bit supaya fidelitas warna dan rentang dinamisnya terjaga, sebab format itu tidak mengalami kompresi seperti JPEG dan lebih stabil terhadap distorsi warna sepanjang transformasi berlangsung. Beberapa ruang warna diuji satu per satu, di antaranya YRE, YBK, LAB, dan CRGB.

Hasil terbaik disimpan, lalu matriks transformasi dari satu foto representatif diterapkan pada foto lain dari konteks serupa agar keluarannya konsisten dan layak dibandingkan satu sama lain. Pada dinding barat laut bilik nomor tujuh Kotaraya Lembak, garis merah dan lengkungan tipis yang semula samar berubah menjadi spiral besar bercabang kecil, menyerupai bentuk volute. Pada bilik nomor satu, kontras pigmen meningkat drastis dan memunculkan pola spiral ganda. Di Gunung Megang, dengan ruang warna YRD, noda merah di tengah dinding menjadi pola melengkung berujung ke atas.

Kegunaan terpentingnya bukan sekadar mempertajam gambar yang sudah diketahui ada. Sebelum diolah, peneliti tidak bisa memastikan apakah bercak di batu itu bekas sapuan cat atau sekadar lumut dan noda alami — keraguan yang selama ini membuat banyak jejak visual tidak pernah tercatat sebagai data arkeologis. Penguatan warna memisahkan keduanya. “DStretch tidak hanya memperkuat pigmen merah, tetapi juga menyingkap perbedaan kontras antara bagian batu yang mengandung pigmen dengan latar alami batu,” tulis Mentari Halimun dan rekan-rekannya dalam artikel yang mereka terbitkan tahun lalu itu.

Baca juga: Jejak Kereta Api Payakumbuh yang Nyaris Hilang

Cara Dua Rekaman Itu Ditumpuk Menjadi Satu Model

Kedua alat itu baru bermakna penuh ketika hasilnya disatukan. TLS menghasilkan point cloud berpresisi milimeter dalam sistem koordinat absolut, sehingga posisi persis dinding yang mengandung pigmen dapat ditentukan tanpa perkiraan. Citra olahan DStretch kemudian ditempatkan pada permukaan dinding itu di dalam model tiga dimensi. Yang lahir bukan peta visual, bukan pula sekadar rekaman bentuk, melainkan model 3D beranotasi: simbol yang dikembalikan ke konteks arsitekturalnya, lengkap dengan orientasi ruang dan kedudukannya terhadap sisi-sisi lain bilik yang sama, sesuatu yang tak terbaca dari foto biasa.

Dari sana muncul pertanyaan yang sebelumnya sulit diajukan. Apakah motif sengaja ditempatkan pada sisi tertentu yang punya makna kosmologis? Apakah sebarannya berkaitan dengan orientasi kubur terhadap lanskap di sekitarnya? Tim penulis menyebut integrasi ini membuka kemungkinan interpretasi baru, tanpa mengklaim telah menjawabnya. Pemetaan motif spiral pada permukaan dinding yang terdokumentasi TLS menyediakan bahan bagi pertanyaan itu, bukan kesimpulannya. Fungsi keduanya justru bersifat jangka panjang dan baru benar-benar terasa bertahun-tahun sesudah rekaman pertama diambil dan dibandingkan dengan rekaman berikutnya.

Rekaman TLS yang diambil berkala dapat dibandingkan antarperiode untuk mendeteksi pergeseran struktur, retakan baru, atau degradasi material yang belum kasatmata. Citra DStretch dari waktu berbeda dapat memperlihatkan seberapa cepat pigmen memudar. Dokumentasi pun berubah fungsi menjadi sistem peringatan dini yang memungkinkan pengelola situs bertindak lebih awal, misalnya lewat pemeliharaan rutin atau pembatasan akses ke area paling rentan. Penulis menyandarkan kerangka itu pada prinsip pelestarian adaptif, yang menuntut keputusan konservasi diambil berdasarkan data dan bisa berubah mengikuti kondisi lapangan yang tidak pernah benar-benar diam.

Baca juga: Anak Muda Batu Merekam Sisi Sepi di Balik Merek Kota Wisata

Ada pilihan teknis yang sengaja tidak diambil. Handheld Laser Scanning, yang menggabungkan sensor LiDAR, unit pengukur inersia, dan algoritma SLAM, memang jauh lebih lincah dipakai di ruang sempit dan tidak memerlukan tripod, tetapi ketelitiannya bersifat relatif, sekitar satu sampai tiga sentimeter, serta rentan terhadap drift dan kesalahan registrasi pada ruang lembap atau berpermukaan reflektif. Kondisi Pasemah yang semi-terbuka dan kerap tergenang justru menuntut kestabilan optik. Karena itu tim memilih TLS di atas tripod statis yang tidak terganggu gerak operator.

Di Mana Kedua Teknologi Itu Berhenti Menolong

Penulis tidak menutupi bahwa pendekatan ini punya batas yang nyata di lapangan. TLS, meskipun presisi, membutuhkan biaya tinggi dan keahlian teknis dalam pengolahan data — dua hal yang tidak selalu tersedia di lembaga pelestarian daerah. DStretch memang sederhana, cepat, dan murah, tetapi justru di situ letak risikonya. “Penggunaannya berpotensi menimbulkan interpretasi berlebihan terhadap hasil penguatan warna, karena algoritma decorrelation stretch dapat menampilkan pola yang tidak selalu merepresentasikan pigmen asli,” tulis tim penulis pada bagian pembahasan laporan mereka, mengutip peringatan peneliti terdahulu.

Yang membuatnya rumit, layar tidak bisa menjadi hakim atas hasilnya sendiri. Karena itu penulis menegaskan hasil pengolahan citra digital perlu diverifikasi melalui observasi langsung di lapangan dan dibandingkan dengan data kontekstual arkeologis sebelum ditarik menjadi tafsir yang dipublikasikan. Penelitian ini pun berupa studi kasus kualitatif atas tiga situs di satu kabupaten, dan penulis hanya berharap metodenya menjadi acuan bagi situs lain di Indonesia dengan kondisi sebanding, bukan menyatakan hasilnya berlaku di mana saja tanpa penyesuaian terhadap karakter situs setempat.

Batas yang paling mendasar justru yang paling jarang disebut orang. Pemindaian dan penguatan warna tidak menghentikan air yang naik setiap musim hujan, tidak mengembalikan tinggi ruang yang tergerus sedimentasi, dan tidak memulihkan pigmen yang telanjur lepas dari permukaan batu. Yang diperpanjang umurnya adalah informasinya, bukan bendanya. Karena itulah spiral dan lukisan menyerupai kepala kerbau di Pasemah kini berada di dua tempat sekaligus: di dinding yang terus memudar, dan di berkas komputer yang tidak ikut memudar — dan hanya salah satunya yang masih bisa diselamatkan.

Baca Juga

Ilustrasi kerang yang menempel berkelompok pada batu karang di zona pasang surut.
75 Kali Lipat Bakteri di Perairan Kerang Perna perna
Ilustrasi seorang pelari bersiap di garis start lintasan atletik.
Cara Bahasa Kampanye Nike di Instagram Bekerja
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Ilustrasi pertandingan sepak bola malam hari yang disaksikan penonton di stadion.
Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia
Ilustrasi persamaan matematika rumit di papan tulis.
Matematikawan Buat Terobosan Konjektur Komlós
Ilustrasi seorang anak dan neneknya mengamati lemari kaca museum sejarah alam
Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan