Paus Leo XIV Serukan Akhiri Kekerasan terhadap Warga Palestina di Tepi Barat

Ilustrasi Basilika Vatikan

Ilustrasi kubah Basilika Santo Petrus, Vatikan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Paus Leo XIV memperbarui seruan mendesaknya agar kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat segera dihentikan. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia itu menyampaikan permohonan tersebut di hadapan ribuan peziarah seusai doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (16/8/2026).

Dalam pernyataan berbahasa Inggris, Paus berkata, “I renew my appeal for an end to the ongoing violence against the Palestinian civilian population in the West Bank, and I urgently call on the international community to work toward advancing the two-state solution, for a just and lasting peace.” Ia memperbarui seruannya agar kekerasan yang terus berlangsung terhadap penduduk sipil Palestina di Tepi Barat diakhiri, sekaligus mendesak masyarakat internasional bekerja mendorong solusi dua negara demi perdamaian yang adil dan abadi.

Sorotan atas Situasi Tepi Barat

Seruan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan aksi kekerasan yang menimpa komunitas Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Paus asal Amerika Serikat yang terpilih pada 2025 tersebut telah berkali-kali mengangkat isu Tanah Suci dalam pesan mingguannya, dan pada kesempatan ini ia menegaskan kembali dukungan Takhta Suci terhadap kerangka dua negara sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan.

Dikutip dari kantor berita Katolik Catholic News Agency, Minggu (16/8/2026), Paus tidak menyinggung Gaza atau Ukraina secara khusus dalam permohonan hari itu, melainkan memusatkan perhatian pada eskalasi di Tepi Barat. Ia menekankan pentingnya menghentikan lingkaran kekerasan dan melindungi penduduk sipil, tanpa memihak salah satu pihak.

Baca juga: Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot

Sikap Takhta Suci selama ini konsisten menempatkan solusi dua negara sebagai kerangka penyelesaian yang paling memungkinkan bagi Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan secara damai. Vatikan kerap menekankan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun di atas pendudukan, pengusiran, maupun kekerasan terhadap warga sipil, melainkan melalui dialog dan penghormatan atas hukum internasional.

Renungan Injil tentang Iman

Sebelum menyampaikan permohonan perdamaian, Paus merefleksikan bacaan Injil hari itu mengenai Yesus yang menyembuhkan putri seorang perempuan Kanaan. Ia memuji ketekunan dan iman sang perempuan yang tidak menyerah meski awalnya seakan ditolak. Menurut Paus, kisah itu menunjukkan bahwa belas kasih Tuhan melampaui sekat-sekat bangsa dan bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri di hadapan Bapa.

Paus mengajak umat meneladani keteguhan perempuan Kanaan dalam berdoa dan mempercayakan segala kesulitan kepada Tuhan. Pesan itu, kata Vatikan, sejalan dengan tema harapan yang diusung Gereja sepanjang tahun ini. Ia mengingatkan bahwa iman yang gigih mampu menembus keputusasaan, bahkan di tengah situasi yang tampak buntu.

Baca juga: Prabowo Tegaskan BUMN Milik Rakyat, 290 Perusahaan Negara Sudah Ditutup

Doa Angelus tengah hari merupakan tradisi mingguan yang selalu menarik ribuan peziarah dari berbagai negara ke Lapangan Santo Petrus. Melalui momen ini, Paus tidak hanya menyampaikan renungan rohani, tetapi juga menyuarakan keprihatinan atas berbagai persoalan kemanusiaan dan konflik yang tengah melanda dunia.

Doa bagi Wilayah Berkonflik

Seusai Angelus, Paus mempercayakan kepada perantaraan Bunda Maria semua orang yang membutuhkan harapan dan penghiburan. Ia secara khusus berdoa bagi rakyat di Tanah Suci, Ukraina, dan Rusia, wilayah-wilayah yang masih dilanda perang dan ketidakpastian. Vatikan menyebut Paus juga menyapa berbagai kelompok peziarah yang hadir dari sejumlah negara.

Sikap Paus Leo XIV terhadap konflik di Timur Tengah menjadi perhatian dunia sejak awal masa kepemimpinannya. Ia berulang kali menyerukan gencatan senjata, pembebasan sandera, serta akses bantuan kemanusiaan, sembari mengingatkan bahwa perdamaian sejati hanya bisa dibangun di atas keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah lembaga hak asasi manusia dan badan bantuan internasional mencatat peningkatan insiden kekerasan di Tepi Barat, termasuk bentrokan dan perusakan properti. Takhta Suci belum merinci langkah diplomatik lanjutan, namun seruan Paus pada Minggu itu menegaskan posisi Vatikan yang konsisten mendorong penyelesaian politik melalui solusi dua negara.

Baca juga: Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027

Suara Paus dinilai memiliki bobot moral di panggung internasional, meski Vatikan tidak memiliki kekuatan memaksa dalam politik global. Seruannya sering menjadi rujukan bagi umat Katolik sedunia sekaligus tekanan halus bagi para pemimpin negara untuk mengutamakan jalan damai.

Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang berkonflik atas permohonan terbaru Paus tersebut. Vatikan menyatakan Paus akan melanjutkan agenda kepausannya sesuai jadwal, termasuk audiensi umum yang rutin digelar setiap pekan.

Baca Juga

Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan bendera berkibar
Rusia di DK PBB: Tepi Barat Mendekati Titik Tak Bisa Kembali
Deretan tenda darurat berjajar di kaki bukit berpohon zaitun pada siang hari
WHO: Ribuan Pasien Gaza Masih Menunggu Giliran Evakuasi Medis
Bangunan permukiman memenuhi lereng bukit di kawasan berbukit
Menhan Israel Jadikan Permukiman dan Operasi Pembunuhan Bahan Kampanye Likud
Rumah-rumah batu berundak menempel di lereng perbukitan kering
Israel Tetapkan Desa Kristen Taybeh sebagai Zona Militer Tertutup
Iring-iringan truk bantuan kemanusiaan melintasi jalan yang rusak
Armada Truk Gaza Tersisa Seperempat, Pemantau HAM Peringatkan Ancaman Kelaparan
Potret aktris Melissa Barrera
Melissa Barrera Bicara soal Pemberhentiannya dari Scream: Aku Masih di Sini