Cekricek.id — Rambut jagung dan daun kelor yang selama ini berakhir sebagai limbah kebun didorong menjadi produk herbal bernilai jual. Tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata memperkenalkan cara pengolahan bahan lokal tersebut kepada pelaku usaha mikro penerima Program Keluarga Harapan di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.
Dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Sumatera, itera.ac.id, Jumat (14/8/2026), kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat itu berlangsung pada Kamis (13/8/2026). Peserta dikenalkan pada pengolahan buah lerak, daun kelor, rambut jagung, dan jahe menjadi sejumlah produk turunan, mulai dari sabun vegan, teh herbal, hingga minuman serbuk instan.
Bahan di Sekitar Rumah yang Terabaikan
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Itera, Refsya Azanti Putri, menyebut banyak bahan di lingkungan warga sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang belum tergarap. Persoalannya terletak pada minimnya pengetahuan mengenai cara mengolahnya menjadi produk siap jual.
Baca juga: UNAND dan ITERA Sepakati Kolaborasi Riset dan Jalur Akademik Terpadu
“Banyak bahan di sekitar rumah yang belum dimanfaatkan secara maksimal, seperti daun kelor, rambut jagung, dan jahe. Padahal, bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk seperti teh herbal dan minuman serbuk instan,” ujar Refsya Azanti Putri.
Menurut dia, pelatihan tersebut tidak berhenti pada pengenalan khasiat bahan alam. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai tahapan pengolahan agar produk yang dihasilkan layak dikembangkan dan berpeluang dipasarkan.
Dari Video Peragaan sampai Praktik Langsung
Rangkaian kegiatan dibuka dengan edukasi kesehatan sekaligus pengenalan sabun vegan berbahan buah lerak. Peserta kemudian mendapat penjelasan mengenai potensi daun kelor, jahe, sereh, dan rambut jagung sebagai bahan baku minuman herbal.
Tim pengabdian bersama mahasiswa KKN lalu memperagakan tahapan pembuatan produk. Peserta terlebih dahulu menyaksikan video proses pembuatan sabun lerak, teh herbal daun kelor dan rambut jagung, serta minuman serbuk jahe, sebelum mengikuti praktik pengolahan bahan secara langsung.
Baca juga: UNP Gelar Sertifikasi Kompetensi Barista, Baker, dan Butcher Mahasiswa
Peluang Baru bagi Warga Desa
Ketua Pendamping Program Keluarga Harapan Desa Branti Raya, Eka Susi Wahyuni, menilai inovasi yang ditawarkan sejalan dengan ketersediaan bahan di lingkungan warga. Rambut jagung disebutnya sebagai contoh paling nyata karena selama ini nyaris tidak dimanfaatkan.
“Teh herbal dari rambut jagung menarik karena selama ini rambut jagung dari hasil perkebunan warga belum dimanfaatkan. Pengolahannya menjadi produk dapat membuka peluang baru bagi masyarakat,” ujar Eka Susi Wahyuni.
Program tersebut didanai Itera melalui skema Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaannya melibatkan dosen dari Program Studi Farmasi dan Kimia bersama tujuh mahasiswa yang tengah menjalani kuliah kerja nyata.
Baca juga: USU-UPM Modernisasi Pakan Ternak Peternak Simalungun Lewat Aplikasi Digital
Pemilihan sasaran pada pelaku usaha mikro penerima Program Keluarga Harapan membuat pelatihan ini menyasar kelompok rumah tangga yang paling membutuhkan tambahan sumber pendapatan. Bahan bakunya pun tersedia di sekitar tempat tinggal peserta sehingga biaya produksi awal dapat ditekan.

















