Cekricek.id — Pemerintah Thailand menghentikan penerbitan izin membawa senjata api baru di seluruh negeri selama satu tahun. Perintah itu keluar beberapa hari setelah penembakan di sebuah sekolah yang menewaskan sejumlah orang dan mengguncang opini publik.
Dikutip dari Anadolu, Selasa (11/8/2026), Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyatakan langkah tersebut ditempuh untuk “menjaga ketertiban umum, mengurangi risiko kekerasan, dan memulihkan kepercayaan publik”.
Ini adalah tindak lanjut dari janji yang ia sampaikan beberapa hari sebelumnya. Cekricek.id sudah memberitakan Anutin menjanjikan aturan senjata api yang lebih ketat usai penembakan sekolah itu, termasuk pembatasan membawa senjata di ruang publik.
Penyaringan Pembeli Diperketat
Kementerian Dalam Negeri, melalui Departemen Administrasi Provinsi, memerintahkan pejabat daerah memperketat prosedur penyaringan permohonan izin pembelian senjata api. Pemeriksaan latar belakang harus dilakukan menyeluruh berdasarkan Undang-Undang Senjata Api, menurut penyiar NBT WORLD yang dikutip Anadolu.
Penangguhan setahun itu menyasar izin membawa senjata api keluar rumah, bukan izin kepemilikan yang sudah lebih dulu diterbitkan. Pemilik senjata berizin tetap boleh menyimpan senjatanya, tetapi permohonan baru untuk membawanya ke ruang publik tidak akan diproses selama masa penangguhan berlaku.
Pengawasan terhadap pemilik senjata berizin yang sudah ada juga diperkuat untuk memastikan mereka tetap memenuhi syarat hukum. Aturan yang berlaku menyebut senjata api harus disimpan di rumah dan tidak boleh dibawa ke ruang publik tanpa alasan yang sah. Pelanggarnya terancam pidana penjara sampai lima tahun, denda hingga 10.000 baht atau sekitar US$301, atau keduanya sekaligus.
Usulan Keselamatan Sekolah dari Kementerian Pendidikan
Di jalur terpisah, Menteri Pendidikan Prasert Jantararuangthong mengajukan paket keselamatan nasional berisi enam butir kepada Kabinet. Isinya antara lain mewajibkan pemeriksaan kesehatan jiwa, menggelar latihan tanggap darurat di sekolah, serta menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap perundungan dan pembawaan senjata ke lingkungan sekolah. Rincian itu dilaporkan Thai Enquirer sebagaimana dikutip Anadolu.
Paket tersebut menyentuh sisi yang tidak tercakup oleh pembatasan izin senjata: apa yang terjadi di dalam sekolah sebelum sebuah serangan berlangsung. Penyelidikan atas kasus pekan lalu menunjukkan tanda-tanda yang terlewat. Cekricek.id sebelumnya melaporkan pelaku pernah membawa senapan angin ke sekolah dan kerap mengakses tayangan berisi kekerasan.
Korban dan Rentetan Kekerasan Bersenjata
Penembakan itu terjadi pada Jumat (7/8/2026). Anadolu menyebut sembilan orang tewas, termasuk kakek dan nenek pelaku, sementara pelaku yang berstatus pelajar kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Jumlah korban terus bergerak sejak hari kejadian; angkanya sempat bertambah menjadi delapan setelah seorang siswi berusia 12 tahun meninggal dunia pada awal pekan ini.
Kekerasan bersenjata di Thailand tidak berhenti di lingkungan sekolah. Dalam peristiwa terpisah pada Senin, seorang mantan anggota parlemen ditangkap terkait pembunuhan ketua Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi.
Thailand termasuk negara dengan kepemilikan senjata api sipil yang tinggi di Asia Tenggara, dan penangguhan izin bawa senjata selama setahun ini menjadi salah satu langkah pembatasan paling luas yang diambil pemerintahnya dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Penembakan Sekolah di Thailand: Tujuh Tewas, Pelaku Siswa 14 Tahun




















