Cekricek.id — Bangkai kapal di dasar laut hampir selalu dibayangkan sebagai sisa sebuah pertempuran, sebagai lambung yang dirobek torpedo atau dihujani peluru dari udara, lalu turun perlahan sambil membawa serta orang-orang yang tidak sempat naik ke dek. Namun bangkai besi yang berbaring di dasar Teluk Tahuna, Kepulauan Sangihe, menolak dibaca dengan cara semudah itu. Sultan Kurnia dari Graduate School of Humanities and Social Sciences, Program TAOYAKA, Hiroshima University, bersama Muslim D.K. Dhony, Fairus Azis, Muhamad Destrianto, dan Fuad Anshory yang seluruhnya alumnus Arkeologi Universitas Gadjah Mada, justru sampai pada dugaan yang jauh lebih janggal: kapal itu kemungkinan besar ditenggelamkan dengan sengaja, dalam keadaan tenang, ketika sedang bersandar di pelabuhan.
Kajian mereka terbit dengan judul Situs Kapal Karam Jepang Masa Perang Pasifik Teluk Tahuna Kepulauan Sangihe di jurnal Kapata Arkeologi Vol. 18, halaman 16–28, tahun terbit 2025, dan tersedia daring sejak 28 November 2025. Datanya sendiri jauh lebih tua daripada tanggal terbitnya, dikumpulkan pada 25 April hingga 10 Mei 2017 oleh Tim UGM Maritime Culture Expedition melalui delapan kali penyelaman SCUBA, dua kali sehari selama empat hari, ditambah wawancara, diskusi kelompok terarah bersama nelayan, pemandu selam, dan budayawan, serta perwakilan dinas kelautan dan balai arkeologi, ditambah penelusuran pustaka. Setiap penyelaman dikerjakan empat sampai lima orang: seorang dive master, seorang pemandu lokal, dan tiga mahasiswa arkeologi berkualifikasi advance.
Sebuah Bangkai yang Tidak Menunjukkan Tanda Pertempuran
Perairan ini memang punya alasan untuk menyimpan besi tua. Merujuk Ulaen, para penulis mencatat Kepulauan Sangihe dan pulau-pulau lain di Nusa Utara seperti Talaud dan Siau telah menjadi perlintasan kapal asing sejak abad ke-15 Masehi, dan rombongan ekspedisi Ferdinand Magellan yang dipimpin Elcano pada 1521 tercatat melewati jalur itu dalam catatan perjalanan Pigafetta. Empat abad kemudian, ketika Perang Pasifik berkecamuk antara Sekutu dan Jepang sepanjang 1941 hingga 1945, perairan Sangihe dan Talaud disebut Kaunang ibarat jembatan utama yang dilalui armada kedua belah pihak, pintu masuk dari dan ke Samudera Pasifik.
Kapal yang menjadi pusat kajian ini berbaring hanya sekitar dua puluh meter dari Pelabuhan Tua Tahuna, ditandai bui merah di permukaan. Hasil penyelaman dan pemindaian sonar menunjukkan bagian buritan berada di kedalaman sekitar 18 meter dan haluan di sekitar 25 meter, dengan jarak pandang bawah air antara 10 dan 15 meter serta arus yang tenang. Komponennya masih hampir lengkap: daun kemudi, ruang kemudi mesin, tiang, baling-baling, dan palka. Terumbu karang telah menutup sebagian besar lambung sehingga menyulitkan identifikasi detail, tetapi ujung buritan yang berbentuk setengah lingkaran dan daun kemudi di bagian belakang-bawahnya masih terbaca utuh.
Justru pada kerusakannya persoalan menjadi menarik. Dinding kanan dan kiri lambung berlubang dalam berbagai ukuran, mulai sekitar 10 sentimeter hingga 150 sentimeter, sementara di dasar laut dekat haluan berserakan bongkahan besi yang bahannya serupa dengan konstruksi kapal. Herjunes, seorang pemandu selam di Kota Tahuna, menduga lubang-lubang itu bekas bom dan tembakan pesawat tempur lawan pada masa Perang Pasifik, meski ia sendiri pernah mendengar dari penyelam senior bahwa bagian yang rusak sengaja dipotong penjual besi tua. Para penulis membaca hal yang berbeda: tidak ditemukan kerusakan besar khas serangan dari luar seperti torpedo kapal selam, dan robekan pada dinding kapal justru mengarah keluar.
Baca juga Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga
Nama yang Terbaca dari Kaca Sebuah Lampu
Identitas kapal ini tidak diperoleh dari lambungnya, melainkan dari dua bola lampu yang tergeletak di dalam ruang mesin. Sonjaya dan kawan-kawan melaporkan temuan itu pada pengumpulan data 2018, lengkap dengan aksara kanji yang terbaca sebagai Gyosen-yo dan berarti “untuk kapal nelayan”. Para penulis artikel ini menambahkan pembacaan lapis kedua pada lingkaran yang lebih kecil di bagian dalam: aksara katakana yang dibaca Matsuda atau Mazda, sebuah merek dagang lampu yang diproduksi beberapa perusahaan berbeda, salah satunya Toshiba. Menurut laman NYK Maritime Museum yang mereka rujuk, lampu merek itu populer di berbagai lapisan masyarakat Jepang, termasuk industri pelayaran tangkap ikan, sejak era Taisho hingga era Showa.
Rentang yang ditawarkan lampu itu longgar, dan di situlah persoalannya. Era Taisho berlangsung 1912 hingga 1926 dan era Showa 1926 hingga 1989, sehingga bola lampu semacam ini bisa saja terpasang jauh sebelum maupun jauh sesudah perang. Yang mempersempitnya adalah mesin. Sonjaya dan kawan-kawan menaksir kapal ini bermesin diesel, jenis yang lazim dipakai kapal tangkap ikan pada era 1930 hingga 1950-an, dan menyimpulkan bangkai di Teluk Tahuna adalah kapal tangkap ikan yang banyak digunakan nelayan Jepang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua perkiraan itu bertemu di paruh pertama abad ke-20.
Destrianto, salah satu penulis artikel ini, menempatkan kapal tersebut pada jalur yang sedikit berbeda. Merujuk klasifikasi kapal dagang Jepang yang disusun Division of Naval Intelligence pada 1945, ia memasukkannya ke kelompok Sugar Charlie Sugar, yang dikenal pula sebagai Steel Sea Truck: kapal angkutan barang berkapasitas sekitar 100 sampai 400 gross tonnage dengan desain engines-aft, mesin ditaruh di bagian belakang demi efisiensi konstruksi dan pengoperasian selama masa perang. Kapal semacam itu semula dirancang mengangkut hasil bumi seperti kopra dan minyak kelapa, komoditas utama Kepulauan Sangihe, lalu dimodifikasi menjadi kapal logistik ketika kebutuhan militer meningkat.
Pembandingnya justru berada di luar Indonesia. Bentuk dan ukuran kapal Teluk Tahuna disebut mirip dengan Nanshin Maru, kapal karam Jepang di perairan Pulau Sangat, Filipina, yang panjangnya sekitar 45 meter menurut keterangan Sangat Island Dive Resort. Namun sejarah dan identitas Nanshin Maru sendiri belum terungkap jelas hingga kini, sehingga perbandingan ini menautkan satu bangkai yang belum bernama pada bangkai lain yang juga belum bernama. Di perairan Indonesia, data yang dikumpulkan Sudaryadi dari berbagai arsip daring menyebut sekitar 175 kapal Jepang karam, 44 di antaranya kapal angkatan laut dan 131 sisanya kapal niaga.
Baca juga Traktat 1871, Hikayat Perang Sabil, dan Tiga Dasawarsa Perang Aceh
Selisih yang Tidak Sepele di Dasar Teluk
Bahkan panjang kapal ini pun belum disepakati. Sonjaya dan kawan-kawan mencatat panjang sekitar 27 meter, lebar badan kapal 7 meter, dan tinggi haluan dari dasar laut 5 meter. Tim penulis artikel ini, yang mengukur pada 2017 dengan menyisir seluruh badan kapal dari ujung buritan ke ujung haluan sambil membentangkan meteran dalam posisi lurus, memperoleh panjang sekitar 40 meter dengan lebar dan tinggi yang sama. Pengukuran itu mereka ulang dua kali dengan hasil serupa, dan setiap pengukuran dikerjakan lebih dari satu anggota tim lalu dicocokkan untuk menekan bias observasi. Selisihnya, menurut mereka, muncul karena pengukuran sebelumnya hanya menjangkau sebagian kecil konstruksi kapal.
Di situlah persoalan yang lebih besar mengintip. Kalau ukuran sebuah objek sebesar kapal saja masih bergerak belasan meter di antara dua tim peneliti, maka pertanyaan tentang bagaimana kapal itu tenggelam berdiri di atas tanah yang jauh lebih goyah. Para penulis tetap mengajukan hipotesisnya secara terbuka. “Berdasarkan data yang tersedia, terdapat indikasi kuat bahwa kapal ini sengaja ditenggelamkan saat berlabuh di Teluk Tahuna,” tulis mereka, dengan alasan lokasi bangkai yang persis berada di Pelabuhan Tua Tahuna serta tidak adanya kerusakan besar yang biasanya ditimbulkan serangan dari luar.
Siapa yang menenggelamkannya tetap terbuka. Sonjaya dan kawan-kawan menduga tentara Sekutu melakukannya agar kapal tidak dapat dimanfaatkan kembali oleh pihak Jepang apabila mereka melancarkan serangan balasan. Namun para penulis menyodorkan kemungkinan sebaliknya, bahwa pihak Jepang sendiri yang menenggelamkan kapalnya sebagai langkah preventif, sejalan dengan catatan dalam Reports of General MacArthur yang menyebut tentara Jepang kerap menghancurkan perlengkapan, peralatan perang, hingga dokumen penting mereka agar tidak dipakai Sekutu. Taktik bumi hangus semacam itu bukan hal asing dalam sejarah militer. Setelah Jepang kalah pada 1945, tentara Jepang di Sangihe yang masih hidup ditangkap dan ditawan Sekutu, dan sebuah foto Australian War Memorial memperlihatkan mereka berada persis di Pelabuhan Tua, tidak jauh dari titik kapal itu berbaring.
Warisan yang Dijaga oleh Sebuah Politeknik
Yang paling hidup dari bangkai ini justru bukan sejarahnya, melainkan pemanfaatannya. Sejak dekade 2010-an Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe mempromosikan situs ini sebagai objek wisata selam unggulan lewat program Festival Sangihe, yang memadukan wisata selam dengan wisata budaya dan kuliner serta menggandeng beberapa perusahaan kapal pesiar untuk mendatangkan turis asing. Data statistik daerah mencatat 33.875 wisatawan di Sangihe sepanjang 2017, terdiri atas 31.765 wisatawan domestik dan 2.110 wisatawan asing. Namun Herjunes menyebut jumlah penyelam justru menurun setelah Festival Sangihe tidak lagi digelar mulai 2017, sementara data pasti jumlah penyelam di kapal karam Tahuna setiap tahun belum tersedia.
Yang tersisa kemudian adalah infrastruktur berskala kecil. Dive center yang masih beroperasi tinggal satu, dikelola Politeknik Nusa Utara, dengan tarif sewa satu paket peralatan selam berupa fin, mask, snorkel, BCD, satu tabung selam, dan belt sebesar Rp350.000 per hari per orang, tambahan tabung Rp50.000, serta jasa pemandu Rp250.000 per hari. Pada 2019 tercatat sekitar 50 penyelam bersertifikat di Sangihe, terdiri atas 32 penyelam pemula, 15 penyelam bersertifikat advance, dan 3 penyelam bersertifikat rescue. Herjunes sendiri memandu 40 penyelam lokal dan 15 penyelam mancanegara sepanjang Januari hingga Mei 2019, dan berencana membuka dive center sendiri dari penghasilannya.
Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik
Pelestariannya pun berjalan dengan cara yang sangat lokal. Herjunes bersama Politeknik Nusa Utara dan anggota polisi di Sangihe mengembangkan taman bawah air di sekitar bangkai kapal, menanam terumbu karang buatan serta menenggelamkan sepeda dan barang bekas lain sebagai media tumbuh karang, sekaligus melakukan pengawasan untuk mencegah pencurian besi kapal oleh penjual besi tua. Para penulis menilai upaya yang masih terbatas ini sejalan dengan prinsip perlindungan warisan budaya bawah air sebagaimana dianjurkan UNESCO Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage 2001. Sebagian daya tarik situs ini memang datang dari kemudahannya: bagian atas kapal berada di kedalaman 18 meter sehingga dapat diselami penyelam pemula sesuai aturan selam rekreasi, dan lokasinya paling mudah dijangkau dari pusat kota dibanding spot selam Sangihe lainnya.
Kekuatan kajian ini justru terletak pada apa yang tidak diklaimnya. Seluruh data lapangan berasal dari satu situs dan satu musim kerja pada 2017, identitas kapal disusun secara tidak langsung lewat perbandingan bentuk, ukuran, dan aksara pada dua bola lampu, sedangkan hipotesis penenggelaman yang disengaja diakui masih memerlukan analisis forensik lanjutan untuk memperoleh konfirmasi yang lebih definitif. Soal dampak ekonominya, para penulis menuliskannya terang-terangan: “Pada penelitian ini, penulis mengakui bahwa keterangan tentang dampak ekonomi dan upaya pengelolaan situs kapal karam ini hanya bersumber pada seorang Herjunes sebagai seorang pemandu selam, hasil FGD dan observasi penulis selama 2 minggu penelitian di sana.”
Maka yang tersisa dari dasar Teluk Tahuna adalah sebuah bangkai yang menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kapal itu punya bentuk, punya ukuran, punya merek lampu, punya klasifikasi dagang, bahkan punya pembanding di perairan Filipina, tetapi tidak punya nama, tidak punya tanggal tenggelam, dan tidak punya keterangan tentang tangan yang memicu ledakan di dalam lambungnya. Kalau kapal itu memang dikaramkan oleh pihaknya sendiri, pada hari apa keputusan itu diambil, dan apakah bangkai-bangkai Jepang lain yang berbaring di perairan dangkal Bali, Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, Ambon, dan Talaud menyimpan pola robekan yang sama?
















