Rumah Suku Moronene Dibagi Tiga seperti Kepala, Badan, dan Kaki

A A

Ilustrasi tiga rumah panggung kayu warga di Desa Morengke, Bombana, Sulawesi Tenggara [Foto: Wadaihangit/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sama seperti pembagian mendatar, tiga lapis ini ditemukan pada semua rumah.
  • Mereka lebih dulu disambut dan diterima secara adat oleh keluarga pengantin pria di patande.
  • Kolong ini memisahkan ruang utama dari tanah, yang dalam kepercayaan orang Moronene dianggap kurang suci.
  • Menurut para informan, di mana pun letaknya, dapura tetap dianggap bagian belakang rumah.
  • Suku Moronene tersebar di tiga wilayah, yaitu Rumbia, Poleang, dan Kabaena, sedangkan seluruh informan berasal dari wilayah Rumbia.
Daftar Isi
  1. Dari depan ke belakang: serambi, rumah inti, dapur
  2. Dari atas ke bawah: kepala, badan, kaki
  3. Patande, serambi yang menunggu pengantin perempuan
  4. Dapura, dapur yang memandikan jenazah
  5. Yang bertahan di sepuluh rumah
  6. Yang belum terjawab dari naskah

Tubuh manusia dan sebuah rumah berkolong di pedalaman sabana Rawa Aopa dibaca dengan cara yang sama oleh orang Moronene: ada kepala, ada badan, ada kaki. Rumah itu juga dibagi sekali lagi, kali ini dari depan ke belakang, menjadi serambi, rumah inti, dan dapur. Dua pembagian itu ditemukan berulang pada sepuluh rumah di Kampo Laea Hukaea, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Temuan tersebut ditulis Adriyawan Jarsul Hamasi dan T. Yoyok Wahyu Subroto dalam artikel Sistem Pembentuk Struktur Ruang Rumah Masyarakat Adat Suku Moronene Kampo Laea Hukaea Sulawesi Tenggara, yang terbit di jurnal Arsir volume 9 nomor 2 tahun 2025. Keduanya berasal dari Departemen Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Sepuluh rumah yang mereka datangi sepanjang Februari sampai Agustus 2024 adalah milik warga yang sekaligus menjadi informan.

Kampo Laea Hukaea adalah perkampungan adat suku Moronene di Kecamatan Lantari Jaya. Letaknya di pedalaman, dan untuk mencapainya orang perlu berjalan sekitar tiga puluh menit memasuki hutan. Wilayah adatnya seluas 26.275,32 hektare. Di sana, menurut warga setempat, rumah tinggal yang kualitasnya masih asli tersisa 25 persen dari seluruh rumah, kira-kira satu dari empat.

Dari depan ke belakang: serambi, rumah inti, dapur

Pembagian pertama berjalan mendatar. Orang yang datang dari luar lebih dulu menjumpai patande, ruang kecil tanpa dinding yang ditutupi atap di bagian paling depan. Dalam bahasa setempat, bagian ini termasuk laica irai atau rumah depan. Sesudah patande barulah orang masuk ke botono, yang disebut botono laica atau rumah inti.

Botono terletak di tengah dan menampung tiga ruang. Ada luaran toka untuk menerima tamu, luaran petila untuk berkumpulnya anggota keluarga, dan suo untuk tidur dan beristirahat. Ketiganya dipisahkan pembatas bernama torici yang tidak permanen dan bisa dilepas kapan saja. Dari semua ruang di botono, luaran toka adalah yang pertama dimasuki.

Bagian ketiga adalah dapura, dapur tempat pemilik rumah memasak dan menyiapkan makanan. Ruang ini hanya bisa dicapai setelah orang melewati patande lalu botono. Orang Moronene memasukkannya ke dalam laica ibungku atau rumah belakang. Urutan tiga bagian itu, tulis kedua peneliti, muncul di seluruh rumah yang mereka periksa dengan posisi yang selalu sama.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Dari atas ke bawah: kepala, badan, kaki

Pembagian kedua berjalan tegak. Di bagian paling atas selalu ada pea, di tengah ada botono, dan di bagian paling bawah ada tonto atau kolong. Sama seperti pembagian mendatar, tiga lapis ini ditemukan pada semua rumah. Bedanya, tiap lapis dipercaya mewakili satu bagian tubuh manusia.

Pea adalah cerminan kepala. “Dalam kebudayaan masyarakat suku Moronene ruang pea dianggap sebagai bagian yang paling suci dalam rumah,” tulis Adriyawan Jarsul Hamasi dan T. Yoyok Wahyu Subroto dalam naskah mereka. Di bagian rangkuman, keduanya menambahkan bahwa pea dulunya menjadi tempat untuk anak perempuan.

Botono, yang pada pembagian mendatar menjadi rumah inti, pada pembagian tegak mewakili badan. Di lapis inilah seluruh kegiatan sehari-hari berlangsung, tempat penghuni saling berjumpa dan hubungan antaranggota keluarga dipererat. Botono dengan demikian menjadi satu-satunya ruang yang hadir di kedua pembagian, dan di keduanya ia berada di tengah.

Tonto mewakili kaki. Kolong ini memisahkan ruang utama dari tanah, yang dalam kepercayaan orang Moronene dianggap kurang suci. Kedua peneliti mencatat bahwa tonto dipercaya menjaga stabilitas bangunan dan melindungi rumah dari pengaruh luar yang dianggap kurang suci. Susunan tiga lapis itu mereka nilai sesuai dengan ciri rumah bercorak Austronesia yang dikemukakan Waterson.

Satu rumah, dua cara membaginyaMendatar: patande, botono, dapura. Tegak: pea, botono, tonto.Satu rumah, dua cara membaginyaSusunan ruang rumah suku Moronene di Kampo Laea HukaeaMendatarTegakPatandePeaBagian pertamaDepanAtasLetaknyaBotonoBotonoBagian tengahDapuraTontoBagian akhirBelakangBawahLetaknyaTegak: pea melambangkan kepala, botono badan, tonto kaki.
Sumber: Adriyawan Jarsul Hamasi dan T. Yoyok Wahyu Subroto, Sistem Pembentuk Struktur Ruang Rumah Masyarakat Adat Suku Moronene Kampo Laea Hukaea Sulawesi Tenggara, Arsir, 9(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Patande, serambi yang menunggu pengantin perempuan

Patande punya tugas adat yang khusus. Dalam pernikahan, yang disebut kawi’a, ada prosesi bernama meparamesi. Pengantin perempuan beserta keluarganya tidak langsung masuk ke rumah tempat pernikahan berlangsung. Mereka lebih dulu disambut dan diterima secara adat oleh keluarga pengantin pria di patande.

Di luar hari pernikahan, serambi itu dipakai untuk urusan sosial. Tamu yang hubungan kekerabatannya jauh dari pemilik rumah diterima di patande sebelum dipersilakan masuk ke botono. Karena menampung kegiatan adat sekaligus pergaulan sehari-hari, patande dinilai kedua peneliti sebagai salah satu ruang penting bagi orang Moronene di kampung itu.

Kaitan serambi dengan pengantin perempuan terlihat dari rumah yang tidak memilikinya. Anton R., pemilik rumah yang diberi kode L7, tidak membangun patande karena tidak punya anak perempuan yang akan menjalani adat pernikahan. Sabir, pemilik rumah L3, memberi alasan yang sama. Keduanya menganggap ruang itu belum diperlukan.

Meski begitu, tempatnya tidak dibiarkan kosong. Di rumah Sabir, kedudukan patande secara simbolis digantikan tempat duduk di bawah pohon yang disebut totoroa. Di rumah Anton R., penggantinya adalah warung atau waru. Pada rumah-rumah lain, patande pernah ada tetapi banyak yang sudah rusak termakan usia. Kini ia hanya bertahan di rumah Sudirman, Ode Irawan S., dan Kamarudin.

Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera

Dapura, dapur yang memandikan jenazah

Di sisi lain rumah, dapura memikul tugas adat yang berbeda. Selain tempat memasak, kedua peneliti menemukan bahwa dapur menjadi tempat kegiatan yang dianggap sakral. Jenazah dimandikan di sini. Kegiatan itu merupakan salah satu tahapan dalam adat mate’a, upacara kematian orang Moronene.

Dapura juga menjadi tempat menyiapkan segala kebutuhan untuk setiap kegiatan adat. Pelakunya kaum wanita, yang dalam naskah disebut tina. Pada botono keadaannya berbalik, sebab pelaku kegiatan adat di rumah inti adalah pria. Naskah mencatat kedua hal itu berdampingan tanpa menyebut salah satunya lebih penting.

Letak dapur tidak selalu persis di belakang. Di rumah Sudirman dan Agus S., dapura berada di sisi kanan botono, sedangkan di rumah Ode Irawan S. di sisi kiri. Dapur rumah Muhtadin semula di sisi kiri dan sekarang sudah di belakang. Menurut para informan, di mana pun letaknya, dapura tetap dianggap bagian belakang rumah.

Di antara serambi dan dapur, botono menampung adat yang paling banyak. Di sana berlangsung mosere wuu, yaitu pemotongan rambut bayi yang masih berusia bulanan, dan mobasa-basa, ungkapan syukur setelah mendapat rezeki. Sejumlah tahapan kawi’a juga digelar di rumah inti, termasuk ijab kabul. Semua kegiatan itu mengundang banyak orang.

Adat yang masih digelar di sepuluh rumahMosere wuu (potong rambut bayi): Jumlah rumah +10; Mobasa-basa (syukur rezeki): Jumlah rumah +10; Kawi'a (pernikahan): Jumlah rumah +7; Mate'a (kematian): Jumlah rumah +2.Adat yang masih digelar di sepuluh rumahJumlah rumah yang ditandai pada tiap adat, dari 10 rumah5100Mosere wuu (potong rambut bayi)10Mobasa-basa (syukur rezeki)10Kawi'a (pernikahan)7Mate'a (kematian)2Dihitung dari tanda pada tabel aktivitas kultural dalam naskah.
Sumber: Adriyawan Jarsul Hamasi dan T. Yoyok Wahyu Subroto, Sistem Pembentuk Struktur Ruang Rumah Masyarakat Adat Suku Moronene Kampo Laea Hukaea Sulawesi Tenggara, Arsir, 9(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Yang bertahan di sepuluh rumah

Naskah memuat tabel yang menandai adat apa saja yang berlangsung di tiap rumah. Bila tanda-tanda itu dihitung, mosere wuu dan mobasa-basa tercatat di kesepuluh rumah. Adat kawi’a ditandai pada tujuh rumah, sedangkan mate’a hanya pada dua rumah, yakni milik Bakati dan Sabir. Hitungan ini berasal dari tanda pada tabel, bukan dari angka yang ditulis kedua peneliti.

Rumah-rumah itu sendiri tidak diam. Kedua peneliti mencatat bahwa beberapa di antaranya telah berubah sejak pertama dibangun. Di rumah Sabir yang sekarang, juga di rumah Anton R. dan Kamarudin, bagian dapura memuat suo, ruang untuk tidur. Bahan bangunan pun cenderung bergeser, dari bahan lokal ke bahan buatan pabrik.

Yang tidak berubah adalah urutannya. Menurut kedua peneliti, pendirian rumah dalam kebudayaan Moronene mengikuti tatanan yang secara konsisten masih dipertahankan hingga sekarang. Patande, botono, dan dapura tetap berurutan dari depan ke belakang. Pea, botono, dan tonto tetap bertumpuk dari atas ke bawah. Kekhasan itulah yang mereka sebut sebagai identitas ruang hunian orang Moronene di Kampo Laea Hukaea.

Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

Yang belum terjawab dari naskah

Simpulan itu punya batas yang diakui penulisnya. Suku Moronene tersebar di tiga wilayah, yaitu Rumbia, Poleang, dan Kabaena, sedangkan seluruh informan berasal dari wilayah Rumbia. Kedua peneliti menyebut karya mereka sebagai permulaan dan menyarankan temuannya diuji pada orang Moronene di tempat lain. Mereka juga mengaku terhambat bahasa Moronene dan sulitnya menemukan arsip sejarah.

Beberapa hal dalam naskah patut diperiksa pembaca. Satu kalimat menyatakan seluruh rumah pada awalnya memiliki patande kecuali L7, tetapi rumah L3 kemudian ikut disebut tidak memerlukannya. Keterangan bahwa pea dulunya tempat anak perempuan hanya muncul di rangkuman, tidak di uraian tentang pea. Nomor gambar 10 dan 12 masing-masing dipakai dua kali.

Rumah di Kampo Laea Hukaea, dengan begitu, bisa dibaca dari dua arah yang sama-sama berlaku. Dari depan ke belakang, ia mengatur siapa disambut di mana, dari pengantin perempuan di serambi sampai jenazah di dapur. Dari atas ke bawah, ia berdiri seperti tubuh, dengan kepala, badan, dan kaki. Naskah tidak menempatkan satu pembagian di atas yang lain, dan botono berada di tengah keduanya.

Bagikan

Baca Juga

Orang Siberut Mengenal 452 Tumbuhan, Sagu dan Aileleppet Teratas
Ritual Andingingi, Cara Orang Kajang Mendinginkan Bumi dan Hutan
Dayak Bakumpai Punya Cara Adat Menyudahi Sengketa Lahan Tambang
Pa’a Loka, Cara Orang Lio di Ende Meminta Mata Air Tak Kering
Suku Tidung Hidup dari 60 Tumbuhan, Kayu Ulin Kian Sulit Dicari
Rumah Bantuan di Matotonan Mentawai Langsung Ditambahi Dapur