Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?

Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan

Ilustrasi ceruk pahatan pada tebing batu di tepi sungai kecil, gambaran umum bentuk Gua Umang yang dikaji di Tanjung Pulo, Kabupaten Karo. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Sebuah tungku batu untuk memasak gula aren dan sebuah pahatan perahu layar di dinding tebing sama-sama pernah berada di titik yang sama, di tepi Sungai Biak Taren, Desa Tanjung Pulo, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Yang pertama disusun seorang pemilik kebun bermarga Singarimbun untuk keperluan memasak, dan ia masih bisa menjelaskan sendiri untuk apa batu-batu itu ditata di sana. Yang kedua dipahat entah oleh siapa, entah berapa lama sebelumnya, dan kini tidak lagi terlihat jejaknya di lokasi itu.

Dua benda itulah yang menjadi titik berangkat penelitian Dyah Hidayayati dari Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Hidayat dan Bakhrul Khair Amal dari Pascasarjana Universitas Negeri Medan. Laporan mereka, Kajian Gua Umang Tanjung Pulo dalam Konteks Folklor dan Budaya Lokal, terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 2 pada 2025. Data lapangannya dikumpulkan lewat observasi — pendeskripsian objek, pengukuran, pendokumentasian, dan pengamatan lingkungan — ditambah pendekatan etnografi berupa wawancara informal dengan warga setempat serta studi pustaka sebagai bahan pembanding.

Yang tersusun dari sana bukan satu objek dengan satu makna, melainkan satu objek dengan dua pembacaan yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu. Di satu sisi ada arkeolog yang membandingkan ceruk pahatan itu dengan tinggalan sejenis di Nusantara, lalu menempatkannya sebagai bangunan yang berkaitan dengan penguburan. Di sisi lain ada masyarakat Karo yang sama sekali tidak menganggapnya buatan manusia, melainkan rumah bagi makhluk supranatural bernama umang. Keduanya berdiri di depan dinding batu yang sama dan melihat dua hal berbeda.

Gua yang Hilang dan Gua yang Bertahan

Warga Tanjung Pulo menyebut ada dua Gua Umang yang letaknya berdekatan, kurang lebih 100 atau 200 meter satu sama lain. Saat penelitian dilakukan, hanya satu yang masih dapat dilihat. Objek yang satu lagi dinyatakan hilang atau rusak, dan keterangan warga sendiri terbelah soal bagaimana kejadiannya. Sebagian menyebut gua itu lenyap dalam pengerukan tebing ketika jalan lintas Tanjung Pulo–Tanjung Mbelang dibangun. Sebagian lain memperkirakan gua itu masih ada di tebing sungai dekat jembatan, hanya saja tertimbun material dari pengerukan yang sama.

Kedua perkiraan itu kini sama-sama tertutup bangunan baru. Di bagian tebing yang dikeruk telah berdiri rumah-rumah semi permanen yang dihuni pendatang, bukan penduduk setempat. Di dekat jembatan, tempat yang menurut sebagian warga menyimpan gua yang tertimbun, berdiri bangunan semi permanen yang dipakai sebagai kios cukur rambut pria. Laporan itu mencatat kedua versi sebagai keterangan masyarakat, bukan sebagai temuan yang sudah dipastikan di lapangan, sehingga nasib gua kedua tetap berupa dua kemungkinan yang sama-sama terbuka.

Gua yang masih bertahan berada di kebun milik penduduk Marga Singarimbun, di lingkungan ladang palawija dekat aliran Sungai Biak Taren yang tidak terlalu besar maupun dalam, meski sesekali cukup deras pada musim penghujan. Lokasi itu pernah dipakai pemilik lahan untuk aktivitas pembuatan gula aren. Di luar gua terdapat batu-batu bundar yang disusun menyerupai tungku, dan menurut Cahaya Singarimbun batu itu disusun olehnya sendiri serta memang difungsikan untuk memasak gula aren. Para peneliti mencatat satu keberatan kecil di titik ini: membuat berarti membentuk dengan cara memahat, sedangkan di desa tersebut tidak terlihat adanya aktivitas maupun kepandaian memahat batu. Lebih memungkinkan, tulis mereka, batu-batu itu telah terbentuk sejak awal dan hanya ditata kembali sesuai keperluan. Dua lapis pemanfaatan menumpuk di satu tempat, dan hanya pelaku lapis terakhir yang masih bisa diwawancarai.

Baca juga Talaqqi dan Birokrasi: Dua Kurikulum dalam Satu Hari Santri

Gua yang hilang justru meninggalkan lebih banyak gambar ketimbang gua yang bertahan. Objek itu pernah didokumentasikan Edward MacKinnon, peneliti Skotlandia, pada sekitar tahun 1977. Juara Ginting juga memiliki foto yang diambil pada 1990, yang menandakan pada saat itu gua tersebut masih utuh dan belum hancur. Foto-foto itu kemudian beberapa kali terpublikasikan di internet. Bukti utama tentang gua yang paling istimewa di Tanjung Pulo, dengan demikian, kini berupa dokumentasi dua orang dengan jarak tiga belas tahun di antara keduanya.

Perahu Layar di Satu Dinding, Takikan di Dinding Lain

Dari foto-foto itulah perbedaan kedua gua terbaca. Gua yang hilang memiliki pahatan relief di dinding depannya, dipahat dengan gaya kasar namun cukup detail dan jelas penggambarannya. Mengapit lubang masuk yang berbentuk persegi terdapat masing-masing satu gambaran perahu layar, digambarkan cukup rinci bagian per bagian. Di samping salah satu relief perahu berdiri sosok manusia bergaya primitif, satu tangan berada di pinggang dan tangan yang lain seakan memegang bingkai yang membatasi relief perahu itu. Wajahnya dilengkapi mata dan mulut.

Gaya penggambaran manusia seperti itu identik dengan yang terdapat pada Gua Kemang atau Gua Umang Sembahe di Deli Serdang, yang memiliki dua relief manusia bergaya primitif pada dinding-dindingnya dan kini bahkan menjadi salah satu objek wisata sejarah dan budaya di Sumatera Utara. Pada gua yang masih ada di Tanjung Pulo, tidak ada pahatan relief apa pun. Yang terlihat di bagian depan hanya takikan-takikan yang tidak beraturan, dan para peneliti menyatakan terbuka bahwa maksud khusus profil itu belum diketahui.

Ukurannya tetap dicatat. Gua yang masih ada memiliki panjang 550 sentimeter dan tinggi 280 sentimeter, dengan lubang pintu berukuran 50 kali 50 sentimeter serta ruangan dalam yang tercatat selebar 140 sentimeter dan setinggi 75 sentimeter. Langit-langitnya dibuat melengkung. Di tepi lubang masuk tampak pelipit yang menjorok ke dalam, indikasi bahwa pintu itu dahulu memiliki penutup, mungkin dari papan kayu. Gua Kemang Sembahe memiliki model lubang masuk yang persis sama, lengkap dengan dudukan papan penutupnya.

Dua motif pada gua yang hilang dibaca dengan dua rujukan berbeda. Motif manusia disandingkan dengan seni relief anthropomorphic yang menurut Soejono, sebagaimana dikutip Sumiati, banyak terdapat pada dinding wadah kubur seperti pandhusa, sarkofagus, dan waruga, juga pada dinding gua di Papua, Pulau Seram, dan Pulau Kei — lambang yang dianggap mengandung kekuatan supranatural dan bertujuan menolak bala. Motif perahu disandingkan dengan pendapat Manguin bahwa penutur bahasa Austronesia memakai perahu sebagai sarana menyeberang ke dunia arwah.

Baca juga Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga

Dari dua rujukan itu kesimpulan arkeologisnya disusun dengan hati-hati. “Dimensi Gua Umang tidak cocok sebagai tempat tinggal, namun sesuai jika digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah ataupun sebagai bangunan penguburan kedua (sekunder),” tulis Dyah Hidayayati bersama Hidayat dan Bakhrul Khair Amal. Dugaan itu bersandar pada tradisi penguburan kedua yang pernah berkembang di kalangan masyarakat Karo sebelum masuknya agama, sebagaimana dicatat Wiradnyana, bukan pada temuan rangka atau bekal kubur di dalam ruangan sempit tersebut.

Umang di Karo, Uhang Pandak di Kerinci

Pembacaan kedua berangkat dari nama objeknya sendiri. Masyarakat Karo mengenal umang sebagai makhluk supranatural berciri fisik seperti manusia namun berpostur lebih kecil dan pendek, dan sesekali mereka juga menyebutnya bunian. Perbedaan utamanya, menurut masyarakat setempat, terletak pada kaki: telapaknya terbalik, tumit berada di depan dan jari-jemari di bagian belakang. Makhluk serupa dikenal di wilayah tetangga dengan sebutan yang berbeda tipis — homin di Simalungun, homang di kalangan masyarakat Batak.

Ciri kaki terbalik itu muncul pula jauh di luar Tanah Karo. Masyarakat Kerinci mengenal uhang pandak dengan penggambaran yang nyaris sama, sementara masyarakat Alahan Panjang mengenal urang bunian yang sesekali menampakkan diri dalam wujud manusia berparas rupawan. Pada kasus uhang pandak, peneliti Inggris Gebi Martir dan Jeremy Holden pernah menelitinya; sepanjang 1994 hingga 1998 Gebi Martir menyatakan melihatnya langsung di beberapa lokasi, namun berpendapat makhluk itu sejenis satwa langka berbentuk seperti orang utan. Masyarakat tetap meyakininya makhluk gaib.

Di Karo sendiri, umang dikenal sebagai makhluk berkesan positif yang dapat berubah menjadi negatif karena ulah manusia. Salah satu kisah menceritakan seorang lelaki yang ladangnya dibersihkan makhluk kerdil berjari kaki terbalik, dengan syarat ia tidak membawa wanita maupun orang yang baru melahirkan ke lokasi itu. Ketika istrinya yang baru melahirkan datang dengan gusar, syarat itu terlanggar, dan lahan sawah kembali dipenuhi semak belukar seperti sebelum dikerjakan oleh makhluk tersebut.

Wawancara di Tanjung Pulo menemukan bahwa kelompok masyarakat berusia 40 tahun ke atas merupakan ambang batas penyebaran folklor umang yang masih intensif. Setelah itu cerita umang mulai memudar, meski tidak benar-benar hilang. Saat generasi tersebut masih kanak-kanak, lokasi dekat Gua Umang dianggap angker dan orangtua kerap melarang anaknya bermain di sana, padahal Sungai Biak Taren ketika itu masih menjadi sumber air utama untuk mandi, mencuci, dan mengambil air bersih.

Baca juga Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi

Rumah Makhluk Halus atau Bangunan Kubur

Jarak antara dua pembacaan itu terlihat paling terang pada satu kalimat laporan tersebut. “Masyarakat Tanjung Pulo, khususnya beberapa dekade terakhir, masih menganggap Gua Umang sebagai rumah bagi umang,” tulis ketiga peneliti. Mereka sama sekali tidak menganggap struktur itu berfungsi sebagai kuburan, padahal dalam adat-istiadatnya masyarakat Karo masih mengenal geritten, bangunan kayu berbentuk miniatur rumah adat yang dipakai untuk menyimpan tulang-belulang orang yang telah meninggal dunia. Perbedaannya terletak pada bahan dan letak: geritten dibuat dari kayu dan diletakkan di perkampungan tradisional, sedangkan Gua Umang dipahat pada batu di lokasi yang lebih terpencil dan umumnya berdekatan dengan aliran sungai. Perbedaan periode dan konteks penggunaan itulah yang tampaknya membuat masyarakat tidak menganggap keduanya memiliki fungsi yang sama.

Penjelasan yang mereka tawarkan bersifat kemungkinan, bukan kepastian. Masyarakat yang kini mengenal folklor umang mungkin saja bukan masyarakat pendukung budaya Gua Umang itu sendiri, dan keduanya kemungkinan berada pada periode yang berbeda. Mata rantai budaya dapat terputus karena masuknya unsur baru, di antaranya unsur religi, atau karena satu komunitas meninggalkan jejaknya di suatu tempat lalu komunitas lain bermukim di sana dengan pandangan yang berbeda terhadap jejak tersebut.

Batas penelitian ini perlu dinyatakan terang. Penelitian mendalam terhadap Gua Umang yang menghasilkan data akurat mengenai prosesi penguburan belum pernah dilakukan, sehingga dugaan fungsi kubur bersandar pada studi komparatif terhadap tinggalan sejenis di Nusantara, bukan pada penggalian. Keterkaitan langsung antara objek arkeologi dan folklornya pun, diakui para peneliti, tidak selalu dapat dipastikan. Datanya berasal dari satu desa, wawancaranya informal, dan objek pembanding yang paling kaya relief sudah lenyap dari lapangan.

Yang tersisa justru dinamika di permukaan. Gua Umang Tanjung Pulo sempat hilang dari ingatan warga, lalu kembali menarik perhatian setelah munculnya konten Youtube pada 2018 yang mengisahkan keberadaannya di areal kebun penduduk. Pada saat bersamaan folklornya tetap bekerja: ketika seorang wisatawan asing hilang di lokasi Gunung Sibayak dan ditemukan dalam keadaan sedikit linglung, sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa wisatawan tersebut diculik oleh umang.

Pada akhirnya laporan itu tidak memenangkan salah satu sisi. Arkeolog memiliki relief perahu dan sosok manusia, ruangan yang terlalu sempit untuk ditinggali manusia hidup, serta tradisi penguburan kedua yang tercatat dalam pustaka. Masyarakat memiliki cerita yang diwariskan secara lisan lintas generasi, nama yang telanjur melekat pada objeknya, dan pengalaman yang mereka yakini nyata. Keduanya membaca dinding batu di tepi Sungai Biak Taren, dan salah satu dinding itu kini sudah tidak ada.

Baca Juga

Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara
Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Ilustrasi saung bambu di tepi ladang huma pada malam hari.
Semalam di Huma Baduy, Mendengarkan Carita Pantun
Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia.
Doenia Baroe 1930 dan Suara Perempuan Peranakan
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno