Wanoja Naik Daun, Wanita Meredup di Majalah Sunda Manglé

Ilustrasi majalah-majalah lama di rak kayu.

Ilustrasi majalah-majalah lama di rak kayu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sampul majalah Manglé terbitan 1975 memajang seorang perempuan berkebaya. Sampul terbitan 2023 memajang perempuan berkebaya modern dengan kerudung. Di antara dua sampul itu terbentang enam dekade, lebih dari lima juta kata, dan satu pergeseran yang ternyata bisa dihitung: kata apa yang dipakai penulis Sunda ketika berbicara tentang perempuan, dan kata-kata apa saja yang biasa menempel di sekelilingnya.

Perhitungan itu dipaparkan Susi Yuliawati, dosen Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran yang berstatus associate professor, lewat artikel Transformed images of women in a Sundanese magazine; A corpus linguistics perspective (Citra perempuan yang berubah dalam sebuah majalah Sunda; perspektif linguistik korpus), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025. Ia meneliti empat kata benda bahasa Sunda yang menunjuk perempuan — geureuha, pamajikan, wanita, dan wanoja — di dalam majalah Manglé sepanjang 1958 sampai 2019.

Lima Juta Kata dari Enam Puluh Tahun Manglé

Manglé berdiri di Bogor pada 21 Oktober 1957 dan menerbitkan edisi perdananya sebulan kemudian, 21 November 1957. Majalah ini disebut Susi sebagai satu-satunya terbitan berbahasa Sunda yang terus terbit sejak saat itu. Terbitnya berubah-ubah: mula-mula bulanan, dua bulanan pada 1965, tiga bulanan pada 1969, lalu mingguan sejak 1971. Tebalnya juga naik-turun. Edisi awal hanya 20 halaman, lalu membengkak sampai lebih dari 70 halaman pada rentang 1991 sampai 2007, dan menyusut ke sekitar 60 halaman pada 2008 sampai 2013.

Baca juga: Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid

Nasib oplahnya bergerak ke arah yang lain. Pada 1960-an, menurut artikel itu, Manglé sempat mencetak 90.000 eksemplar per edisi. Krisis moneter pada masa peralihan dari Orde Baru ke Reformasi memangkas peredarannya, dan kini tirasnya sekitar 7.500 eksemplar. Isinya pun bergeser: mulanya 55 persen hiburan dan minat insani, 20 persen sejarah dan budaya, 20 persen agama dan pendidikan, serta 5 persen berita yang sifatnya mengajar. Setelah pendiri majalah, Oeton Moechtar, meninggal pada 1980, porsi berita naik dari 20 persen menjadi 50 persen.

Dari majalah setua itu Susi menyusun korpus — kumpulan teks yang bisa dibaca mesin dan diolah secara statistik. Ia mengambil sampel 165 edisi dengan teknik penarikan sampel acak sistematis berproporsi, sehingga terkumpul lebih dari lima juta kata. Sebarannya timpang mengikuti panjang tiap periode politik yang dipakainya sebagai kerangka, mengikuti pembabakan sejarawan Susan Blackburn: 78.081 kata dari masa Demokrasi Terpimpin (1958–1965), 1.897.777 kata dari Orde Baru (1966–1998), 324.614 kata dari masa Transisi menuju Demokrasi (1999–2003), dan 2.714.130 kata dari masa Reformasi (2004–2019). Penghitungan frekuensi dan pencarian pasangan kata dikerjakan dengan perangkat lunak korpus Sketch Engine.

Ketika Perempuan Terutama Disebut sebagai Istri

Hasil hitungan pertama sederhana tetapi tajam. Sepanjang keempat periode, kata yang paling sering dipakai untuk membicarakan perempuan di Manglé adalah pamajikan, yang berarti istri. Frekuensinya memang turun 40 persen dari periode awal ke periode akhir, tetapi ia tetap juara. Dua kata lain merosot jauh lebih dalam: geureuha, bentuk halus dari pamajikan, anjlok 97 persen, sedangkan wanita turun 84 persen.

Untuk melihat bagaimana perempuan digambarkan, Susi memakai analisis kolokasi, yaitu penelusuran kata-kata yang secara statistik sering muncul berdampingan dengan kata yang diteliti. Ambang yang dipakainya adalah skor MI minimal tiga, kemunculan bersama minimal lima kali, dalam rentang empat kata ke kiri dan empat kata ke kanan. Cara ini dipinjam dari tradisi linguistik korpus yang, misalnya, menunjukkan bahwa bachelor dan spinster sama-sama berarti belum menikah, tetapi hidup dalam rombongan kata yang jauh berbeda.

Pada masa Orde Baru, kata pamajikan di korpus Manglé bergandengan dengan anak, adi, indung, mitoha, lalu dengan salaki dan lalaki, dan berikutnya dengan imah, kamar, dapur, serta lembur. Ada pula rombongan kata rasa: ceurik, sieun, kerung, seuri, haté. Dalam pemakaian yang lebih luas, kata itu kerap muncul dari mulut lelaki yang istrinya berselingkuh atau yang hendak bercerai, sehingga penilaian yang menempel condong negatif. Pada masa Reformasi pola itu, tulis Susi, tidak banyak berubah.

Adapun geureuha nyaris hanya bisa dibaca pada periode pertama karena setelah itu terlalu jarang muncul. Kata itu bergandengan dengan putra, misalnya dalam kalimat dokter di dalam sebuah cerita yang bertanya siapa yang harus ditolong, istri atau anak. Susi menghubungkannya dengan tingkat tutur halus dalam bahasa Sunda, yang dipakai untuk membicarakan orang berkedudukan tinggi.

Baca juga: Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung

Wanita, Kata Pinjaman yang Ikut Berpolitik

Kata wanita berasal dari bahasa Indonesia, tetapi ia hadir di sepanjang keempat periode. Manglé memakainya ketika membicarakan pekerjaan — wanita karier, wanita pengarang, ketua seksi wanita — dan ketika menyebut organisasi seperti Dharma Wanita, Yayasan Wanita Kereta Api, serta Kelompok Wanita Tani.

Di masa Demokrasi Terpimpin, kolokat kata ini justru sedikit dan bermuatan buruk: perempuan disandingkan dengan harta dan tahta sebagai ukuran hidup seorang lelaki. Pada masa Orde Baru, kata wanita menempel pada dunia organisasi: dharma, organisasi, ketua, koperasi, PKK, anggota, usaha, dan unit. Susi membaca pola ini lewat gagasan ibuisme negara yang diuraikan Blackburn, yakni penempatan perempuan sekaligus sebagai istri, ibu, dan penyumbang keberhasilan pembangunan negara.

Kemerosotan kata wanita, menurut artikel itu, kemungkinan berkaitan dengan persaingannya melawan kata perempuan. Nama kementerian berubah dari Menteri Negara Urusan Peranan Wanita menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada 1999, bersamaan dengan berakhirnya Orde Baru. Susi mengutip argumen Kris Budiman bahwa perempuan lebih disukai karena berakar pada kata empu, sementara wanita kerap dikaitkan dengan tafsir Jawa wani ditata.

Wanoja dan Perempuan yang Berdiri Sendiri

Satu-satunya kata yang grafiknya naik terus adalah wanoja. Pada masa Demokrasi Terpimpin ia paling jarang dipakai, hanya 13 kali per satu juta kata. Pada Orde Baru angkanya melonjak menjadi 111 kali per satu juta kata, dan pada Reformasi ia menjadi kata kedua tersering setelah pamajikan. Kata ini, menurut catatan Susi, diturunkan dari kata Kawi wanudya dan merujuk perempuan dewasa, menikah atau tidak.

Rombongan katanya berbeda dari yang lain. Pada Orde Baru, wanoja muncul bersama Sunda, pangarang, bisa, dan Indonesia, termasuk dalam kalimat yang menyebut Dewi Sartika sebagai pahlawan yang dibanggakan orang Sunda. Pada masa Reformasi, kolokatnya melebar ke wilayah yang sebelumnya tidak muncul: caleg, partey, kapamingpinan, pamingpin, tokoh, posisi, peran, kalungguhan, dan organisasi. Muncul pula kata yang menandai kemampuan — perceka, kamampuhan, kaparigelan, jawara — serta kata kerja penampilan seperti midangkeun, mintonkeun, dan nembongkeun. Isu gender ikut terbawa lewat kekerasan, gender, sajajar, dan pemberdayaan.

Susi menghubungkan naiknya wanoja dengan perubahan sosial di Jawa Barat, dengan hati-hati. Ia mencatat data Gavin W. Jones bahwa pada masa Demokrasi Terpimpin, Jawa Barat adalah provinsi dengan usia kawin perempuan termuda di Indonesia: seperempat perempuan yang lahir antara awal abad ke-20 dan akhir 1940-an menikah sebelum berumur 15 tahun, dan tiga perempatnya menikah sebelum 18 tahun di perdesaan. Status itu bertahan sampai Orde Baru dan masa Transisi, lalu lepas pada data 2005. “Saya berargumen bahwa kecenderungan pemakaian istilah wanoja di majalah Manglé mungkin mencerminkan penggambaran perempuan yang berpendidikan cukup tinggi, berkarier, dan menunda perkawinan sampai usia yang lebih matang,” tulis Susi Yuliawati dalam artikel itu — kalimat aslinya berbahasa Inggris. Kata “mungkin” di kalimat itu bukan basa-basi: yang ditunjukkan korpus adalah kesejajaran pola, bukan hubungan sebab-akibat.

Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas

Yang Tidak Bisa Dijawab oleh Hitungan Kata

Artikel ini juga terbuka tentang batas-batasnya sendiri. Kata geureuha, misalnya, terlalu jarang muncul untuk bisa ditelusuri di luar periode pertama. “Karena kemunculannya yang jarang, penelusuran lebih jauh atas pemakaian geureuha dalam majalah Manglé agak sulit dilakukan,” tulisnya — juga terjemahan dari kalimat berbahasa Inggris. Hal serupa terjadi pada masa Transisi menuju Demokrasi: karena periodenya pendek, korpusnya hanya sekitar 325.000 kata, sehingga kolokat yang bermakna sedikit dan gambaran yang muncul hanya mengulang pola Orde Baru dalam bentuk yang lebih sederhana.

Batas lain melekat pada bahan yang dipakai. Yang diteliti adalah satu majalah, bukan percakapan sehari-hari masyarakat Sunda, dan hanya empat kata benda yang dipilih karena perubahan pemakaiannya nyata secara statistik. Apa yang terbaca dari sana adalah citra yang dibangun oleh para penulis Manglé dari waktu ke waktu — bukan potret langsung kehidupan perempuan Sunda. Susi sendiri menutup artikelnya dengan menawarkan metode ini untuk dipakai pada teks-teks Sunda lain, atau pada teks berbahasa daerah lain di Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi naskah tulisan tangan kuno di atas meja kayu.
Ketika Juru Tulis Jawa Menyalin sambil Ikut Bicara
Ilustrasi tumpukan kitab kuning tua beraksara Arab di atas rehal kayu di serambi pesantren.
Kitab Berbahasa Sunda yang Dicetak di Kairo, 1921-1939
Ilustrasi tumpukan buku Sunda beraksara Latin ejaan lama di atas meja kayu tua.
Wawacan Rusiah nu Geulis, Mahakarya Sunda dari 1921
Ilustrasi tumpukan lontar Bali beraksara Kawi terikat tali di atas meja kayu tua.
Tata Bahasa Sanskerta yang Berubah Jadi Kalender Ritual
Ilustrasi tumpukan lontar Bali beraksara Bali yang terbuka di atas kain kuning.
Kehamilan dalam Naskah Jawa Kuno: 36 Dewa Merakit Tubuh Janin
Relief Indrajit sebagai pemanah berkuda di Candi Panataran, Jawa Timur.
Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam