Saudi Kaji Perluasan Petroline 2 Juta Barel per Hari

Saudi Kaji Perluasan Petroline 2 Juta Barel per Hari

Pemandangan udara kapal-kapal yang melintasi perairan Selat Hormuz saat matahari terbit. [Foto: Reuters]

Cekricek.id — Arab Saudi tengah mengkaji perluasan pipa minyak lintas daratan Petroline dengan tambahan kapasitas hingga dua juta barel per hari. Rencana itu mengemuka saat serangan terhadap kapal niaga membuat Selat Hormuz makin tidak dapat diandalkan sebagai urat nadi ekspor energi dunia.

Petroline, yang resmi bernama East-West Crude Oil Pipeline, membentang hampir 1.200 kilometer dari ladang minyak di Provinsi Timur menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Kapasitas terpasangnya saat ini tujuh juta barel per hari, menurut laporan Arab News, Sabtu (22/08/2026), yang mengutip informasi Reuters soal rencana penambahan tersebut.

Saudi Aramco sempat memacu pipa itu hingga batas maksimum tujuh juta barel per hari pada kuartal pertama 2026, ketika pelayaran di Teluk terganggu. Jaringan itu semula dibangun pada dekade 1980-an, saat Perang Tanker antara Iran dan Irak memaksa Riyadh mencari jalur ekspor yang tidak bergantung pada Selat Hormuz.

Jalan Memutar dari Selat Hormuz

Chief Executive Officer Crystol Energy Carole Nakhle menilai rencana itu tidak bisa dibaca semata sebagai penambahan volume. “Perluasan yang diusulkan ini jauh lebih dari sekadar menambah kapasitas ekspor. Ini adalah investasi pada fleksibilitas strategis,” kata Nakhle.

Baca juga Ekspor Minyak Atsiri RI USD 348,7 Juta, Nilam Jadi Andalan

Ia menjelaskan pipa tersebut memberi Arab Saudi rute ekspor alternatif yang melewati Selat Hormuz, sehingga Riyadh tidak menggantungkan seluruh pengapalannya pada satu titik sempit maritim. Menurut dia, “kapasitas produksi cadangan hanya bernilai terbatas apabila barel-barel itu tidak sampai ke pelanggan”.

Meski begitu, Nakhle mengingatkan agar pasar tidak berlebihan menakar dampaknya. “Perluasan itu jelas akan memperkuat kepercayaan pasar, terutama pada periode ketegangan geopolitik, tetapi kita harus menghindari pembesaran dampaknya,” tutur dia, seraya menambahkan bahwa “diversifikasi menekan risiko, tetapi tidak menghilangkannya”.

Brent Menguat 6,6 Persen dalam Sepekan

Kajian itu berlangsung di tengah reli harga energi. Minyak mentah Brent berada di 94,39 dolar AS per barel pada Jumat (21/08/2026), naik 0,65 persen dalam sehari dan 6,6 persen dalam sepekan, menurut laporan The National, Jumat (21/08/2026).

Baca juga Iran Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Baru

Pada periode yang sama, minyak West Texas Intermediate tercatat 87,06 dolar AS per barel setelah menguat 0,26 persen harian dan 5,7 persen sepekan. Emas ikut terangkat ke 4.603,30 dolar AS per ons, naik 1,53 persen pada Jumat dan 5 persen selama sepekan.

Tekanan pasokan juga terlihat di Amerika Serikat. Cadangan minyak strategis negara itu susut menjadi 293,4 juta barel, level terendah sejak 1982, menurut laporan Anadolu, Jumat (21/08/2026).

Penopang Agenda Visi 2030

Associate Professor Ekonomi Universitas Al-Yamamah Yaseen Ghulam menempatkan Petroline sebagai instrumen ekonomi, bukan sekadar infrastruktur teknis. “Petroline, bagi Arab Saudi, lebih dari sekadar pipa minyak. Ia aset ekonomi yang signifikan dan bisa membantu negara ini beradaptasi dengan pasar energi global yang terus berubah,” ujar Ghulam.

Baca juga Ukur Tanah di 446 Kantor Pertanahan Maksimal 12 Hari

Ia menambahkan, “Pendekatan ini juga meredam risiko menghadapi tantangan politik di Selat Hormuz. Hal itu menyumbang pada reputasi Kerajaan sebagai pemasok yang andal. Keunggulan ini sangat berharga bagi ekonomi dan masyarakat.”

Ghulam juga membuka kemungkinan pipa tersebut dipakai bersama negara-negara Teluk. “Infrastruktur ekspor bersama lebih mungkin memperbaiki keamanan energi kawasan, meredam risiko transportasi, dan memperkuat posisi kolektif GCC sebagai pemasok yang andal bagi pasar global,” sebut dia.

Presiden sekaligus Chief Executive Officer Aramco Amin H. Nasser sebelumnya menyebut pipa lintas timur-barat itu sebagai bagian dari infrastruktur strategis perusahaan, bersama kapasitas penyimpanan dan terminal ekspor, untuk menjaga kesinambungan produksi serta pengapalan di tengah gejolak kawasan.

Nakhle mengingatkan hasil akhirnya tetap ditentukan pasar. “Tambahan kapasitas pipa dengan sendirinya tidak menjamin ekspor yang lebih tinggi; permintaan global, persaingan dari produsen lain, dan kebijakan OPEC+ akan terus membentuk volume ekspor Arab Saudi,” tegas dia.

Baca Juga

Bolivia Pecat Menteri Ekonomi di Tengah Krisis Terburuk
Bolivia Pecat Menteri Ekonomi di Tengah Krisis Terburuk
Harga Emas Tertinggi Tiga Bulan, Perak Tembus US$70
Harga Emas Tertinggi Tiga Bulan, Perak Tembus US$70
Seorang nasabah bank berunjuk rasa di depan kantor bank di Beirut
Bank Dunia: Ekonomi Lebanon Menyusut 6,4 Persen 2026
Kemenkeu: Investasi Rp1.931 Triliun Harus Berdampak Nyata bagi Rakyat
Kemenkeu: Investasi Rp1.931 Triliun Harus Berdampak Nyata bagi Rakyat
BCA Finance: Porsi Kredit Kendaraan Listrik Naik Jadi 15% Sepanjang 2026
BCA Finance: Porsi Kredit Kendaraan Listrik Naik Jadi 15% Sepanjang 2026
Harga Emas Antam Melonjak Rp80.000 per Gram, Tembus Rp2,76 Juta
Harga Emas Antam Melonjak Rp80.000 per Gram, Tembus Rp2,76 Juta