Cekricek.id — Pada Februari 1981, empat juri sastra paling disegani di Indonesia — Ali Audah, Sapardi Djoko Damono, Dami N. Toda, dan Toeti Heraty Noerhadi — mengumumkan pemenang Sayembara Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarta. Juara pertamanya sebuah novel setebal 102 halaman berjudul Bako, karya seorang lelaki muda dari Padang yang berjalan dengan sisa polio di tubuhnya. Namanya Darman Moenir.
Di bawahnya berdiri nama-nama besar: Olenka karya Budi Darma di posisi kedua, dan sebuah novel Nasjah Djamin di posisi ketiga. Masing-masing pemenang menerima Rp200.000. Lima karya lain mendapat penghargaan, termasuk Merdeka karya Putu Wijaya dan Panggil Aku Sakai karya Ediruslan Pe Amanriza.
Perjalanan hidup di balik novel itu ditelusuri Septa Dwi Utari dan Syafrizal, keduanya dari Universitas Andalas, lewat artikel Darman Moenir's Life and Works: Reflections of Minangkabau Cultural Identity in Indonesian Literature (1970–2012) yang dimuat jurnal Analisis Sejarah Vol. 15 No. 2 terbitan 2025. Mereka memakai metode sejarah dan menggabungkan wawancara keluarga serta kolega, dokumen pribadi, dan bahan pustaka.
Anak Guru Bahasa dari Kaki Merapi
Darman Moenir lahir di Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, pada 27 Juli 1952 — sebuah nagari di kaki Gunung Merapi. Ia anak sulung dari empat bersaudara, putra Moenir, guru Bahasa Indonesia di Sekolah Rakyat, dan Sjamsidar, ibu rumah tangga yang gemar menyanyi klasik dan keroncong.
Ia lahir dengan disabilitas fisik akibat polio dan menghadapi keterbatasan gerak sejak kecil. Namun kondisi itu tidak menghalanginya. Kedua peneliti mencatat, Darman selalu menempati peringkat pertama di kelas setiap semester selama di Sekolah Rakyat.
Rumah masa kecilnya kaya musik. Kagum pada permainan biola ayahnya, Darman ikut orkes kampung bernama Hujan Panas — ayahnya memegang biola, ia menabuh drum. Dari sana ia belajar memainkan gitar, drum, dan tifa, serta menguasai irama rumba dan cha-cha.
Rumah itu juga penuh buku. Koleksi ayahnya mencakup kitab agama, buku pendidikan, kajian pedagogi, tambo, sampai majalah. Dari tumpukan itulah kecintaan Darman pada pengetahuan dan cerita bermula.
Dilarang ke Yogyakarta
Selepas SMP Negeri Simabur, Darman sebenarnya berniat melanjutkan ke SMA di Batusangkar. Ayahnya menyarankan lain: masuk sekolah seni, karena melihat bakat menggambar anaknya. Darman pun bersekolah di Sekolah Seni Rupa Indonesia di Padang pada 1967 sampai 1970, mengambil jurusan seni lukis.
Di sanalah arah hidupnya berbelok. Guru Bahasa Indonesianya mendorongnya menulis, dan ia berkenalan dengan sejumlah pengajar yang kelak menjadi nama besar — Hasnul Kabri di seni lukis, Ardy Samah di seni patung, dan Wisran Hadi di teater. Di tahun terakhir, ia menulis cerpen pertamanya, Senja Penentuan, yang terbit di harian Haluan Padang.
Setelah lulus, Darman ingin melanjutkan ke Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta. Keluarganya tidak mengizinkan ia bersekolah jauh dari rumah. Ia akhirnya masuk Akademi Bahasa Asing Prayoga di Padang pada 1971 — empat semester pertama mengambil bahasa Jerman, lalu pindah ke bahasa Inggris.
Kelak, pada 1989, ia menuntaskan sarjana Sastra Inggris di Universitas Bung Hatta dengan skripsi berjudul "The Language Used in the Tambo: A Preliminary Study on Classical Minangkabau World". Bahkan untuk tugas akhir kuliah bahasa asing, yang ia bedah tetap tambo Minangkabau.
Baca juga: Perjalanan Tari Minangkabau: Dari Panggung Adat ke Layar Digital
Pada 1973 Darman bergabung dengan kelompok studi sastra "Krikil Tajam" yang didirikan A.A. Navis. Kelompok itu mengumpulkan penulis-penulis muda — di antaranya Asnelly Luthan, Harris Effendi Thahar, Sjahida Siddiq, dan Yalvema Miaz — dan bertemu setiap pekan selama hampir setahun untuk membedah karya sastra.
Dari pertemuan itu Darman berkenalan dekat dengan Navis, yang kemudian menjadi mentor sekaligus pendorongnya. Navis menantangnya menerbitkan karya di koran dan majalah Jakarta.
Tantangan itu punya konteks yang keras. Pada masa itu, prestise sastra ditentukan pengakuan dari lembaga-lembaga di ibu kota: Horison, Kompas, Dewan Kesenian Jakarta, dan Taman Ismail Marzuki. Banyak orang percaya seorang penulis belum bisa disebut sastrawan sebelum karyanya sampai ke pembaca Jakarta.
Kedua peneliti mencatat hal ini dengan jujur, termasuk sisi tidak nyamannya: pada era Orde Baru, Navis dan Darman berperan sebagai penjaga standar sastra yang berpusat di Jakarta. Pemusatan itu memang memacu sebagian penulis untuk berprestasi, tetapi sekaligus meminggirkan penulis lain yang karyanya menyimpang dari selera arus utama. Baru setelah Orde Baru tumbang pada Mei 1998, ruang bagi suara-suara sastra baru dari daerah terbuka lebih lebar.
Wartawan yang Merancang Logo Korannya Sendiri
Pada 1975, tak lama setelah menikah dengan Darhana Bakar, Darman meninggalkan pekerjaannya sebagai guru bahasa Inggris di INS Kayu Tanam dan — atas dorongan istrinya — banting setir ke jurnalistik. Ia bergabung dengan harian Haluan Padang, koran tertua di Indonesia yang juga surat kabar pertama yang berdiri di Sumatera Barat setelah kemerdekaan.
Di sana ia bekerja sebagai korektor dan wartawan: menyunting naskah, memperbaiki salah ketik, menjaga konsistensi bahasa dan gaya. Namun sumbangannya melampaui meja redaksi — Darman juga merancang logo koran itu dan mengusulkan motonya.
Antara 1982 dan 1991 ia bekerja sebagai wartawan lepas dan kolumnis untuk berbagai koran daerah dan nasional. Pada 1992 ia bergabung dengan harian Semangat sebagai redaktur dan reporter, dan bertahan sampai koran itu berhenti terbit pada 2002.
Sejak 1984 ia juga menjadi pegawai negeri di Museum Adityawarman, Padang. Di sana ia bekerja sebagai kurator dan pengelola kebudayaan: mengumpulkan, mendokumentasikan, dan menyajikan artefak kebudayaan Minangkabau, menyusun pameran, menulis dan menyunting terbitan museum, sampai menerjemahkan label pameran ke bahasa Inggris. Ia pensiun pada 2008.
Menulis Hanya yang Ia Pahami
Karya Darman Moenir dikenal idealis, realistis, dan kritis. Ia memakai sastra untuk menyuarakan perlawanan dan ketidakpuasan atas ketidakadilan — tetapi tanpa menggurui. Baginya sastra tidak boleh mengajari, melainkan menggugah pikiran; pesannya harus tersirat, bukan berupa slogan. Ia percaya pembaca punya kedaulatan untuk memaknai sendiri.
Ada satu prinsip yang ia pegang keras: ia hanya menulis tentang hal yang benar-benar ia pahami. Ia mengaku tidak sanggup mengarang atau menulis meyakinkan tentang sesuatu yang berada di luar pengalamannya. Menurutnya, tulisan yang otentik lahir dari pengalaman hidup dan keakraban panjang dengan satu topik atau perasaan.
Ia juga sangat selektif. Berbeda dengan banyak penulis yang mengirim karya demi eksposur, Darman baru mengirim tulisan setelah ia benar-benar yakin akan mutunya.
Dalam puisi ia mengakui pengaruh Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad, namun secara sadar berusaha membangun suaranya sendiri. Ilham datang dari hal-hal kecil: keindahan alam di sekitarnya, lolongan anjing di malam hari, suasana yang menegang, bahkan sebuah senyum yang bermakna.
Baca juga: Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah
Bako: Anak Patrilineal di Dunia Matrilineal
Novel yang membuatnya besar justru lahir dari posisi yang ganjil dalam masyarakatnya sendiri. Judul Bako merujuk pada keluarga dari pihak ayah dalam kebudayaan Minangkabau.
Menurut penuturan keluarga yang dihimpun kedua peneliti, Darman menulis novel itu dengan menggali dinamika sosial hidup di rumah keluarga ayahnya — situasi yang tidak lazim dalam sistem matrilineal Minangkabau. Ia dan keluarganya hidup secara patrilineal di tengah masyarakat matrilineal, meski tidak sampai dipinggirkan atau dikucilkan. Pengalaman menegosiasikan dua identitas budaya itulah yang menjadi fondasi emosional Bako.
Bako diterbitkan Balai Pustaka pada 1983. Pada 1987 novelnya yang lain, Aku, Keluargaku, Tetanggaku, meraih juara kedua sayembara novel majalah Kartini dan terbit lewat Balai Pustaka pada 1993. Pada 1992, pemerintah menganugerahinya Hadiah Sastra Nasional untuk novel Dendang yang terbit pada 1988.
Pengakuan lain terus berdatangan. Pada 2015 ia menerima penghargaan atas pencapaian sastra dari Balai Bahasa Sumatera Barat, bersama penyair Rusli Marzuki Saria, cerpenis Harris Effendi Thahar, dan dramawan S. Metron Masdison.
Jangkauannya juga melintasi batas negara. Darman hadir di Hari Sastra di Ipoh, Malaysia (1980), Konferensi Penulis Asia di Manila (1982), pertemuan Dunia Melayu di Malaka (1982) dan Sri Lanka (1985), International Writing Program di Iowa City (1988), serta International Visitor Program di Amerika Serikat pada tahun yang sama.
Lima Belas Tahun Melawan Kanker
Setelah kurang lebih lima belas tahun berjuang melawan kanker paru-paru, Darman Moenir dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada 2019. Kondisinya memburuk selama perawatan. Ia wafat pada 30 Juli 2019 pukul 14.40 di usia 67 tahun, dan dimakamkan di kompleks pemakaman Universitas Andalas.
Satu catatan untuk pembaca. Riset ini sebagian besar bersandar pada wawancara dengan keluarga, kolega, dan sahabat — sumber yang kaya, tetapi juga rentan pada ingatan dan sudut pandang orang terdekat. Beberapa tanggal dalam artikel jurnal itu bahkan tidak sepenuhnya konsisten satu sama lain, misalnya tahun ia diangkat sebagai pegawai Museum Adityawarman. Pembaca yang menekuni sejarah sastra sebaiknya membacanya sebagai rekonstruksi berbasis kesaksian, bukan kronologi arsip yang final.
Baca juga: Perantau Minang di Duri dan Bayang-bayang PRRI
Meski begitu, sosoknya berdiri jelas. Seorang anak guru bahasa dari kaki Merapi, yang tak diizinkan sekolah ke Yogyakarta, menabuh drum di orkes kampung, lalu menulis novel tentang rasanya menjadi anak patrilineal di negeri matrilineal — dan mengalahkan Budi Darma di sayembara paling bergengsi pada zamannya.



















