Cekricek.id — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur menuntaskan pelatihan pengasuh anak bersertifikat bagi 150 peserta. Program itu digelar sejak 27 Juli sampai 6 Agustus 2026 di kantor Kadin Institute Surabaya, dan digarap bersama Kadin Institute, Save the Children, serta Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur.
Dikutip dari Kadin Indonesia, Kamis (6/8/2026), pelatihan tersebut merupakan bagian dari penguatan care economy atau ekonomi perawatan — sebutan untuk sektor ekonomi yang menempatkan pekerjaan merawat, baik anak maupun lansia, sebagai profesi bernilai yang dibutuhkan masyarakat.
Pelatihan ditutup pada hari yang sama dengan penerbitan keterangan resmi Kadin, sehingga peserta angkatan pertama langsung masuk tahap uji kemampuan. Kadin Institute adalah lembaga pelatihan yang dikelola kamar dagang, sedangkan Save the Children merupakan organisasi kemanusiaan yang bekerja pada isu anak.
Dua Pekan Kelas, Sepekan Magang
Peserta menjalani dua pekan pelatihan intensif, dilanjutkan magang sepekan di fasilitas penitipan anak sebelum mengikuti uji kemampuan. Materinya mencakup perawatan bayi dan anak, penjagaan kesehatan, penyusunan gizi, kebersihan, sampai dukungan bagi tumbuh kembang anak.
“Setelah pelatihan dan magang, peserta mengikuti uji kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pekerja Domestik Nusantara yang telah berlisensi BNSP,” kata Ketua Umum Kadin Provinsi Jawa Timur Adik Dwi Putranto. BNSP adalah Badan Nasional Sertifikasi Profesi, lembaga yang memberi izin kepada penyelenggara uji kemampuan kerja.
Sertifikat dari uji kemampuan itulah yang membedakan lulusan program ini dari pengasuh yang belajar secara otodidak. Dengan dokumen tersebut, keterampilan mereka punya bukti yang bisa dibaca calon pemberi kerja, termasuk penyedia jasa penitipan anak yang jumlahnya terus bertambah di kota besar.
Dari Pekerjaan Sampingan ke Profesi
Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti menilai pandangan masyarakat terhadap pekerjaan merawat selama ini terlalu rendah. “Dulu pekerjaan seperti pengasuh bayi, pengasuh anak maupun lansia sering dianggap pekerjaan sampingan. Padahal sekarang justru menjadi profesi baru yang sangat menjanjikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masa awal kehidupan anak menentukan banyak hal. “Usia nol sampai enam tahun adalah usia emas. Semua yang dilihat, didengar dan dirasakan anak akan membentuk perkembangan mereka di masa depan,” tuturnya.
Bagi peserta, isi kelasnya cukup teknis. “Kami belajar gizi seimbang, penanganan anak tersedak, pertolongan pertama ketika anak jatuh,” kata Lailatul Choiriyah, peserta pelatihan yang bekerja di sebuah tempat penitipan anak di Surabaya.
Permintaan terhadap jasa penitipan anak tumbuh seiring bertambahnya keluarga dengan dua orang tua bekerja. Sertifikasi menjadi cara membedakan penyedia jasa yang terlatih dari yang belum, sekaligus memberi dasar tawar-menawar upah yang lebih jelas bagi pekerjanya.
Rencana Perluasan ke Lima Lokasi
Angkatan pertama di Surabaya itu bukan yang terakhir. Kadin Jawa Timur menyiapkan perluasan program ke lima lokasi di provinsi tersebut, dengan pola yang sama: pelatihan, magang, lalu uji kemampuan bersertifikat.
Penyiapan terlatih di sektor perawatan menyentuh dua sisi sekaligus. Di satu sisi ada permintaan dari keluarga yang kedua orang tuanya bekerja; di sisi lain ada pekerja — sebagian besar perempuan — yang selama ini masuk pasar kerja tanpa pengakuan formal atas keterampilannya.
Keterlibatan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur menempatkan program ini di jalur kebijakan ketenagakerjaan daerah, bukan sekadar kegiatan internal. Sementara kehadiran Save the Children membawa sisi perlindungan anak ke dalam kurikulumnya, bersanding dengan sisi dan dunia usaha yang menjadi wilayah kerja kamar dagang.





















