Cekricek.id - Jauh sebelum Malaka menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara, di jantung Pulau Sumatera telah berdiri sebuah kerajaan yang menguasai jalur perdagangan internasional. Kerajaan Minangkabau kuno, dengan pusatnya di Dharmasraya dan Pagaruyung, ternyata memainkan peran krusial dalam membuka komunikasi budaya antara dunia Melayu dengan peradaban India, Tiongkok, hingga Eropa.
Temuan itu dipaparkan Muhammad Nur Bagindo, Maizufri Ilyas Chaniago, Herwandi, dan Purwohusodo Muhammad Djamil dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas bersama Hanafi Hussin dari Universiti Malaya lewat artikel Minangkabau Ancient History and Cultural Communication dalam jurnal Environment-Behaviour Proceedings Journal Vol. 8 No. SI16 pada 2023. Menurut mereka, Kerajaan Minangkabau bukan sekadar kerajaan lokal, melainkan kekuatan maritim yang menghubungkan peradaban Timur dan Barat lewat perdagangan rempah.
"Kerajaan Minangkabau kuno telah membuka hubungan budaya dengan India sehingga terdapat pengaruh Hindu dan Buddha di Sumatera," tulis Bagindo dan tim. Temuan ini menunjukkan betapa strategisnya posisi geografis Minangkabau dalam jalur perdagangan dunia kuno.
Dari Batanghari hingga Mediterania: Jejak Perdagangan Global
Kerajaan Minangkabau kuno sebenarnya terdiri dari dua pusat kekuasaan utama. Pertama, Kerajaan Dharmasraya yang berpusat di tepi Sungai Batanghari. Kedua, Kerajaan Pagaruyung yang berlokasi di Luhak Tanah Datar, Minangkabau. Kedua kerajaan ini menjadi penerus kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang dan Kerajaan Muaro Jambi.
Puncak kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Adityawarman pada abad ke-14. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa sejak 1347 Masehi, Adityawarman berhasil menyatukan berbagai kerajaan kecil di kawasan timur Sumatera, pantai barat Sumatera, Jambi, sebagian Palembang, hingga wilayah yang kini menjadi Riau.
Yang mencengangkan adalah luasnya jaringan perdagangan yang dikuasai kerajaan ini. Rempah-rempah, kayu wangi, kamper, kemenyan, dan lada dari Minangkabau tidak hanya diperdagangkan ke India, tetapi menembus hingga ke Kerajaan Persia, Romawi, dan bahkan Mediterania. Pelabuhan-pelabuhan seperti Tiku, Pariaman, Barus, Painan, dan Indrapura menjadi sangat ramai dikunjungi pedagang dari Gujarat, Arab, Mesir, Persia, Romawi, Tiongkok, dan Eropa.
Baca juga: Candi Muara Takus, Menyingkap Jejak Sejarah Panjang Sekte Bhairawa hingga Islam di Tanah Melayu
"Hubungan perdagangan antara Tiongkok, Minangkabau Melayu, dan India telah berlangsung sejak awal Masehi," tulis para peneliti. Bahkan, hubungan antara pantai barat Minangkabau dengan Gujarat terjalin sangat lancar karena banyaknya pedagang Gujarat yang berdagang di Pariaman, Barus, dan Tiku.
Ketika Budaya Hindu-Buddha Mengakar di Bumi Minangkabau
Intensitas perdagangan yang tinggi ini tidak hanya membawa kemakmuran ekonomi, tetapi juga transformasi budaya yang mendalam. Melalui apa yang oleh para peneliti disebut sebagai "komunikasi budaya," pengaruh Hindu-Buddha dari India masuk dan mengakar kuat di tanah Minangkabau.
Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari berbagai peninggalan arkeologis yang tersebar di Sumatera. Candi Muara Takus di Kampar, Riau; Candi Padang Rocok di Dharmasraya; Candi Muaro Jambi di Jambi; dan beberapa candi lainnya yang tersebar di Pulau Sumatera menjadi saksi bisu kejayaan periode ini.
Menariknya, penelitian mengungkap bahwa orang Minangkabau tidak memisahkan antara ajaran Hindu dan Buddha. "Hal yang menarik dalam komunikasi budaya antara Minangkabau dan India adalah bercampurnya agama Hindu dan Buddha di Minangkabau, sehingga orang Minangkabau mengenal agama Hindu-Buddha tanpa memiliki kepercayaan yang terpisah," tulis para peneliti.
Namun, mereka juga mencatat bahwa candi-candi besar di Minangkabau lebih cenderung menganut kepercayaan Buddha, menunjukkan dominasi aliran Mahayana dalam perkembangan keagamaan di wilayah tersebut.
Transformasi budaya ini tidak terjadi secara instan. Proses komunikasi budaya berlangsung melalui interaksi intensif antara pedagang lokal dengan pedagang asing, khususnya dari India, dalam aktivitas perdagangan maritim yang ramai di Selat Malaka dan pantai barat Sumatera.
Baca juga: Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah
Warisan dari Jalur Sutra Maritim
Penelitian ini juga mengungkap bagaimana Kerajaan Minangkabau berperan dalam "Jalur Sutra Maritim" versi Asia Tenggara. Ketika jalur darat antara Tiongkok dan India melalui Asia Tengah terganggu oleh perampokan, pedagang beralih ke jalur laut yang melewati perairan Nusantara.
Rute perdagangan laut dari Tiongkok ke India ini melewati perairan Nusantara, Selat Malaka, Laut Andaman, Samudra Hindia, India, Teluk Persia, Suriah, hingga Mediterania. Posisi strategis Minangkabau di tengah rute ini menjadikannya kekuatan ekonomi yang diperhitungkan.
Ekspedisi Pamalayu yang dikirim Raja Kartanegara dari Kerajaan Singosari ke Dharmasraya pada 1275 Masehi menunjukkan betapa pentingnya Kerajaan Minangkabau dalam konstelasi politik regional. Ekspedisi ini bertujuan menjalin hubungan damai dan saling menguntungkan, yang erat kaitannya dengan kondisi keamanan kawasan Dunia Melayu dan hubungan baik dengan India, Tiongkok, Romawi, Arab, dan Eropa.
Sayangnya, kejayaan ini berangsur surut seiring masuknya Islam ke Minangkabau pada abad ke-14, yang menandai berakhirnya periode Minangkabau kuno. Namun, warisan komunikasi budaya periode ini tetap berbekas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Minangkabau hingga kini.
Baca juga: Perjalanan Tari Minangkabau: Dari Panggung Adat ke Layar Digital



















