Gas Rumah Kaca, Muka Laut, dan Bahang Samudra Sama-sama Cetak Rekor pada 2025

Ilustrasi air lelehan mengalir di permukaan gletser

Ilustrasi pencairan es. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Konsentrasi gas rumah kaca, tinggi muka laut global, dan kandungan bahang laut sama-sama mencatat rekor tertinggi sepanjang pengukuran pada 2025. Kesimpulan itu datang dari laporan tahunan ke-36 yang disusun 625 ilmuwan dari 60 negara.

Laporan State of the Climate in 2025 terbit sebagai suplemen Bulletin of the American Meteorological Society volume 107 nomor 8, edisi Agustus 2026, dengan DOI 10.1175/2026BAMSStateoftheClimate. Bahannya dihimpun dari stasiun pemantau di darat, laut, es, dan satelit.

"Ini upaya internasional yang menyeluruh dan kolaboratif untuk menilai metrik tahunan atmosfer, samudra, dan kriosfer," kata Alan Sealls, Presiden American Meteorological Society. Kriosfer adalah bagian bumi yang tertutup es dan salju.

Angka-angka yang tercatat

Karbon dioksida di atmosfer mencapai 425,6 bagian per juta, naik 53 persen dari tingkat pra-industri sekitar 278 bagian per juta. Metana tercatat 166 persen di atas tingkat pra-industri dan nitrogen oksida 26 persen. Emisi karbon dari bahan bakar fosil menyentuh rekor 10,3 petagram karbon per tahun.

Tinggi muka laut rata-rata global memecahkan rekor untuk tahun ke-14 berturut-turut, sekitar 111,2 milimeter di atas garis dasar 1993, dengan laju kenaikan sekitar 3,5 milimeter per tahun. Kandungan bahang laut sampai kedalaman 2.000 meter juga mencetak rekor baru, dan sekitar 87 persen permukaan mengalami gelombang panas laut pada suatu titik sepanjang tahun.

Arktik mengalami tahun terhangat kedua dalam 126 tahun catatan. Antarktika mencatat tahun terhangat sejak pengukurannya dimulai pada 1979. Gletser di darat kehilangan massa untuk tahun ke-38 berturut-turut, dan sekitar 41 persen dari seluruh kehilangan sejak 1976 terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.

Panas tanpa El Nino

Suhu rata-rata global 2025 berada di peringkat kedua atau ketiga tertinggi, di bawah 2023 dan 2024. Yang membedakan, tahun itu panas tanpa dorongan El Nino — pola pemanasan berkala di Samudra Pasifik yang biasanya mengangkat suhu global.

"Tahun terhangat tanpa El Nino," kata Robert Dunn, editor utama bab Iklim Global dari UK Met Office.

Bab Samudra Global yang disusun 68 penulis memuat untuk pertama kalinya bagian khusus tentang oksigen terlarut. Persediaan oksigen terlarut samudra global turun sekitar 0,45 persen per dekade sejak 1965. Denis Volkov dan Renellys Perez, editor bab itu, mencatat suhu permukaan laut rata-rata global bertahan di atas selang kepercayaan 95 persen sejak pertengahan Maret 2023 hingga awal November 2025.

Yang bergerak ke arah lain

Tidak semua indikator memburuk. Emisi karbon global dari kebakaran justru mencapai tingkat terendah sejak 2003, turun 26 persen dibanding 2024 — meski Amerika Utara dan Uni Eropa mengalami musim kebakaran yang ekstrem. Kelembapan tanah global rata-rata lebih kering pada 2025 dibanding tahun mana pun sepanjang 1991–2025, didorong kekeringan di Belahan Bumi Utara.

Sepanjang 2025 tercatat 97 bernama, di atas rata-rata 1991–2020 sebesar 87.

Laporan ini berisi penilaian atas indikator yang terukur, bukan analisis yang menautkan tiap peristiwa cuaca ke penyebabnya. Sealls menyebut dokumen itu menyajikan "data yang telah ditelaah sejawat yang melukiskan gambaran global tentang posisi kita saat ini". Naskah lengkap dan ringkasan eksekutifnya tersedia lewat portal penerbitan American Meteorological Society.

Baca Juga

Ilustrasi peneliti bekerja dengan mikroskop di laboratorium
Dosis Klomifen Makin Tinggi, Angka Keguguran di 21.004 Siklus Bayi Tabung Ikut Naik
Kerumunan penonton konser di bawah sorot lampu panggung
Kupu-kupu Kertas di Konser J-Hope dan Riset soal Boikot Penggemar K-pop
Asap dan api membakar kawasan hutan
Kebakaran Hutan British Columbia Menelan Korban Jiwa, 20 Ribu Warga Diperintahkan Mengungsi
Ilustrasi tabung reaksi berisi cairan di laboratorium riset
Unhas Raih Pendanaan Hilirisasi Riset Rp31,3 Miliar untuk 67 Inovasi
Ilustrasi kumbang yang difoto dari jarak dekat
Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima
Ilustrasi mahasiswa kedokteran berdiskusi di lingkungan kampus
Mahasiswa Kedokteran USK Juara II Internasional lewat Meta-Analisis Terapi PTSD Pengungsi