Abdul Rivai

Abdul Rivai

Abdul Rivai. [Foto: Istimewa]

Siapa Abdul Rivai?

Abdul Rivai Adalah dokter bumiputera pertama yang melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda sekaligus pelopor kesadaran nasional yang kelak menginspirasi Radjiman Wedyoningrat dalam membentuk Boedi Oetomo.

Kehidupan

Abdul Rivai lahir di Palembayan, Sumatera Barat pada 13 Agustus 1871. Tumbuh dilingkungan keluarga terpandang membuat Rivai memperoleh pendidikan yang baik di sekolah elite milik pemerintah Hindia Belanda.

Ia dikenal sebagai sosok yang berwatak keras dan ulet. Rivai menempuh pendidikan dokter di STOVIA selama delapan tahun dan lulus pada 1894. Selain menjadi dokter, nama Rivai sangat terkenal dalam dunia pers.

Ia adalah pemrakarsa penerbitan surat kabar berbahasa Melayu, Pewarta Wolanda, ketika sedang menempuh pendidikan di Belanda, kemudian pada 1901 ia menjadi redaktur utama Surat Kabar Bandera Wolanda terbitan Batavia.

Pada 1902 ia menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Bintang Hindia, terbitan Batavia dan selanjutnya ia juga pernah menjadi redaktur dan koresponden Surat Kabar Bintang Timoer.

Penggagas Studiefonds

Dalam bidang lain, ia adalah pengagas pembentukan studiefonds (lembaga donor) untuk membantu pelajar Indonesia yang sedang belajar di Belanda. Selain itu, Rivai dikenal sebagai pelopor pendirian cabang Indische Partij (IP) pertama di Sumatera pada 19 November 1912.

Kemudian pada 1918, Rivai diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Insulinde, angkatan pertama.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi pahatan relief batu candi memperlihatkan pemanah menarik busur
Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga
Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi pertunjukan wayang kulit dengan iringan gamelan pada malam hari
Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa
Ilustrasi tumpukan kain tenun tradisional berlatar permukaan batu prasasti
Dua Kain yang Hanya Boleh Dimiliki Raja pada Masa Mpu Sindok
Ilustrasi arca batu dewa matahari di relung dinding candi
Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan