Brian Yuliarto: Partisipasi Kuliah RI Baru 32 Persen

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberi kuliah umum di UPI

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. [Foto: Humas UPI]

Cekricek.id — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Brian Yuliarto PhD menyebut angka partisipasi kasar pendidikan tinggi Indonesia baru sekitar 32 persen. Artinya, anak muda yang berhasil duduk di bangku kuliah masih merupakan bagian yang lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak melanjutkan pendidikan setelah sekolah menengah.

Angka itu ia sampaikan saat memberikan kuliah umum dalam rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Bandung, Rabu, 19 Agustus 2026. Kuliah umum bertema “Future Ready Generation: Berkarya, Berinovasi, dan Berdampak” itu diikuti 13.860 mahasiswa baru UPI dari seluruh provinsi di Indonesia, termasuk mahasiswa asing dari 15 negara, menurut keterangan yang dimuat berita.upi.edu, Rabu, 19 Agustus 2026.

Baca juga: Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024

Kursi Kuliah Disebut Bukan Hal Biasa

Berpijak pada angka partisipasi tersebut, Brian meminta mahasiswa baru tidak memperlakukan kesempatan kuliah sebagai sesuatu yang lumrah. Ia menempatkan penerimaan sebagai mahasiswa sebagai capaian yang tidak dimiliki mayoritas seusia mereka.

“Jadi ketika Anda sudah diterima masuk sebagai mahasiswa UPI, janganlah Anda menganggap ini sesuatu yang biasa. Ini adalah suatu prestasi yang luar biasa,” ujar Brian.

Ia mengaitkan capaian itu dengan beban yang ditanggung keluarga. Banyak orang tua, kata Brian, menyisihkan sebagian penghasilan untuk membiayai pendidikan anak, bahkan menunda kebutuhan pribadi seperti membeli pakaian agar biaya kuliah, tempat tinggal, dan kebutuhan bulanan anak tetap terpenuhi.

“Di balik keberhasilan Anda, tentu ada orang tua Anda yang sejak kecil mendorong Anda, menyuruh Anda belajar, menyuruh adik-adik mahasiswa untuk rajin. Dan tidak sedikit orang tua yang menyisihkan uangnya, menyisihkan rezeki gaji orang tua untuk membiayai Anda supaya bisa kuliah di UPI ini,” katanya.

Konsekuensinya, ia meminta mahasiswa baru menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh: disiplin menghadiri kuliah, menjaga integritas akademik, menghormati dosen dan sesama mahasiswa, serta memanfaatkan fasilitas kampus. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak menyempitkan masa kuliah menjadi sekadar perburuan nilai, melainkan membangun kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama.

Empat Karakter yang Diminta Dibangun Sejak Awal

Pada bagian kedua kuliah umumnya, Brian menguraikan empat karakter yang menurutnya menentukan keberhasilan mahasiswa di luar capaian akademik, yakni keteguhan mengejar tujuan (grit), kegigihan mencoba ulang (persistence), ketahanan menghadapi kesulitan (perseverance), dan sikap rendah hati.

Baca juga: Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam

“Jadi, jangan sekali gagal berhenti. Coba terus tujuh kali gagal, coba lagi. Sepuluh kali gagal, coba terus,” katanya.

Soal ketahanan, ia meminta mahasiswa tidak berharap jalan yang selalu mulus. “Jadi, jangan berharap menjadi orang sukses kalau tidak mau susah. Pasti ada masa susahnya, pasti ada masa sulitnya. Nah, yang Anda butuhkan adalah Anda harus bertahan dengan kesulitan itu,” ujarnya.

Brian juga menegaskan kegagalan bukan akhir proses. Nilai yang tidak sesuai harapan maupun persoalan selama kuliah, menurutnya, adalah bagian dari pengalaman yang membentuk kesiapan menghadapi tantangan berikutnya. Sikap rendah hati ia sebut harus menyertai setiap capaian, disertai kemauan terus belajar.

Peringatan soal Ketergantungan pada AI

Menteri juga menyinggung penggunaan kecerdasan artifisial di ruang kuliah. Ia mendorong mahasiswa memakai teknologi tersebut, tetapi menolak jika penguasaan dasar keilmuan ikut ditinggalkan.

“AI harus kita gunakan, harus kita manfaatkan, tetapi tetap yang akan menang dengan AI adalah mereka yang menguasai fundamental dasar-dasar keilmuannya,” katanya.

Baca juga: Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI

Di akhir kuliah umum, Brian meminta mahasiswa baru saling menjaga agar tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Ia mengajak mereka membayangkan jumlah peserta wisuda empat tahun mendatang sama dengan jumlah yang hadir pada orientasi hari itu.

“Jangan tinggalkan teman Anda, no one left behind. Jangan sampai ada yang tertinggal,” katanya.

Gerakan Satu Mahasiswa Satu Pohon

Pada rangkaian MOKAKU yang sama, Rektor UPI Prof Dr H Didi Sukyadi memperkenalkan gerakan satu mahasiswa satu pohon. Sekitar 3.000 bibit pohon berkayu keras telah terkumpul dan dirawat di sekitar gedung asrama UPI untuk ditanam pada musim hujan. Program tersebut, menurut keterangan universitas, sudah berjalan tiga tahun dan tahun ini menjadi pelaksanaan yang paling berhasil.

“Kita berkewajiban mewariskan bumi yang lebih baik. Mengurangi pemanasan global, salah satu yang bisa kita lakukan adalah menanam pohon,” kata Didi. Ia menambahkan bahwa lahan kampus terbatas, namun masih tersisa banyak titik yang perlu ditanami pohon. Jika kebutuhan kampus terpenuhi, penanaman akan diperluas ke program pengabdian masyarakat.

Baca Juga

Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang Tatag Muttaqin
Pakar UMM: Karhutla Berulang, Pencegahan Harus Diperkuat
Pakar Ekonomi Pembangunan UMS Muhammad Arif
Pakar UMS: Pembatasan Pertalite Jangan Hanya Lihat Desil
Universitas Lambung Mangkurat menerima piagam penghargaan mitra kerja dari Kemenkum Kalsel
ULM Raih Penghargaan Kekayaan Intelektual Kemenkum Kalsel
Ilustrasi serat optik sebagai sensor pemantauan lingkungan
Dosen Tel-U Padukan Fiber Optik dan AI Pantau Lingkungan
Sarasehan Kebangsaan Dewan Profesor ITS membahas konstitusi di Surabaya
Guru Besar di ITS Soroti Kelemahan UUD 1945 Asli
Ilustrasi meja kayu panjang di ruang diskusi dengan gelas kopi dan tumpukan buku
Grup WhatsApp dan Patungan Kopi di Balik Ilmu Perburuhan Kritis