- Mereka menyimpulkan bahwa Wetu Telu adalah varian Islam Sasak, bukan pecahan yang menyimpang dari agama mayoritas pulau itu.
- Menurut naskah wetu berasal dari kata metu yang berarti muncul atau berasal dari, sedangkan telu berarti tiga.
- Naskah juga tidak menggambarkan komunitas ini sebagai sesuatu yang membeku.
- Sampai sekarang sejumlah studi belum menunjukkan secara tepat kapan istilah Wetu Telu muncul dan siapa yang mencetuskannya.
Daftar Isi
Sebuah nama sering dianggap cukup untuk menjelaskan isinya, seolah orang yang mendengar kata Wetu Telu otomatis tahu apa yang dipercayai dan dijalankan pemeluknya di Lombok. Namun, nama itu justru menjadi sumber salah paham yang panjang, sebab bagi sebagian orang ia berarti tiga waktu ibadah, sementara bagi pemangku adat di Bayan ia berbicara tentang asal-usul kehidupan, dan jarak di antara dua bacaan itu adalah jarak antara vonis dan pemahaman.
Jarak itulah yang ditelusuri Retno Sirnopati dari Institut Agama Islam Qomarul Huda Bagu Paringgata, Lombok Tengah, bersama Abdul Rasyad dan Ahmad Tohri dari Universitas Hamzanwadi, Lombok Timur, dalam artikel Islamic Variant of Sasak: Transition and Dialectics in the Wetu Telu Community in Lombok, Indonesia, yang terbit di Journal of Asian Social Science Research volume 4 nomor 2 tahun 2022. Mereka menyimpulkan bahwa Wetu Telu adalah varian Islam Sasak, bukan pecahan yang menyimpang dari agama mayoritas pulau itu.
Komunitas yang mereka pelajari tersebar di Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, di kawasan Tanjung, serta di sejumlah desa di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, seperti Loloan, Anyar, Akar-Akar, dan Mumbul Sari. Dari sana, ketiganya membaca Wetu Telu dari dua arah sekaligus, yakni dari pandangan orang dalam seperti pemangku adat, tokoh masyarakat, sesepuh, dan warga biasa, serta dari pandangan orang luar yang mewakili komunitas Islam normatif, yang di Lombok disederhanakan dengan sebutan Waktu Lima.
Tiga yang disangka waktu
Bacaan orang luar terdengar sederhana dan karena itu mudah menyebar, yaitu bahwa Wetu Telu adalah mereka yang beribadah tiga kali, dengan tiga ibadah utama berupa salat jenazah, salat Jumat, dan salat Id, sementara semua ibadah itu pun hanya dijalankan kiai, bukan pengikutnya. Naskah tidak menolak mentah-mentah pandangan ini, karena dari kacamata orang yang membandingkannya dengan pemahaman mayoritas Islam ia bisa dimengerti, tetapi komunitas Wetu Telu sendiri tidak sepenuhnya menerimanya ketika keyakinan mereka diringkas sesederhana itu.
Justru sebaliknya, gambaran praktiknya jauh lebih beragam daripada rumus tiga kali. Merujuk catatan Solichin Salam, naskah membagi praktik salat Wetu Telu ke dalam lima golongan, dari yang mengakui salat lima waktu tetapi menyerahkan pelaksanaannya kepada kiai dan pengikutnya, yang hanya salat Zuhur pada hari Jumat, salat dua hari raya, Tarawih, dan salat jenazah, hingga yang salat Asar hanya pada Kamis sore dan Subuh hanya pada Idulfitri.
Golongan kelima barangkali yang paling menarik, karena ukurannya bukan hari melainkan tugas, sebab ketika seorang kiai sedang bertugas sebagai marbot atau penjaga masjid ia salat lima waktu terus-menerus selama tujuh malam, lalu ketika tugas itu selesai ia kembali hanya salat Jumat, Tarawih di bulan puasa, salat Idulfitri, dan salat jenazah. Naskah juga mencatat tiga prinsip utama penganutnya, yaitu taat kepada Allah melalui ajaran guru, taat kepada pemerintah, dan taat kepada orang tua dalam arti yang luas.
Dari metu, bukan dari jam salat
Di situlah persoalannya, sebab bagi para pemangku adat di Bayan, tempat mayoritas komunitas Wetu Telu berada, kata wetu kerap direduksi menjadi istilah waktu dalam arti tempo atau momen, padahal menurut naskah wetu berasal dari kata metu yang berarti muncul atau berasal dari, sedangkan telu berarti tiga. Pergeseran satu huruf itu mengubah seluruh arah tafsir, dari hitungan ibadah menjadi pertanyaan tentang bagaimana segala sesuatu lahir ke dunia.
Mengutip penelitian Erni Budiwanti, naskah menjelaskan bahwa semua makhluk hidup muncul melalui tiga cara berkembang biak, yaitu menganak atau melahirkan seperti manusia dan mamalia, menteluk atau bertelur seperti burung, dan mentiuk atau tumbuh dari biji dan buah seperti padi-padian, sayur, dan buah-buahan. Fokus keyakinan itu, menurut kutipan yang sama, tidak berhenti pada sistem reproduksi, tetapi merujuk pada kuasa Tuhan yang memungkinkan kehidupan berkembang biak dan tumbuh dengan sendirinya melalui mekanisme itu.
Tokoh-tokoh lain yang dicatat naskah menambahkan lapisan berikutnya, yakni keyakinan bahwa semua makhluk harus melewati tiga tahap siklus, menganak atau lahir, urip atau hidup, dan jodoh. Unsur yang paling penting, tulis ketiga penulis, adalah iman kepada Tuhan, Adam, dan Hawa sebagai pusat keyakinan Wetu Telu, dengan Adam mewakili garis ayah dan Hawa garis ibu, sebagaimana diturunkan dari Lontar Layang Ambia.
Lontar itu, menurut naskah, memuat tiga hal, yaitu rahasia atau asma yang mewujud dalam lima indra tubuh manusia, ciptaan Tuhan yang mewujud dalam Adam dan Hawa, serta sifat Tuhan sebagai gabungan lima indra yang berasal dari Tuhan dan delapan organ yang diwarisi dari Adam dan Hawa. Dari sana naskah merangkum empat keyakinan, yakni tiga sistem reproduksi, keseimbangan dunia mikro dan makro, upacara yang menyertai tiap tahap hidup seseorang, dan pengakuan atas Tuhan, Adam, dan Hawa.
Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Kalender yang berputar delapan tahun
Perbedaan itu juga terbaca pada cara menghitung waktu, yang ironisnya justru bukan hitungan tiga. Naskah mencatat awal puasa Ramadan di kalangan Wetu Telu tidak seragam, karena kelompok yang mengikuti kalender Aboge atau Rebo Wage memulai puasa pada hari pertama Ramadan, kelompok yang berpegang pada kalender Kamis Pahing selalu memulainya pada hari kedua, dan kelompok yang mengikuti kalender Jumat Pon selalu memulainya pada hari ketiga.
Kalender Wetu Telu, menurut naskah, berbeda dari kalender kamariah yang lazim dipakai umat Islam karena berdasar pada daur delapan tahun, sistem yang tidak dikenal dalam Islam, dengan urutan tahun Alip, Ehe, Jimawal, Dal, Be, Ce, Wau, dan Jimahir. Tahun Alip menandai perayaan Alip setiap delapan tahun, ketika masyarakat Bayan bergotong royong memperbaiki dinding bambu dan atap makam Reak sebagai pembaruan kompleks makam leluhur mereka.
Di Lingsar, Kecamatan Narmada, praktik keagamaan penganut Wetu Telu bahkan terlihat berbagi pura untuk merayakan hari besar keagamaan, terutama dalam perayaan pujawali yang mencakup ritual perang topat. Naskah menempatkan Wetu Telu sebagai identitas yang melekat pada orang Sasak yang tinggal di beberapa wilayah dan masih memegang adat setempat, seperti Bayan, Tanjung, dan Narmada, sehingga persoalannya tidak bisa dilepaskan dari tempat dan sejarah tempat itu.
Sejarah yang menumpuk di satu pulau
Sejarah itu, menurut naskah, bermula dari Boda, agama asli Lombok yang juga dieja bode, bodo, atau bude, disebut pula Boda Keling, agama leluhur, atau agama Majapahit. Merujuk Alfons van der Kraan, naskah mencatat tiga kelompok masyarakat Sasak berdasarkan agama, yaitu Budha, Wetu Telu, dan Waktu Lima, dengan Wetu Telu digambarkan sebagai orang Sasak yang menjalankan Budha dan Islam sampai batas tertentu.
Islam diperkirakan tiba di Lombok pada abad ke-16 setelah runtuhnya Majapahit, menurut satu versi dibawa para wali dari Jawa dengan bahasa Jawa kuno sehingga jejak tradisi Hindu-Jawa masih terlihat, lalu pada abad ke-17 muncul kerajaan-kerajaan kecil Muslim, sementara catatan lain menyebut Lombok ketika itu menjadi objek rebutan Raja Bali Karangasem dan orang Makassar yang beroperasi dari Sumbawa. Penyebarannya dinilai cepat karena ajaran tauhid dan karena Islam tidak serta-merta mengganti seluruh sistem nilai yang sudah ada.
Namun, justru kelenturan itu yang kemudian dibaca sebagai kekurangan. Naskah merangkum empat faktor yang diakui komunitas Wetu Telu meski tidak semuanya diterima, yakni dakwah yang toleran dan pasif sehingga ajaran Islam terasa tak berbeda dari kepercayaan leluhur, kebijakan penguasa Hindu-Bali Mataram Karangasem yang menghalangi orang berhaji dan memaksa perempuan Sasak yang menikahi lelaki Hindu pindah agama, penyebaran Hindu oleh Danhyang Nirartha atas amanat raja Gelgel pada 1530, serta politik adu domba Belanda sejak 1894.
Dari pandangan normatif mayoritas Islam di Lombok, dasar keyakinan Wetu Telu tidak dianggap bertentangan dengan doktrin arus utama, tetapi dipandang sebagai sistem keagamaan yang belum lengkap dan belum selesai akibat transisi sejarah yang tidak menyentuh semua aspek ajaran. Kajian sosio-antropologis membacanya lain lagi, sebagai agama lokal sinkretis yang berakar pada kemiripan dengan animisme-dinamisme, Boda, Hindu, dan Buddha, sehingga Wetu Telu seolah selalu dinilai dari timbangan milik orang lain.
Di titik inilah ketiga penulis membelokkan arah. “Karena itu, pandangan orang luar tentang komunitas penganut Wetu Telu tidak mencerminkan gambaran yang memadai tentang pemahaman dan ritual keagamaan mereka, terutama yang berkaitan dengan dimensi esoteris,” tulis Sirnopati, Rasyad, dan Tohri dalam simpulan naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu tidak membela satu pihak, tetapi menggeser pertanyaan dari seberapa lengkap Wetu Telu menjadi seberapa lengkap cara orang luar melihatnya.
Baca juga Prabu Siliwangi di Hulu Citarum, Tapa yang Dibaca sebagai Islam
Nama yang diusulkan
Dari situ lahir usulan istilah yang menjadi judul artikel mereka. Ketiga penulis menilai tepat memakai sebutan varian Islam Sasak untuk menggambarkan kenyataan sosial fenomena keagamaan komunitas Muslim di Lombok, karena kemunculan Wetu Telu adalah konsekuensi logis dari transisi sejarah datang dan berkembangnya Islam di pulau itu, yang berdialektika dengan faktor sosial, politik, dan budaya dalam proses yang panjang dan rumit.
Naskah juga tidak menggambarkan komunitas ini sebagai sesuatu yang membeku. Menurut ketiga penulis, komunitas Wetu Telu mengalami transformasi ketika menyatukan kepercayaan animisme dan dinamisme dengan ajaran Islam, mulai meninggalkan praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam seperti upacara adat, dan dalam proses itu mulai kehilangan identitas budaya aslinya, sehingga konflik antara identitas budaya dan identitas keagamaan menjadi bagian dari pengalaman hidup mereka.
Batas kajian ini pun diakui dengan terus terang di dalam naskah, sebab sampai sekarang sejumlah studi belum menunjukkan secara tepat kapan istilah Wetu Telu muncul dan siapa yang mencetuskannya. “Makna persis Wetu Telu, secara etimologis dan terminologis, masih menjadi perdebatan di antara para peneliti,” tulis ketiganya, sehingga usulan istilah varian Islam Sasak lebih tepat dibaca sebagai tawaran pembingkaian ketimbang putusan akhir atas perdebatan itu.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Celah di dalam naskah
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri. Abstrak menyebut data dikumpulkan lewat observasi dan wawancara mendalam, tetapi badan naskah tidak memuat satu pun nama atau kutipan narasumber lapangan, sehingga pandangan orang dalam yang dijanjikan hadir terutama melalui rujukan pustaka seperti Budiwanti dan Salam. Naskah juga menulis bahwa Wetu Telu hanya menjalankan tiga rukun Islam, termasuk salat harian, sementara golongan pertama dalam daftarnya menyebut salat lima waktu hanya dijalankan kiai dan pengikutnya.
Ada pula kejanggalan yang lebih kecil namun mengganggu ketelitian. Tahap ketiga siklus hidup, jodoh, diterjemahkan naskah sebagai kematian, sesuatu yang tidak dijelaskan lebih jauh, sementara daftar faktor sejarah dibuka tanpa jumlah lalu diberi nomor satu sampai empat dengan kata sambung yang berulang. Nama Budiwanti dua kali tertulis Budiwati, dan buku M. Ahyar Fadly dirujuk bertahun 2008 di badan naskah tetapi tercantum bertahun 2000 di daftar pustaka.
Setelah semua itu, yang tertinggal adalah pertanyaan yang tidak sepenuhnya dijawab naskah, bahkan mungkin tidak bisa dijawab oleh satu naskah mana pun. Apakah menamai Wetu Telu sebagai varian Islam Sasak cukup untuk membuat orang luar berhenti menghitung jumlah salatnya, ataukah selama kata wetu masih terdengar sebagai waktu dan bukan metu, setiap nama baru hanya akan dibaca dengan telinga yang sama?















