Cekricek.id — Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Thrive Capital, Joshua Kushner, melontarkan kritik terbuka terhadap para pemodal ventura Silicon Valley yang dinilainya terlalu larut dalam euforia kecerdasan buatan. Kritik itu ia sampaikan lewat surat pertama perusahaannya kepada para investor.
Dikutip dari TechCrunch, techcrunch.com, Jumat (14/8/2026), surat tersebut kemudian dibagikan kepada Bloomberg. Dalam dokumen itu Kushner mengakui besarnya peluang yang dibuka teknologi kecerdasan buatan, namun ia justru memakai pengakuan tersebut sebagai pijakan untuk memperingatkan rekan-rekan sesama investor.
“Akan menjadi kekeliruan besar dalam pandangan kami bila membiarkan kegembiraan melemahkan disiplin investasi kami,” kata Joshua Kushner.
Baca juga: Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027
Melawan Strategi Tebar Jala
Thrive Capital mengambil jalan yang berbeda dari kebiasaan umum di Lembah Silikon. Alih-alih memakai pendekatan tebar jala, yaitu menaruh taruhan pada sebanyak mungkin perusahaan rintisan dengan asumsi sebagian besar akan gagal, Thrive memusatkan modalnya. Bloomberg melaporkan sekitar 90 persen modal perusahaan itu mengalir ke 15 portofolio teratas pada setiap dana kelolaan.
Pendekatan tebar jala selama ini identik dengan filosofi pencilan yang dipopulerkan tokoh seperti Marc Andreessen. Logikanya, kerugian pada mayoritas investasi akan tertutup oleh imbal hasil luar biasa dari segelintir perusahaan yang berhasil. Kushner menempatkan Thrive pada kutub yang berlawanan.
“Kami independen karena pasar bergerak antara ketakutan dan antusiasme, dan tidak satu pun dari keduanya bisa menggantikan penilaian,” ujar Joshua Kushner.
Ia juga menegaskan bahwa keyakinan Thrive tidak berhenti pada gagasan industri akan didisrupsi dari luar. Menurutnya, banyak industri justru akan berubah dari dalam, sebuah pandangan yang ia sebut membedakan perusahaannya dari kebanyakan pesaing.
Baca juga: BI Dorong Negara BRICS Jadi Inovator AI, Bukan Sekadar Pengguna
Angka di Balik Klaim Disiplin
Thrive Capital mengelola dana sebesar 60 miliar dolar Amerika Serikat. Kushner mengungkapkan tingkat pengembalian internal kotor di seluruh dana kelolaannya mencapai 41 persen, sementara tingkat pengembalian bersihnya 33 persen. Perusahaan itu mengembalikan likuiditas lebih dari 1 miliar dolar Amerika Serikat kepada para investornya dalam 12 bulan terakhir.
Dana tahap awal Thrive tahun 2022 yang semula bernilai 516 juta dolar Amerika Serikat telah tumbuh melampaui 3,7 miliar dolar Amerika Serikat per akhir Juni. Dana itu menanamkan modal pada OpenAI, Anduril, dan SpaceX. Portofolio lain perusahaan tersebut mencakup Wiz, Ramp, serta Stripe.
Thrive Holdings, unit spinoff perusahaan itu, telah mengakuisisi lebih dari 70 bisnis dengan sokongan tim teknik beranggotakan 35 orang. Pada Desember 2025, OpenAI mengambil kepemilikan di Thrive Holdings dan menugaskan personelnya untuk mendukung perusahaan-perusahaan portofolio Thrive.
Angka-angka tersebut menjadi dasar Kushner mempertahankan argumennya. Ia berpendapat strategi pemusatan modal terbukti bekerja justru karena Thrive lebih dulu masuk ke perusahaan-perusahaan luar biasa pada tahap awal, bukan karena menyebar taruhan seluas mungkin. Meski begitu, TechCrunch mencatat pendekatan semacam itu belum tentu bisa ditiru dana ventura kecil yang tidak memiliki akses istimewa seperti Thrive.
Baca juga: Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot
Kushner menutup suratnya dengan peringatan yang paling langsung menyentuh perdebatan soal gelembung kecerdasan buatan. Ia menyatakan tidak setiap bisnis yang tumbuh cepat merupakan bisnis yang istimewa, dan tidak setiap perusahaan istimewa merupakan investasi yang bagus pada setiap tingkat harga. Menjaga pembedaan itu, menurutnya, adalah tanggung jawab pengelola dana.















