Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik

Permukaan tanah yang retak-retak akibat kekeringan panjang

Ilustrasi tanah retak akibat kekeringan. Copernicus mencatat kelembapan tanah Eropa Barat jauh lebih rendah dibanding Juli 2022. [Foto: Pexels/James Frid]

Cekricek.id — Eropa Barat mencatat periode Juni-Juli terpanas sepanjang sejarah pencatatan, seiring perubahan iklim yang memicu musim panas penuh gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan di seluruh kawasan.

Mengutip Arab News yang bersumber dari AFP, Senin (10/8/2026), temuan tersebut diumumkan lembaga pemantau pemanasan global Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service. Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dan dua bulan pertama musim panas tahun ini ditandai gelombang panas beruntun serta kondisi kering kerontang.

Copernicus menyebut suhu rata-rata gabungan di Eropa Barat sepanjang Juni-Juli mencapai 21,62 derajat Celsius, melampaui rekor 2022 untuk periode yang sama. Tingkat kelembapan tanah pun tercatat jauh lebih rendah dibanding Juli 2022, saat kekeringan parah terakhir melanda kawasan tersebut.

Seine, Rhine, dan Donau Menyusut

“Ini contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperhebat suhu ekstrem, dengan panas dan kekeringan yang kian saling menguatkan satu sama lain,” kata Samantha Burgess dari European Center for Medium-Range Weather Forecasts, lembaga yang mengoperasikan Copernicus.

Kondisi sangat kering teramati sepanjang Juli di Prancis, Spanyol, Austria, dan Hungaria, tetapi juga menjangkau Inggris, Irlandia, serta sebagian Islandia. Debit sungai turun tidak wajar, dengan Seine, Rhine, dan Donau paling terdampak. Transportasi, irigasi, dan produksi energi di sejumlah negara Eropa ikut terganggu.

Cuaca panas dan kering itu sekaligus menjadi lahan subur bagi api. Prancis dan Spanyol menghadapi kebakaran terburuk yang diingat warganya musim panas ini, sementara sejumlah negara Eropa lain serta kawasan barat laut Amerika Serikat dan Kanada juga dilanda kebakaran serius.

Baca juga: Kebakaran Hutan Meledak di Kanada, 20 Ribu Warga Okanagan Mengungsi

Rekor Suhu Laut dan El Nino Raksasa

Copernicus juga melaporkan suhu samudra dunia mencetak rekor tertinggi selama dua bulan berturut-turut pada Juli, didorong gelombang panas laut di sekitar Eropa dan El Nino kuat yang tengah terbentuk di Pasifik. Suhu permukaan laut rata-rata global pada Juli tercatat 20,96 derajat Celsius, melewati rekor sebelumnya pada 2023.

Direktur Copernicus Carlo Buontempo menyatakan sebagian Laut Tengah dan Atlantik menghangat tidak biasa, tetapi El Nino yang berkembang kemungkinan besar menjadi kekuatan pendorongnya.

“Kita kini menghadapi El Nino yang sangat besar, bisa jadi belum pernah terjadi sebelumnya dari sisi amplitudo. Jelas bahwa kontribusi yang datang dari Pasifik tropis menjadi cukup penting,” tutur Buontempo kepada wartawan pada Rabu (5/8/2026).

El Nino adalah fase hangat siklus iklim alami yang sementara menaikkan suhu laut di Pasifik tropis dan dapat memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir di berbagai belahan dunia. Fenomena itu biasanya memuncak pada akhir tahun sebelum panasnya dilepaskan ke atmosfer dan mengerek suhu global. El Nino terakhir turut membuat 2023 dan 2024 menjadi tahun terpanas kedua dan pertama sepanjang pencatatan.

Samudra menyerap sebagian besar panas berlebih akibat emisi karbon manusia sehingga memegang peran kunci mengatur iklim. Laut yang lebih panas memicu efek berantai merusak, dari badai dan hujan yang lebih kuat hingga pemutihan terumbu karang.

Baca juga: Topan Dolphin Mendarat di Zhejiang, 388 Penerbangan Batal

Sebelas Tahun Terpanas Beruntun

Secara global, Juli lalu menjadi Juli terhangat kedua sepanjang pencatatan dengan suhu udara permukaan rata-rata 1,47 derajat Celsius di atas patokan praindustri 1850-1900. Sebelas tahun terakhir seluruhnya menjadi yang terpanas dalam sejarah pengukuran.

“Kita belum pernah melihat iklim sepanas ini selama hidup kita, dan sangat mungkin selama peradaban kita. Dan pendorong utama pemanasan ini, seperti kita ketahui, adalah gas rumah kaca,” ujar Buontempo.

Buontempo memperkirakan rekor baru suhu rata-rata global akan tercipta pada akhir tahun ini atau awal 2027. Copernicus menghitung datanya dari miliaran pembacaan satelit dan stasiun cuaca di darat maupun laut, dengan arsip yang menjangkau hingga 1940.

Baca Juga

Petugas pemadam kebakaran bekerja di tengah asap dan api kebakaran hutan
Kebakaran Spokane Mereda, Puluhan Ribu Pengungsi Mulai Pulang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan setelan dan dasi
Trump Beralih ke Tekanan Ekonomi atas Iran: Ini Seperti Permainan Catur
Kapal di perairan kawasan Selat Hormuz
Brent Tembus USD84 per Barel, Iran Tuntut Reparasi Perang untuk Buka Hormuz
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengenakan setelan gelap
Anwar Ibrahim Jalani Prosedur Medis di Hari Ulang Tahunnya yang Ke-79
Sejumlah orang mengamati peluncur rudal darat ke udara Patriot yang dipajang di sebuah lapangan udara militer
Stok Patriot AS Menipis, Pertahanan Asia Timur Cemas
Sejumlah burung kuntul bertengger di atas balok beton penghalang tank berbentuk gigi naga di kawasan perbatasan
Korea Utara Ubah Perbatasan Jadi Garis Bersenjata Nuklir