Cekricek.id — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut kekuatan doa berjamaah dan kokohnya harmoni sosial antarumat beragama sebagai benteng utama ketahanan bangsa Indonesia di tengah dinamika global saat ini.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, kemenag.go.id, Senin (10/8/2026), Menag menegaskan ketahanan nasional tidak hanya diukur dari indikator ekonomi dan fisik semata, melainkan dari kedalaman rasa syukur, kebersamaan, dan spiritualitas warga negaranya.
Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin Umar saat memberi sambutan pada kegiatan Doa Keselamatan Bangsa, Zikir Kebangsaan, dan Haul Pendiri NKRI dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di Masjid Istiqlal, Jakarta.
“Kita sangat memerlukan doa berjamaah untuk keselamatan bangsa kita. Di negara-negara lain, masyarakat dunia mengakui bahwa Indonesia memiliki ketahanan yang sangat baik sehingga tidak terdampak jauh dari krisis yang saat ini melanda dunia. Ini adalah hal yang wajib kita syukuri bersama atas izin Allah SWT,” ujar Menag, Minggu (9/8/2026).
Syukur atas Pertumbuhan yang Bertahan di Atas 5 Persen
Menurut Menag, rasa syukur kolektif atas stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu bertahan di atas 5 persen di antara negara-negara G20 harus diwujudkan dalam bentuk menjaga persatuan dan keharmonisan hidup beragama.
Baca juga: Silatnas FKUB 2025 Dorong Indonesia Emas Lewat Kerukunan Umat
Terowongan Silaturahim, Simbol yang Ditunjukkan ke Tamu Negara
Menag juga menyoroti keberadaan Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai warisan penting keharmonisan Indonesia di mata dunia.
“Yang paling terkenal di sini adalah Terowongan Silaturahim yang menghubungkan dua rumah ibadah, satu-satunya di dunia. Setiap kali ada tamu negara, kunjungan pertama yang dikunjungi sesudah Istana Negara adalah simbol harmoni ini. Ini membuktikan bahwa Indonesia adalah rujukan dunia dalam toleransi dan kerukunan,” tegas Menag.
Melalui momentum HUT ke-81 RI itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat menjaga keutuhan persatuan sekaligus ketahanan spiritual bangsa.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat toleransi, memperkuat sinergi sosial, serta menguatkan ikhtiar batin agar bangsa Indonesia selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman,” pungkasnya.
Habib Luthfi: Doa untuk Pejuang adalah Kewajiban Moril
Pada kesempatan yang sama, Habib Luthfi bin Yahya menyoroti pentingnya merawat kesadaran sejarah generasi muda dan seluruh bangsa terhadap jasa para pahlawan serta pendiri NKRI.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dan keutuhan bangsa yang dirasakan saat ini tidak lepas dari pengorbanan serta darah para pejuang, sehingga memanjatkan doa bagi mereka merupakan kewajiban moril seluruh anak bangsa.
“Masyarakat dan generasi penerus bangsa harus terus mengingat perjuangan para pendahulu dan pendiri bangsa. Salah satu cara mengekspresikan rasa hormat itu adalah dengan memanjatkan doa untuk mereka serta berkomitmen meneruskan perjuangannya menjaga keutuhan NKRI,” tutur Habib Luthfi.
Baca juga: Kurikulum Berbasis Cinta, Langkah Kemenag Tanamkan Toleransi Sejak Dini
Dihadiri Puluhan Ribu Orang
Kegiatan tersebut dihadiri Habib Luthfi bin Yahya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Hubungan Antarumat Beragama Gugun Gumilar.
Hadir pula para tokoh organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh lintas agama, tokoh perempuan, serta puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Peringatan HUT ke-81 RI tahun ini juga diwarnai sejumlah agenda kebangsaan lain, termasuk penulisan ulang sejarah Republik Indonesia yang hampir rampung.




















