Cekricek.id — Mengirimkan satu sampel tinja ke laboratorium terdengar sepele, tetapi analisis terbaru terhadap lebih dari 376 ribu warga Swedia menunjukkan kebiasaan sederhana itu dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker kolorektal yang 43 persen lebih rendah.
Angka tersebut berasal dari evaluasi program skrining kanker usus besar dan rektum di wilayah Stockholm–Gotland, Swedia, yang berjalan sejak 2008. Peneliti Universitas Umeå bersama Karolinska Institutet menelusuri 376.511 orang yang diundang mengikuti skrining pada 2008 hingga 2012, dengan masa pemantauan sampai 14 tahun, menurut keterangan tertulis Universitas Umeå, Jumat (21/08/2026).
Selama periode pemantauan itu tercatat 1.668 kematian akibat kanker kolorektal di antara peserta yang ditelusuri. Hasil analisis dipublikasikan dengan judul “Fecal Occult Blood Screening Outcomes Adjusted for Contamination Bias and Nonadherence”, menurut laporan yang terbit di jurnal JAMA Network Open, Kamis (20/08/2026).
Baca juga Rompi Antiradiasi AstroRad Diuji di Misi Artemis I, Pangkas Paparan hingga 60 Persen
Selisih Tajam antara Diundang dan Ikut
Evaluasi terdahulu atas program yang sama menemukan manfaat yang jauh lebih kecil. “Evaluasi sebelumnya terhadap program ini menunjukkan orang yang menerima undangan skrining memiliki risiko kematian akibat penyakit ini 14 persen lebih rendah,” kata Johannes Blom, konsultan senior sekaligus associate professor di Departemen Riset dan Pendidikan Klinis Södersjukhuset, Karolinska Institutet.
Analisis baru memisahkan dua hal yang selama ini bercampur, yaitu menerima undangan dan benar-benar mengirim sampel. Setelah dikoreksi, sekadar menerima undangan dikaitkan dengan risiko kematian 26 persen lebih rendah, sedangkan mereka yang benar-benar menjalani skrining memiliki risiko 43 persen lebih rendah. Perbedaan angka itu muncul karena cara analisisnya diperbaiki, bukan karena isi programnya berubah.
Menyiasati Bias yang Menyamarkan Manfaat
Persoalan terbesar dalam menilai program skrining adalah bias. Sebagian orang yang tidak diundang tetap menjalani pemeriksaan usus atas inisiatif sendiri, sementara sebagian yang diundang tidak pernah mengirim sampel. Fenomena pertama dikenal sebagai kontaminasi, sedangkan yang kedua disebut ketidakpatuhan. Keduanya membuat manfaat sesungguhnya tampak lebih kecil daripada kenyataan, dan pada analisis kali ini keduanya diperhitungkan secara khusus.
“Skrining berbasis populasi adalah inisiatif kesehatan masyarakat yang memengaruhi banyak orang. Karena itu penting untuk mengevaluasi efektivitasnya,” ujar Håkan Jonsson, peneliti di Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Global Universitas Umeå.
Baca juga Kehadiran Puma Turunkan Risiko Tabrakan Rusa-Kendaraan hingga 67 Persen di Semenanjung Olympic
Jonsson menyebut pekerjaan semacam itu tidak sederhana. “Mengevaluasi efektivitas skrining bisa menjadi tantangan karena berbagai sumber bias dan tidak tersedianya data pada tingkat individu,” tutur dia.
Baca juga 98 Persen Produk Perawatan dan Pembersih Rumah Tangga Simpan Bahan Kimia Tak Tercantum di Label
Sepertiga Orang Tak Mengirim Sampel
Meski hasilnya menjanjikan, tingkat partisipasi tetap menjadi titik lemah program. “Walaupun skrining ditawarkan gratis dan tesnya mudah dikerjakan, sekitar sepertiga orang yang memenuhi syarat tidak mengirimkan sampel,” jelas Blom.
Metode yang dipakai adalah pemeriksaan darah samar pada tinja. Peserta mengambil sampel di rumah dan mengirimkannya ke laboratorium, lalu hasil yang positif ditindaklanjuti dengan kolonoskopi untuk mencari polip atau tumor. Polip yang diangkat sebelum berubah ganas memutus perjalanan penyakit sejak tahap paling awal. Undangan dikirim secara berkala kepada kelompok usia sasaran dan pesertanya tidak dipungut biaya.
Beban Penyakit dan Langkah Berikutnya
Kanker kolorektal termasuk kanker paling umum di dunia dan kerap baru terdeteksi ketika sudah lanjut karena gejala awalnya samar. Program skrining berbasis populasi dirancang justru untuk menemukan penyakit itu sebelum penderitanya merasakan keluhan apa pun. Semakin dini tumor ditemukan, semakin besar pula peluang pengobatan berhasil.
Penelitian ini didanai Swedish Cancer Society, Swedish Research Council, dan Region Stockholm. Blom menekankan pesan praktis dari temuan tersebut sederhana, yakni mengirimkan sampel ketika undangan datang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa, menurut keterangan tertulis Karolinska Institutet, Kamis (20/08/2026).
















