Cekricek.id — Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Lebanon menyusut 6,4 persen sepanjang 2026 akibat eskalasi perang yang pecah pada Maret. Proyeksi tersebut membalikkan pertumbuhan 4,2 persen yang dicatat negara itu pada 2025, capaian terbaik sejak keruntuhan sistem keuangan Lebanon pada 2019.
Angka itu tertuang dalam laporan Lebanon Economic Monitor edisi musim panas 2026, menurut keterangan tertulis Bank Dunia, Jumat (21/08/2026), yang dirilis dari Beirut.
“Produk domestik bruto riil diproyeksikan terkontraksi 6,4 persen pada 2026, mencerminkan runtuhnya sektor pariwisata, melemahnya konsumsi, terganggunya rantai pasok, meningkatnya rasa tidak aman, dan pengungsian yang berkepanjangan,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Baca juga Rusia Siap Dengar Ide Baru Akhiri Perang Ukraina
Direktur Bank Dunia untuk kawasan Timur Tengah Dahlia Khalifa menyebut pemulihan Lebanon yang belum kokoh kembali terhempas. “Pemulihan Lebanon yang rapuh mengalami kemunduran tajam akibat konflik yang kembali pecah, menambah krisis sosial dan ekonomi yang sudah sangat parah,” kata Khalifa.
Inflasi Diproyeksi Tembus 17,5 Persen
Bank Dunia memperkirakan inflasi Lebanon melaju hingga 17,5 persen pada 2026. Laporan itu menyebut pendorongnya adalah gangguan pasokan, ongkos pengapalan yang membengkak, dan kenaikan harga minyak, yang secara bersama-sama menggerus daya beli warga.
Tekanan tersebut menimpa masyarakat yang belum pulih dari krisis 2019. Nilai tukar pound Lebanon kini bertahan di kisaran 90 ribu per dolar AS, atau anjlok sekitar 95 persen dibandingkan level sebelum 2019.
Baca juga Inflasi Inti Jepang Naik 1,8 Persen pada Juli 2026
Reformasi Perbankan Jadi Kunci
Khalifa menekankan jalan keluar Lebanon bergantung pada agenda reformasi yang selama ini tertunda. “Memajukan reformasi, terutama pada restrukturisasi sektor perbankan dan pengelolaan fiskal, akan sangat menentukan untuk memulihkan kepercayaan, menjaga stabilitas, dan menghimpun pembiayaan yang dibutuhkan bagi rekonstruksi dan pemulihan,” tuturnya.
Keuangan publik Lebanon sempat menunjukkan perbaikan, dengan surplus 3,9 persen dari produk domestik bruto pada 2025 berkat kepatuhan pajak yang membaik. Namun posisi itu kini tertekan kebutuhan kemanusiaan dan biaya rekonstruksi. Dana Moneter Internasional menyambut amendemen sektor perbankan yang baru disahkan dan berencana melanjutkan pembicaraan teknis di Beirut.
Baca juga Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45% Semester I 2026, Hilirisasi Jadi Penggerak
Beban Perang dan Suara dari Beirut
Bank Dunia menghitung produk domestik bruto Lebanon pada 2026 akan berada 10,4 poin persentase lebih rendah dibandingkan skenario tanpa konflik. Kerusakan perumahan dan infrastruktur, pengungsian penduduk, terputusnya rantai pasok, serta anjloknya kunjungan wisatawan menjadi penyebab utamanya.
Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 4.300 orang tewas sejak pertempuran kembali berkobar pada Maret 2026, menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (22/08/2026). Menteri Ekonomi dan Perdagangan Lebanon Amr Bisat bahkan memperkirakan kontraksi ekonomi tahun ini dapat mencapai 7 persen.
Meski demikian, mantan Menteri Ekonomi dan Perdagangan Lebanon Alain Hakim menilai situasi belum tanpa harapan. “Tidak ada alasan untuk pesimisme yang berlebihan karena kita memiliki elemen-elemen yang tersedia di dalam negeri pada semua lini, termasuk keberadaan lembaga-lembaga konstitusional,” ujar Hakim.
















