Bank Emas Kelola 153 Ton Emas Senilai Rp360 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. [Foto: Kemenko Perekonomian]

Cekricek.id — Program Bank Emas yang dikelola PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) telah menghimpun 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun atau sekitar USD20 miliar. Angka itu diumumkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian lewat siaran pers bernomor HM.02.04/267/SET.M.EKON.3/08/2026 yang diterbitkan di Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026, dikutip dari ekon.go.id.

Penghimpunan emas itu ditempatkan pemerintah sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sumber daya alam, sejajar dengan optimalisasi devisa hasil ekspor dan percepatan hilirisasi. Kebijakan tersebut berjalan di tengah kondisi domestik yang, menurut siaran pers itu, masih tumbuh 5,45 persen pada Semester I-2026 dengan inflasi terjaga di angka 2,88 persen.

Baca juga: Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI

“Pemerintah terus memastikan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan prioritas. Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas,” ungkap Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Danantara Kelola Devisa Ekspor USD14 Miliar

Di jalur yang sama, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) disebut telah mengelola devisa hasil ekspor (DHE) sebesar USD14 miliar dari tiga komoditas strategis. Capaian itu dibukukan dalam 2 bulan 13 hari masa operasional perusahaan tersebut.

Selama periode itu, DSI juga memonitor lebih dari 6.500 transaksi ekspor. Pemantauan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola sekaligus mencegah praktik under invoicing maupun transfer pricing, dua modus yang membuat nilai ekspor yang dilaporkan lebih rendah daripada nilai sebenarnya sehingga devisa yang kembali ke dalam negeri menyusut.

Laba BUMN Naik 75,3 Persen, 290 Perusahaan Ditutup

Baca juga: Ekspor Minyak Atsiri RI USD 348,7 Juta, Nilam Jadi Andalan

Haryo Limanseto memaparkan bahwa dari total 1.074 BUMN termasuk anak dan cucu usaha, sebanyak 290 di antaranya telah ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah maksimum BUMN dipangkas hingga tinggal 300 perusahaan.

Seiring perampingan itu, laba BUMN tercatat naik dari Rp186 triliun pada 2024 menjadi Rp326 triliun pada 2025, atau tumbuh 75,3 persen. Transformasi kelembagaan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional.

26 Proyek Hilirisasi dan Agenda Transformasi 2027

Pada sisi industri, pemerintah mencatat sudah melakukan groundbreaking 26 proyek hilirisasi hingga 2026. Proyek-proyek itu mencakup pengolahan batu bara menjadi DME atau dimetil eter, hilirisasi tembaga dan emas, garam industri, pengolahan alumina menjadi aluminium, hingga pengolahan sampah menjadi energi. Pemerintah memproyeksikan proyek tersebut menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Baca juga: Airlangga: Investasi Semester I 2026 Tumbuh 7,2 Persen

Memasuki 2027, Kemenko Perekonomian menyiapkan sepuluh agenda transformasi yang mencakup renovasi 10.000 Puskesmas, pembangunan dan revitalisasi 441 RSUD, renovasi sekolah, pembentukan Bursa Komoditas Indonesia, optimalisasi aset BUMN, pengembangan energi surya 100 gigawatt, Pusat Finansial Internasional Indonesia di Bali, Danantara Development Management Fund, elektrifikasi mobilitas rakyat, serta kebijakan dwi-kewarganegaraan.

Seluruh agenda itu disebut diarahkan untuk memperkuat mesin pertumbuhan lewat transformasi sisi penawaran dan peningkatan sektor bernilai tambah tinggi. Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menuju 8 persen dengan dukungan investasi, industri, dan produktivitas.

“Berbagai agenda transformasi yang disiapkan untuk 2027 merupakan bagian dari upaya Pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Melalui penguatan sektor strategis dan peningkatan daya saing, Pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi semakin tinggi sekaligus semakin inklusif,” pungkas Haryo Limanseto.

Baca Juga

Ilustrasi toko perkakas dan bahan bangunan
Penjualan Lowe’s 26 Miliar Dolar AS, Belanja DIY Lesu
Ilustrasi konsumen berbelanja kebutuhan pokok di ritel modern
Inflasi Inggris Naik ke 2,9 Persen Dipicu Lonjakan Gas
Ilustrasi dokumen dan penghitungan pajak
Gempa NTT, Layanan Pajak Ende Pindah ke Halaman Rumah Arsip
Ilustrasi minyak atsiri
Ekspor Minyak Atsiri RI USD 348,7 Juta, Nilam Jadi Andalan
Airlangga Hartarto di Industrial Summit dan ICMEM 2026
Airlangga: Investasi Semester I 2026 Tumbuh 7,2 Persen
Donald Trump dan Mark Carney
AS Tunda Tarif 50 Persen atas Kanada Selama Tiga Hari