Cekricek.id — Seekor paus biru kerdil sepanjang sekitar 20 meter terdampar di perairan dangkal lepas Pulau Groote Eylandt, Northern Territory, Australia, pada Jumat, lalu mati pada malam berikutnya. Peneliti menilai kemunculan mamalia laut raksasa itu di Teluk Carpentaria sebagai yang pertama kali tercatat sepanjang sejarah pengamatan di perairan tersebut.
Paus itu pertama kali dilihat oleh pemilik tanah adat setempat sekitar 500 meter dari garis pantai. Laporan mereka kemudian diteruskan kepada tim penjaga wilayah darat dan laut Anindilyakwa, yang segera bergerak ke lokasi untuk memastikan kondisi hewan tersebut. Dikutip dari ABC News Australia, ukuran tubuh paus itu langsung membuat petugas di lapangan tertegun.
Baca juga: BP Raih Lisensi Gas Loran Fase Dua di Venezuela Bersama Mitra Teluk
Penjaga Wilayah Adat Sebut Pemandangan Itu Mencengangkan
Manajer Anindilyakwa Land and Sea Rangers, Kirsten Eden, termasuk orang pertama yang menjawab panggilan warga. “Saya belum pernah, sama sekali belum pernah, melihat hal seperti ini. Ini sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan, dan ukuran paus itu benar-benar mencengangkan,” katanya.
Tim penjaga wilayah lalu mengambil foto dan sampel jaringan tubuh paus untuk dikirim kepada peneliti. Dari bahan itulah identifikasi spesies dilakukan, karena paus biru kerdil sulit dibedakan dari kerabatnya bila hanya dilihat sekilas dari permukaan air.
Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas
Peneliti kelautan Charles Darwin University, Rachel Groom, mengaku semula menduga hewan yang terdampar adalah paus bungkuk. “Saya sebenarnya mengira itu mungkin paus bungkuk, tetapi kemudian saya melihat fotonya dan, ya ampun, itu ternyata benar-benar paus biru,” ujarnya.
Kegembiraan ilmiah itu bercampur dengan kesedihan karena kondisi paus sudah tidak memungkinkan untuk diselamatkan. “Saya sangat bersemangat, tetapi juga sedih karena tidak ada kemungkinan hewan itu bisa bertahan hidup,” kata Groom.
Baca juga: Paus Leo XIV Serukan Akhiri Kekerasan terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Ketiga Kalinya di Northern Territory
Peristiwa ini tercatat sebagai kejadian paus biru kerdil terdampar ketiga di Northern Territory. Dua peristiwa sebelumnya terjadi pada 1981 dan 2003, sehingga jarak antarkejadian terhitung sangat panjang. Yang membuat peristiwa kali ini istimewa adalah lokasinya, karena Teluk Carpentaria selama ini tidak pernah masuk catatan sebaran spesies tersebut.
Peneliti Charles Darwin University, Carol Palmer, menyebut paus itu kemungkinan besar tersesat jauh dari jalur yang biasa dilewati kelompoknya. Ia merujuk pada data penanda satelit yang dipasang pada sejumlah individu di lepas pantai Australia Barat. “Selama beberapa tahun, mereka telah memasang penanda satelit pada enam paus biru kerdil di lepas pantai Australia Barat, dan paus-paus itu pergi ke Timor-Leste lalu naik ke Indonesia,” katanya.
Jalur migrasi itu menempatkan perairan Indonesia sebagai bagian dari wilayah jelajah paus biru kerdil, yang umumnya ditemukan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian selatan. Teluk Carpentaria berada jauh di sisi utara Australia, terpisah dari koridor migrasi yang selama ini terpetakan.
Sampel DNA Diambil, Bangkai Dibiarkan Terurai
Para ilmuwan mengambil sampel untuk analisis DNA guna memastikan jenis kelamin paus sekaligus mengumpulkan data biologis lain yang jarang tersedia. Data semacam ini bernilai tinggi karena kesempatan memeriksa langsung tubuh paus biru kerdil sangat jarang muncul.
Karena bangkai berada di perairan dangkal dan sulit dijangkau alat berat, tim penjaga wilayah memutuskan membiarkannya terurai secara alami. Eden menyatakan hiu macan sudah mulai memangsa bangkai tersebut tidak lama setelah paus itu mati, sehingga proses penguraian berlangsung cepat di lokasi.
Groote Eylandt terletak di lepas pantai Blue Mud Bay di kawasan Arnhem Land, sebelah selatan Nhulunbuy, dan merupakan wilayah masyarakat adat Anindilyakwa. Pengelolaan pesisir di kawasan itu sebagian besar dijalankan oleh penjaga wilayah adat yang bekerja sama dengan peneliti universitas dalam pemantauan satwa laut.
















