Cekricek.id — Dalam sebuah naskah Jawa Kuno berjudul Bhīṣmaprava, Maraja Paṇḍu pulang dari berburu tanpa membawa seekor pun hewan buruan. Yang ia temukan justru sepasang rusa putih yang sedang kawin. Panah dilepaskan, dan rusa itu seketika berubah wujud menjadi seorang bidadari (vidyādarī) dan seorang pendeta bernama Bhagavān Cəndama. Sang pendeta mengutuk Paṇḍu: bila ia bersetubuh dengan istrinya, ia akan mati. Dari kutukan itulah naskah tersebut justru memulai uraiannya tentang bagaimana lima Pāṇḍava tetap dapat lahir ke dunia.
Adegan itu ditelusuri Putu Eka Guna Yasa dari Universitas Udayana, Bali; Ida Bagus Arya Lawa Manuaba dari Sanatanagama Institute, Bali; dan I Wayan Cahyadi Surya Distira Putra dari ITP Markandeya Bali lewat artikel Discourses on pregnancy in Old Javanese Śaiva texts from the perspective of Kawi culture (Wacana kehamilan dalam teks Śaiwa Jawa Kuno dari perspektif budaya Kawi), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025.
Yang mereka sebut budaya Kawi adalah produksi dan penyebaran pengetahuan yang diungkapkan melalui bahasa Jawa Kuno, termasuk serapan kata-kata bahasa daerah. Dalam kerangka itu, kehamilan bukan urusan pinggiran. Ia muncul di berbagai naskah lintas wilayah: Bhīṣmaprava dari tradisi Merapi-Merbabu di Jawa Tengah, Bhīma Svarga dari tradisi Jawa Barat, serta sejumlah naskah lontar Bali, yakni Tutur Aṅgastya Prāṇa, Śivāgama, Tutur Kanda Pat Bhūta, Dharma Kahuripan, dan Uṣadha Mānak. Menurut genrenya, naskah-naskah itu menonjolkan sisi teologis, naratif, atau praktis kehamilan dari sudut pandang penyembuhan.
Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Kutukan di Hutan dan Asap Dupa Pemanggil Dewa
Bhīṣmaprava, yang edisinya diterbitkan Agung Kriswanto pada 2018, diduga kuat berasal dari Ādiparva Jawa Kuno, prosa yang bersandar pada kitab senama dalam Mahābhārata Sanskerta. Dalam naskah itu, setelah dikutuk, Paṇḍu menyampaikan nasibnya kepada istri pertamanya, Saṅ Prəta (Kunti). Saṅ Prəta lalu mengaku pernah menerima anugerah dari Bhagavān Dyuvasa berupa kemampuan memanggil para dewa dengan asap. Ia melangkahi asap dupa sambil memusatkan pikiran pada Saṅ Dharmarāja, dan seketika hamil. Anak pertamanya diberi nama Saṅ Punta — Yudhiṣṭhira. Ketika Paṇḍu menginginkan anak yang ditakuti dunia, Saṅ Prəta memusatkan pikiran pada Bhaṭāra Bāyu dan lahirlah Saṅ Sena — Bhīma. Belakangan Saṅ Madrin, istri kedua Paṇḍu, meminta giliran; ia melangkahi dupa sambil berkonsentrasi pada Mahādeva, dan lahirlah Sakula serta Sadeva.
Perbedaannya dengan Ādiparva justru di titik itu. Dalam Ādiparva, kelahiran para Pāṇḍava berhasil berkat mantra bernama Ādityahṛdaya pemberian Bhagavān Durvāsa; dalam Bhīṣmaprava mantra itu diganti ritual asap dupa bernama Asap Dupa Paṅgil. Begitu pula soal kelahiran para Kaurava. Ādiparva menyebut Devī Gāndhārī dapat memiliki anak karena anugerah Bhaṭāra Rudra dan keteguhan brata-nya; Bhīṣmaprava menyebut anak-anak Gāndhārī lahir karena kesediaannya berguru kepada Prəta.
Kisah Gāndhārī dalam naskah Merapi-Merbabu itu berakhir gelap. Ia tidak melakukan pemanggilan dewa saat melangkahi dupa. Dalam perjalanan pulang ia melihat seratus delapan ekor kepiting dan berharap punya anak sebanyak itu. Pada saat itu tiga raksasa bernama Bhūta Rah, Bhūta Becara, dan Bhūta Becari masuk ke dalam perutnya. Pada bulan pertama kehamilan, orang-orang memberi Gāndhārī hadiah berupa kepiting. Ia meninggal menjelang melahirkan; darah dari rahimnya ditempatkan dalam kendi emas, dan setelah sepuluh bulan dirapal dengan pembacaan teks suci, lahirlah para Kaurava.
Bagi ketiga penulis, susunan itu bukan kebetulan. Saṅ Prəta membayangkan dirinya (ṅarcaṇa) menikahi sederet dewa, dan lahirlah keturunan berkualitas dewa; Gāndhārī tidak melakukan visualisasi yang sama, lalu tersusupi tiga entitas buta. Kriswanto menduga naskah ini dipakai sebagai lakon wayang oleh para dalang di kawasan Merapi-Merbabu sekitar abad ketujuh belas. Kalau dugaan itu benar, pengetahuan tentang persiapan ritual pra-kehamilan disebarkan lewat pertunjukan, bukan lewat kelas.
Sembilan Bulan, Sembilan Nama
Dari Jawa Tengah, artikel itu bergerak ke tradisi naskah Jawa Barat. Bhīma Svarga, yang diperkirakan digubah sekitar abad kelima belas dan edisinya diterbitkan Aditia Gunawan pada 2019, memuat wacana kehamilan dalam dialog antara Bhaṭāra Guru dan Bhīma. Menariknya, Bhīma yang dalam Mahābhārata tampil sebagai tokoh berotot di sini justru digambarkan sebagai sosok berkemampuan intelektual dan spiritual tinggi, bahkan menyatakan diri sebagai guru karena telah menemukan rahasia kematian dan pembebasan akhir (mokṣa).
Dalam naskah itu, Bhīma menyatakan dirinya sudah hadir jauh sebelum pembuahan: di dalam sisir dan cermin, di dalam minyak wijen, di dalam penutup mata, lalu di dalam pandangan dan senyum kedua calon orang tua, kemudian di dalam makanan dan minuman mereka, dan akhirnya di dalam pikiran dan bayangan saat keduanya bersenggama. Setelah pembuahan, janin diberi nama berbeda tiap bulan: Saṅ Hyaṅ Gəñjor Maṇik Nirmala pada bulan pertama, Saṅ Hyaṅ Maṇik SamaṅkuPuh pada bulan kedua, Saṅ Hyaṅ Maṇik Bhūṣaṇa pada bulan ketiga, Saṅ Hyaṅ Maṇik Tiga Varṇa pada bulan keempat, Saṅ Hyaṅ Maṇik Śrigandiṅ pada bulan kelima, Saṅ Hyaṅ Maṇik Kəmbaṅ Varṇa pada bulan keenam, Saṅ Hyaṅ Bhūta Ləṅis pada bulan ketujuh, Saṅ Hyaṅ Vibhā Saṅsaya pada akhir bulan kedelapan, dan Saṅ Hyaṅ Variṅin Suṅsaṅ setelah bulan kesembilan.
Deretan nama itu dibaca para penulis sebagai deskripsi, bukan sekadar hiasan. Kata maṇik yang berarti permata atau kristal mutiara dipakai sampai bulan ketujuh, sesuai bentuk janin yang masih membulat. Setelah bulan ketujuh dipakai kata bhūta, yang antara lain berarti makhluk hidup material atau unsur, dan mungkin berkaitan dengan organ janin yang sudah terbentuk sempurna. Pada bulan kedelapan muncul kata vibhā yang berarti indah, yang boleh jadi terkait perkembangan wajah. Terakhir, variṅin suṅsaṅ — dari variṅin yang berarti pohon beringin dan suṅsaṅ yang berarti terbalik — menunjuk posisi janin yang menungging menjelang lahir.
Tiga Puluh Enam Dewa yang Merakit Tubuh
Di Bali, urutan serupa muncul dengan kepadatan yang lebih tinggi. Tutur Aṅgastya Prāṇa, yang sampai artikel itu ditulis belum memiliki edisi maupun terjemahan dan disalin dari lontar koleksi Gria Lod Rurung, Desa Riang Gede, Tabanan, memuat percakapan antara Saṅ Hyaṅ Ṛṣi Aṅgastya Prāṇa dan dua putranya, Saṅ Surābraṭa dan Saṅ Krəti. Naskah itu menyebut sang resi telah memperoleh anugerah dari tapa brata dan berwujud resi Buddha sebelum menjelaskan asal-usul perkembangan janin.
Prosesnya dinamai bertingkat. Cinta ayah disebut Smara Jaya, cinta ibu disebut Smara Ratih, dan calon anak dinamai Smara Śūnya. Ketika keduanya saling menyukai, nama itu berubah menjadi Smara Lulut Manah pada ayah dan Smara Honəṅ Manah pada ibu, sementara calon anak dinamai Smara Asih. Saat bersenggama, calon anak bernama Saṅ Hyaṅ Śūnyātmā; saat sel telur dan sperma bertemu, ia dinamai Kāmolah. Pertemuan keduanya disebut Saṅ Ajur Muluṅ, lalu Saṅ Bubur Rumakət ketika sudah bercampur, dan akhirnya Saṅ Hyaṅ Antiga Jati — telur purba, atau embrio — setelah Saṅ Hyaṅ Nīlakaṇṭha melimpahkan anugerah.
Bagian paling mencolok dari naskah ini adalah daftar tiga puluh enam dewa yang masing-masing menganugerahkan satu bagian tubuh kepada janin yang mulai berbentuk manusia. Saṅ Hyaṅ Ākāśa memberi kepala, Saṅ Hyaṅ Sūrya Candra memberi mata kiri dan kanan, Saṅ Hyaṅ Kuvera memberi telinga, Saṅ Hyaṅ Yama memberi mulut sekaligus kaki, Saṅ Hyaṅ Īśvara memberi jantung, Saṅ Hyaṅ Brahmā memberi hati, Saṅ Hyaṅ Mahādeva memberi ginjal, Saṅ Hyaṅ Viṣṇu memberi empedu, dan Saṅ Hyaṅ Śiva memberi sekat rongga dada. Tubuh manusia, dalam bacaan itu, adalah hasil rakitan kolektif.
Baca juga: Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda
Naskah Bali juga memperkenalkan Kanda Pat, empat saudara mistis yang terdiri atas ari-ari, air ketuban (yeh ñom), darah, dan lamas atau vernix caseosa. Ari-ari dan air ketuban berasal dari ayah, sedangkan darah dan lamas berasal dari ibu. Keempatnya menemani janin sejak dalam kandungan hingga akhir hayat. Bila diberi persembahan dan dihormati, mereka dianggap baik kepada adiknya; bila diabaikan, mereka tidak bersedia menolong, bahkan dapat berubah menjadi makhluk yang mendatangkan kemalangan.
Buddha dan Mudra di Tengah Teks Śaiwa
Śivāgama, karya besar yang digubah Ida Padanda Made Sidemen pada 1939 dan edisinya diterbitkan I Nyoman Suarka bersama rekan-rekannya pada 2003, memerinci perkembangan janin bulan demi bulan. Pada bulan kedua, naskah itu menghubungkan kuantitas sperma dan sel telur dengan jenis kelamin anak: bila sperma lebih sedikit daripada sel telur, anak yang lahir perempuan; bila lebih banyak, anak yang lahir laki-laki; bila berimbang, anak lahir interseks. Pada bulan ketiga, keturunan keluarga bangsawan menjalankan ritual penebusan (panəbusan), dan perempuan hamil diminta berbuat baik lewat pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Yang menarik perhatian para penulis, teks Śaiwa ini dipenuhi unsur Buddha. Pada bulan keempat muncul Bhaṭāra Buddha, dan sepanjang uraiannya hadir Saṅ Hyaṅ Ratnatraya, Saṅ Hyaṅ Pañcatathāgata, dan Saṅ Hyaṅ Paramabuddha, lengkap dengan mudrā bernama Saṅ Hyaṅ Bajradhara dan Śrī Bajraṅkara. Pada bulan ketujuh, seluruh tanda dan bagian tubuh janin lengkap: ibu jari kakinya diisap, dua telapak tangannya menutup wajah, dan sepuluh jarinya menutup tujuh lubang di wajah. Dalam keadaan itu janin disebut sedang bertapa, dan karena itu ibunya harus menjalankan brata Bhaṭāra Buddha serta tidak boleh disiksa, dipukul, atau dibentak. Pada bulan kedelapan posisinya disebut urdhapada atau adhomukha, kaki di atas dan kepala di bawah.
Naskah lain, Tutur Kanda Pat Bhūta, menghitung kehamilan sampai sepuluh bulan dan memberi janin nama baru hampir tiap tahap, dari Saṅ Hyaṅ Māyā Siluman pada bulan pertama sampai I Gajah Pətak — gajah putih — pada bulan kesepuluh. Sejak bulan keenam, janin dijaga sederet saudara mistis: Babu Kətas Baṅ, Babu Bundhi, Babu Ləmana, lalu Babu Habra pada bulan ketujuh dan Babu Kakere pada bulan kedelapan.
Ruwatan pada Tumpək Wayang
Sisi praktis muncul di dua naskah terakhir. Dharma Kahuripan, yang alih aksara dan terjemahannya diterbitkan Sura bersama rekan-rekannya pada 2007, menganjurkan dua upacara agar janin selamat. Yang pertama ruwatan pada hari-hari yang diyakini keramat sekaligus berbahaya, seperti Tumpək Vayaṅ. Naskah itu berbunyi, “kramaniṅ amobot paṅavit deha, yen ya bobotan ika kalaṅkahaṅ tumpək vayaṅ, sayogya riṅ tumpәk vayaṅ ika, malukat riṅ saṅ paṇḍita śiva yogīśvara” — yang oleh ketiga penulis diterjemahkan sebagai perilaku perempuan yang baru hamil, bila kehamilannya melewati hari Tumpək Vayaṅ, sepatutnya menjalani ritual bersama pendeta Śiva Yogīśvara pada hari itu.
Latarnya adalah kepercayaan akan turunnya Bhaṭāra Kāla ke dunia pada hari tersebut untuk memangsa saudaranya sendiri, Kumāra. Upacara penyucian dipimpin pendeta dan digelar di sanggah keluarga. Upacara kedua, pagədoṅ-gədoṅan, digelar saat kandungan berumur lima sampai enam bulan, dengan sarana berupa rangkaian janur berbentuk persegi berhias aneka bunga. Menurut naskah itu, upacara ini digelar berjarak sepuluh sampai lima belas hari menjelang perkiraan kelahiran, di mata air, sungai, atau sanggah keluarga, dan dapat dilaksanakan dalam tingkatan kecil, sedang, atau besar sesuai kemampuan. Isinya permohonan agar janin dijaga Bhaṭārī Prətivi serta para vidyādhara dan vidyādharī.
Nama Allah di Dalam Lontar Bali
Naskah terakhir, Uṣadha Mānak, bersumber dari lontar koleksi Unit Lontar Universitas Udayana. Isinya lebih dari empat puluh cara mengobati persoalan yang mengancam kehamilan dan pengasuhan: sering keguguran, janin mati dalam kandungan, tidak kunjung punya keturunan, sampai anak yang tidak mau makan dan cara menyapih. Artikel itu memperlakukan resep-resep tersebut sebagai data filologis — objek kajian naskah, bukan anjuran pengobatan.
Salah satu resep menyita perhatian penulisnya. Untuk orang yang ingin punya anak, naskah itu menyebut bahan berupa lima ekor kepiting muda yang dicari pada hari Kajəṅ Klivon, ditumbuk mentah, dicampur asam yang telah direbus dan lima sendok air, lalu dimakan setelah mantranya dirapal, dan seluruh prosesnya harus dirahasiakan. Mantranya menyebut para Kaurava. Di sinilah dua naskah yang terpisah ratusan kilometer bertemu: dalam Bhīṣmaprava, Gāndhārī melihat kepiting sebelum hamil, dan masyarakat memberinya kepiting menjelang melahirkan. “Kaitan antara kepiting kecil dan kehamilan ini tampaknya merupakan memori kolektif yang khas dimiliki bersama oleh Jawa dan Bali pramodern,” tulis Yasa dan rekan-rekannya. Detail itu tidak ada dalam Ādiparva yang masih rapat terikat sumber Sanskertanya.
Bagian lain memuat kejutan yang berbeda. Resep melawan keguguran yang disebut paṅañciṅ maṇik atau paṅañciṅ kāma, beserta pembukanya (pamuṅkah), menyertakan mantra yang menyebut Allah, Muhammad, dan Rasulullah, termasuk larik lah ilah, iləlah, muhamatda rahsululah. Penyebutan itu tergolong jarang dalam naskah Bali, walau bukan tidak dikenal; Yasa pada 2020 mendaftar naskah lain dengan ciri serupa, antara lain Kanda Vəsi, Gəguritan Loda, dan Gəguritan Nəṅah Jimbaran.
Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Dari kumpulan itulah kesimpulan artikel dibangun. “Wacana kehamilan secara eklektik mengadopsi praktik dan gagasan yang berasal dari sistem-sistem keagamaan yang berbeda demi menjamin keselamatan dan kesehatan janin,” tulis ketiga penulis — kalimat yang dalam naskah aslinya berbunyi “the discourse of pregnancy eclectically adopts practices and idea stemming from different religious systems to ensure the safety and health of the foetus”. Śivāgama menyisipkan tokoh Buddha, Tutur Aṅgastya Prāṇa menempatkan sang resi sebagai pelajar Buddhisme, dan Uṣadha Mānak memanggil nama-nama dalam teologi Islam.
Para penulis membatasi sendiri jangkauan temuannya. Mereka menegaskan kajian ini hanya memerikan wacana kehamilan sebagaimana muncul dalam sumber-sumber dari Jawa dan Bali, dan menyebut hubungannya dengan tradisi tekstual India masih menunggu penelitian yang lebih luas untuk melacak proses transmisi dan pelokalannya lintas batas geografis, budaya, dan bahasa. Sebagian sumbernya pun masih rapuh secara akses: Tutur Aṅgastya Prāṇa belum punya edisi dan terjemahan, sementara edisi Uṣadha Mānak yang mereka pakai pernah diterbitkan di internet pada 2001 dan 2002 tetapi kini sudah tidak dapat diakses. Artikel ini sendiri merupakan bagian dari proyek MANTRATANTRAM yang didanai European Research Council dengan nomor hibah 101124214.
















