Sejarah Kota Pekanbaru: Dari Bandar Pekan Hingga Kota Modern

Cekricek.id - Sejarah Kota Pekanbaru: Dari Bandar Pekan Hingga Kota Modern

Suasana jelang keberangkatan menuju Singapura dari Pekanbaru. Foto diperkirakan antara tahun 1945-1948. [Foto: KITLV]

Cekricek.id - Kota Pekanbaru saat ini merupakan salah satu sentra ekonomi terbesar di Pulau Sumatera, yang memiliki posisi strategis seperti Medan, Palembang, Batam, dan Padang. Namun, sejarah kota ini tidaklah singkat. Pekanbaru memiliki akar sejarah yang panjang, yang dimulai sejak berdirinya Bandar Pekan pada tahun 1784.

Melansir laporan penelitian yang diterbitkan Jurnal Analisis Sejarah Universitas Andalas, berikut sejarah perkembangan Kota Pekanbaru dari masa kolonial Belanda hingga menjadi kota modern yang kita kenal saat ini.

Asal-Usul Kota Pekanbaru

Pekanbaru pada awalnya hanyalah sebuah kampung kecil yang bernama Senapelan. Pada tahun 1767, Sultan Alamuddin Syah memindahkan pusat Kerajaan Siak dari Mempura ke Senapelan dan membangun sebuah "Bandar Pekan" di sana.

Bandar Pekan merupakan kota perdagangan yang strategis karena terletak di tepi Sungai Siak, yang menjadi jalur perdagangan utama bagi komoditas dari Kampar, Siak, dan Petapahan yang akan dijual ke Singapura dan Malaka. Pada 23 Juni 1784, Bandar Pekan tersebut diresmikan sebagai Kota Pekanbaru.

Perkembangan Kota Pekanbaru pada Masa Kolonial Belanda

Pada tahun 1858, Kerajaan Siak jatuh ke tangan pemerintah kolonial Belanda setelah kalah dalam pertempuran. Sejak itu, wilayah Kerajaan Siak, termasuk Pekanbaru, berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Pada tahun 1919, pemerintah kolonial Belanda membagi wilayah Kerajaan Siak menjadi lima distrik, salah satunya adalah Distrik Pekanbaru. Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi Pekanbaru sebagai pusat administrasi dan perdagangan untuk menopang perkebunan di sekitarnya.

Salah satu faktor penting dalam perkembangan Pekanbaru adalah keberadaan Pelabuhan Pekanbaru yang terletak di Sungai Siak. Pelabuhan ini menjadi tempat transit bagi berbagai komoditas dari daerah pedalaman Siak yang akan dijual ke Malaka, Singapura, Petapahan, dan Bukit Batu.

Pelabuhan ini juga menjadi rute transit bagi pedagang Minangkabau yang ingin berlayar ke Singapura dan Semenanjung Malaka.

Hal ini menjadikan Pelabuhan Pekanbaru sebagai salah satu tempat transit rute perdagangan yang penting di Sumatera Timur pada saat itu.

Perkebunan Karet dan Perubahan Morfologi Kota Pekanbaru

Pada awal abad ke-20, aktivitas perdagangan di Pekanbaru mengalami penurunan. Namun, pemerintah kolonial Belanda berusaha meningkatkan kembali aktivitas perdagangan dengan mengenalkan komoditi baru, yaitu karet.

Karet merupakan tanaman yang cocok untuk tumbuh di wilayah Pekanbaru, sehingga banyak masyarakat yang beralih dari komoditi sebelumnya seperti rotan dan pinang untuk menanam karet.

Program penanaman karet oleh pemerintah kolonial Belanda berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat Pekanbaru. Pendapatan mereka meningkat melalui hasil penjualan karet dan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Pekanbaru juga mengalami peningkatan.

Perkebunan karet di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya terdiri dari konsesi perkebunan orang Eropa, China, dan Pribumi. Pada tahun 1929, sekitar 90% wilayah perkebunan di Onderafdeeling Siak telah ditanami karet.

Perkembangan perkebunan karet ini membawa dampak signifikan terhadap perubahan morfologi Kota Pekanbaru. Untuk menopang aktivitas perdagangan dan administrasi yang semakin berkembang, pemerintah kolonial Belanda membangun infrastruktur seperti kantor administratif dan kantor dagang di Pekanbaru.

Pusat kota di tepi Sungai Siak menjadi pusat perdagangan dan perkantoran, sementara kawasan baru dibangun di daerah selatan Kota Pekanbaru untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat.

Halaman:

Baca Juga

Gunung Marapi terlihat dari Bukittinggi dengan atap rumah warga di latar depan dan awan menggantung di lerengnya
Arsip Kolonial dan Tanda Alam, Dua Sumber yang Belum Dipakai untuk Mitigasi Marapi
Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu
Sastrawan Minangkabau Darman Moenir saat wisuda pada 1989
Darman Moenir dan Novel yang Mengalahkan Budi Darma
Ratusan guci keramik amphora tertumpuk di dasar laut, tertutup endapan dan lumut setelah terendam ribuan tahun
Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Perahu kayu tradisional melaju di sungai lebar yang membelah hutan tropis saat matahari terbit, perbukitan tampak di kejauhan
Jejak Kerajaan Minangkabau Kuno: Ketika Sumatera Menjadi Jantung Perdagangan Dunia
Masjid berhalaman luas berdiri di kawasan pesisir dengan laut di belakangnya
Masjid Padang sebagai Tempat Evakuasi Tsunami