Prawoto Mangkusasmito

Prawoto Mangkusasmito adalah adalah seorang aktivis Islam Indonesia, Wakil Perdana   Menteri   Indonesia kesembilan danKetua Umum Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang terakhir.

Prawoto Mangkusasmito. [Foto: Istimewa]

Siapa Prawoto Mangkusasmito?

Prawoto Mangkusasmito adalah seorang aktivis Islam Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia kesembilan dan Ketua Umum Majelis Syuro Muslimin Indonesia.

Ia lahir di desa Tirto, Grabag, Magelang pada tanggal 4 Januari 1910 dan meninggal pada tanggal 24 Juli 1970 pada usia 60 tahun.

Selama masa Indonesia sebagai negara serikat, Prawoto Mangkusasmito pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pekerja KNIP menggantikan Assaat yang menjabat sebagai pejabat Presiden RIS sampai 15 Agustus 1950.

Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Masyumi terakhir sebelum partai tersebut dibubarkan oleh Sukarno tanpa alasan yang jelas melalui Keputusan Presiden RI No. 200/1960 pada tanggal 17 Agustus 1960 dan merujuk Penetapan Presiden No.7/1959.

Pada masa kecilnya, Prawoto Mangkusasmito pernah bersekolah di AMS B Yogyakarta, yang saat ini dikenal sebagai SMA Negeri 3 Yogyakarta. Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia bekerja sebagai guru di sekolah M.U.L.O. Neutral di Kebumen pada tahun 1932 hingga 1935. Selama periode ini, ia juga belajar pada Rechts-Hoogeschool Batavia hingga tingkat IV. Saat pendudukan Jepang, ia bekerja sebagai pegawai kantor Kadaster.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda