Cekricek.id — Perkembangan kecerdasan artifisial tidak boleh menggeser peran perguruan tinggi sebagai pusat penciptaan pengetahuan. Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, di hadapan akademisi dan peneliti lintas disiplin yang berkumpul di Bali.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, kemdiktisaintek.go.id, Sabtu (15/8/2026), Stella berbicara pada konferensi akademik internasional bertajuk AI & Humans – Shaping the Future yang digelar di Tsinghua Southeast Asia Center, Bali. Forum tersebut mempertemukan pengajar dan peneliti dari beragam bidang untuk membahas posisi manusia di tengah percepatan teknologi.
Tiga Hal yang Wajib Dipikirkan Universitas
Stella menyatakan kampus perlu kembali menegaskan fungsi dasarnya alih-alih sekadar mengejar adopsi perangkat baru. Ia merinci tiga hal yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan lembaga pendidikan tinggi mana pun.
Baca juga: USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara
“Universitas harus berpikir serius mengenai tiga hal. Yang pertama adalah penciptaan pengetahuan (creation of knowledge). Yang kedua adalah transmisi pengetahuan (transmission of knowledge). Dan yang ketiga adalah kurasi pengetahuan (curation of knowledge),” kata Stella.
Menurut dia, fungsi kurasi justru semakin menentukan ketika informasi tersedia berlimpah dan mudah diakses melalui sistem kecerdasan artifisial. Kemampuan menilai, memilah, dan menguji keandalan informasi menjadi keterampilan yang harus ditanamkan kepada mahasiswa, bukan diserahkan sepenuhnya kepada mesin. Kemudahan memperoleh informasi, kata Stella, perlu diimbangi kemampuan menimbang mutu informasi itu sendiri.
Kapasitas Manusia Tetap Menjadi Pusat
Stella menekankan kapasitas manusia untuk menghasilkan dan memahami pengetahuan harus tetap berada di pusat proses akademik. Ia mendorong perguruan tinggi memperkuat kemampuan mahasiswa menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial, sehingga teknologi diperlakukan sebagai alat bantu dan bukan pengganti nalar.
Penguatan itu, kata dia, menyangkut cara mahasiswa dilatih berpikir kritis, merumuskan pertanyaan penelitian, dan menguji temuan. Kampus diharapkan tidak berhenti pada pelatihan teknis penggunaan perangkat, melainkan membangun kebiasaan ilmiah yang tetap relevan ketika teknologi berubah cepat.
Baca juga: Tim Itera Ubah Rambut Jagung dan Kelor Jadi Teh Herbal
Kolaborasi Internasional dan Beban Lingkungan AI
Stella menyebut kerja sama lintas negara memperkuat kapasitas Indonesia di bidang sains dan teknologi. Ia mengaitkan hal tersebut dengan perhatian pemerintah pada pengembangan riset nasional.
“Presiden Prabowo memiliki kepentingan yang tinggi terhadap sains, teknologi, dan kolaborasi internasional,” ujar Stella.
Selain manfaat, Stella mengingatkan pengembangan kecerdasan artifisial membawa konsekuensi keberlanjutan yang perlu diperhitungkan. Ia menyoroti kebutuhan energi dan air untuk menopang infrastruktur pendukung teknologi tersebut, sehingga pembahasan soal AI di lingkungan akademik semestinya berjalan beriringan dengan kalkulasi dampak lingkungan.
Baca juga: Itera Kembangkan SmartCassava, Alat Ukur Kadar Pati Singkong
Keikutsertaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam forum tersebut ditempatkan sebagai bagian dari agenda Diktisaintek Berdampak, arah kebijakan yang menuntut hasil pendidikan tinggi dan riset dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
















