Cekricek.id — Emisi metana dari kawasan Siberia tercatat berlipat ganda dalam 13 tahun terakhir, seiring pemanasan Arktik yang mencairkan lapisan tanah beku dan memperbanyak kebakaran hutan di kawasan itu. Kenaikannya rata-rata sekitar 5 persen per tahun sejak 2010, dan pada musim panas volumenya kini lebih dari dua kali lipat dibanding 15 tahun silam.
Hasil kajian itu dipaparkan Paul I. Palmer, profesor sekaligus Direktur Sains National Centre for Earth Observation di University of Edinburgh, bersama tim peneliti internasional lewat artikel Decadal doubling of Siberian methane emissions due to warming-induced fires and methanogenesis dalam jurnal Science volume 393, nomor 6811, terbit Kamis (6/8/2026).
Dua Pemicu di Dua Ujung Siberia
Metana adalah gas rumah kaca yang daya pemanasnya puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka pendek, meski umurnya di atmosfer jauh lebih singkat. Sebagian besar metana alami di dunia lahir dari mikroba yang menguraikan bahan organik di lingkungan minim oksigen, seperti lahan basah dan tanah yang selama ini membeku sepanjang tahun.
Tim peneliti menemukan dua mekanisme berbeda yang bekerja di dua ujung Siberia. Di wilayah barat, musim dingin yang lebih hangat dan salju yang mencair lebih awal membuat permukaan tanah menyerap lebih banyak panas matahari. Tanah yang basah dan hangat itu menjadi tempat subur bagi mikroba penghasil metana di lahan basah. Di wilayah timur, kondisinya justru kering dan panas berkepanjangan sejak 2019, yang mengeringkan tanah, menaikkan risiko kebakaran, dan ikut melepaskan metana lewat pembakaran serta gangguan pada lapisan beku di bawahnya.
“Yang kami amati adalah konsekuensi langsung dari pemanasan Arktik yang didorong oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca,” kata Palmer.
Dilacak dari Satelit Jepang dan Stasiun Darat
Untuk mengukur perubahan itu, tim menggabungkan data satelit Jepang GOSAT yang menangkap pola serapan cahaya inframerah oleh molekul metana di atmosfer, pengukuran langsung dari stasiun darat, serta model transportasi atmosfer yang melacak asal gas tersebut. Rentang datanya membentang dari 2010 sampai 2023, cukup panjang untuk memisahkan tren jangka panjang dari sekadar fluktuasi cuaca tahunan.
Ancaman bagi Target Iklim Global
Proyeksi tim menyebut emisi Siberia berpotensi bertambah hingga 25 juta ton per tahun pada 2050 jika pemanasan terus berlanjut tanpa kendali. Angka itu, menurut perhitungan tim, cukup besar untuk menggerus sekitar seperlima target pengurangan emisi metana global yang selama ini disepakati banyak negara.
Wilayah Arktik memanas sekitar empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global, dan Siberia menyimpan salah satu cadangan karbon beku terbesar di planet ini. Begitu lapisan itu mencair, karbon yang selama ribuan tahun terkunci di dalamnya kembali tersedia bagi mikroba untuk diuraikan — sebagian menjadi karbon dioksida, sebagian lagi menjadi metana. Siklus itulah yang dikhawatirkan bisa mempercepat pemanasan lebih lanjut, membentuk umpan balik yang sulit dihentikan begitu berjalan.
Baca juga: Gas Rumah Kaca, Muka Laut, dan Bahang Samudra Sama-sama Cetak Rekor pada 2025
Dampak pencairan salju yang datang lebih awal juga mulai terasa jauh dari Kutub Utara. Musim semi ini, debit Sungai Rhine di Eropa anjlok ke rekor terendah karena salju pegunungan Alpen mencair sekitar tiga bulan lebih awal dari biasanya — tanda lain bahwa pergeseran pola cuaca di kawasan dingin dunia ikut merembet ke wilayah beriklim sedang.
Baca juga: Debit Sungai Rhine Anjlok ke Rekor Terendah, Pelayaran Eropa Terancam Lumpuh
Data satelit dan stasiun darat yang dipakai tim berhenti di 2023, sehingga proyeksi 2050 tetap bergantung pada asumsi berlanjutnya laju pemanasan saat ini. Kajian ini adalah pengukuran tren jangka panjang, bukan ramalan cuaca — yang ditunjukkannya adalah arah pergerakan emisi, bukan angka pasti setiap tahunnya.





















