Cekricek.id — Harga minyak dunia kembali menanjak setelah Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat, termasuk pembayaran reparasi perang. Brent kontrak Oktober berada di 84,43 dolar AS per barel pada pukul 04.30 GMT, naik lebih dari 1 persen pada Senin.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026), angka itu sekitar 16 persen lebih tinggi dibanding sebelum perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pada Minggu bahwa Teheran dan Oman sudah mendekati kesepakatan soal Selat Hormuz. Meski begitu, ia menegaskan selat tidak akan dibuka sebelum Washington melonggarkan sanksi dan membayar ganti rugi perang.
Pelayaran Anjlok dari 130 Menjadi Belasan Kapal
Pelayaran di selat itu praktis lumpuh sejak konflik pecah pada akhir Februari. Sebelum perang, Hormuz mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Data platform pelacakan kapal MarineTraffic mencatat hanya delapan sampai 15 kapal melintas pada 4, 5, dan 6 Agustus. Sebelum konflik, jumlahnya sekitar 130 pelayaran.
Organisasi Maritim Internasional mencatat sedikitnya 64 insiden kekerasan dan 17 kematian yang melibatkan kapal niaga di kawasan itu sejak perang dimulai, sebagian besar dituduhkan kepada Iran. Pada Sabtu, Uni Emirat Arab mengecam Teheran atas serangan rudal terhadap kapal milik Abu Dhabi National Oil Company.
Baca juga: Kilang Aramco di Jazan Terbakar Lagi, Houthi Klaim Serangan Drone
Pedagang Menunggu Bukti, Bukan Pengumuman
Kepala analis pasar KCM Trade di Sydney, Australia, Tim Waterer, menilai ketiadaan kemajuan konkret menahan premi risiko tetap melekat pada harga.
“Ketiadaan pergerakan konkret, ditambah pertanyaan yang belum terjawab soal rincian praktis kesepakatan apa pun, membuat premi risiko bertahan di harga. Setiap hari yang lewat tanpa terobosan membuat pedagang sedikit lebih berhati-hati,” kata Waterer.
Menurutnya, sekalipun kesepakatan akhirnya diumumkan, pengalaman menunjukkan kesepahaman semacam itu rapuh. Risiko pembatalan yang tersisa akan membatasi seberapa jauh harga minyak bisa turun.
Baca juga: Trump Disebut Siap Klaim Kemenangan Tanpa Kesepakatan Nuklir
Bursa Asia Justru Menguat
Meski pasar energi bergejolak, bursa saham Asia menguat pada Senin pagi. Nikkei 225 Jepang naik 1,9 persen, sementara Kospi Korea Selatan dan Hang Seng Hong Kong masing-masing naik 0,7 persen.
Kenaikan itu menyusul rekor tertinggi bursa Amerika Serikat pada Jumat, setelah data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Di dalam negeri Iran, Dewan Keamanan Nasional baru saja berganti pimpinan.



















