Dosen Tel-U Padukan Fiber Optik dan AI Pantau Lingkungan

Ilustrasi serat optik sebagai sensor pemantauan lingkungan

Ilustrasi serat optik yang dikembangkan sebagai sensor pemantauan lingkungan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Dosen Fakultas Teknik Elektro (FTE) Telkom University, Dr. Brian Pamukti, S.T., M.T., merampungkan studi doktoral di Graduate Institute of Electro-Optical Engineering, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan, dengan riset yang memadukan penginderaan serat optik, kecerdasan buatan, dan pemantauan lingkungan cerdas.

Riset bertema electro-optical engineering itu mempertemukan tiga bidang yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri, yakni optical fiber sensing, deep learning, dan smart environmental monitoring, menurut keterangan yang dimuat telkomuniversity.ac.id, Rabu, 19 Agustus 2026. Pemaparan hasil studi tersebut disampaikan di Bandung, Selasa, 18 Agustus 2026.

Baca juga: Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI

Menjawab Kelemahan Pemantauan Konvensional

Penelitian ini berangkat dari persoalan yang sudah lama dikeluhkan pengelola jaringan pemantauan lingkungan. Sistem konvensional masih bersifat manual, kurang sensitif, serta lambat ketika harus mengolah data berukuran besar. Akibatnya, perubahan kecil pada suhu, getaran, atau regangan struktur kerap baru diketahui setelah dampaknya terlihat.

Serat optik dipilih karena karakternya tahan terhadap interferensi elektromagnetik dan sanggup bekerja pada lingkungan ekstrem. Pada teknologi penginderaan, serat kaca tipis yang biasa dipakai mengangkut data itu berubah peran menjadi sensor sepanjang jalurnya. Perubahan cahaya yang merambat di dalam serat dibaca sebagai sinyal, sehingga satu untai kabel dapat memantau titik yang berjauhan tanpa memerlukan banyak perangkat elektronik di lapangan.

Persoalannya, data yang dihasilkan sensor semacam itu sangat besar dan berpola rumit. Di sinilah kecerdasan buatan masuk. Menurut keterangan universitas, integrasi dengan deep learning membuat sistem mampu membaca, menganalisis, sekaligus menginterpretasikan pola data sensor secara otomatis, akurat, dan seketika. Pekerjaan yang sebelumnya menuntut penafsiran manual seorang teknisi dapat berpindah ke model yang dilatih mengenali anomali.

Dari Infrastruktur sampai Pertanian Presisi

Baca juga: Stripe Dikabarkan Akuisisi OpenRouter Senilai Lebih dari US$7 Miliar

Hasil inovasi ini disebut memiliki spektrum manfaat yang luas. Selain memperkaya khazanah keilmuan sensor optik, teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada pemantauan infrastruktur, manufaktur, energi, dan pertanian presisi. Cakupan itu juga menyentuh dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam mitigasi bencana serta pengembangan kota cerdas.

Pada infrastruktur, pemantauan berbasis serat optik lazim dipakai untuk membaca kesehatan struktur jembatan, terowongan, dan bangunan tinggi. Pada sektor energi, teknologi serupa dipakai mengawasi jaringan pipa dan kabel bawah tanah. Sementara pada pertanian presisi, pembacaan suhu dan kelembapan yang rapat membantu petani menakar air dan pupuk secara lebih tepat.

Konteks kebencanaan membuat riset ini terasa dekat dengan kebutuhan Indonesia. Sistem peringatan dini menuntut pembacaan cepat atas perubahan halus pada tanah dan struktur bangunan, dua hal yang selama ini sulit dijaring sensor konvensional dalam jumlah besar.

Pesan bagi Calon Doktor

Menutup pemaparannya, Dr. Brian Pamukti menyampaikan harapan sekaligus pesan bagi sivitas akademika yang tengah menimbang melanjutkan studi.

Baca juga: Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui

“Saya berharap penelitian ini tidak berhenti pada publikasi ilmiah saja, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi nyata untuk monitoring lingkungan, kesehatan bangunan, hingga sistem peringatan dini. Bagi rekan-rekan yang ingin lanjut studi, doktor bukan sekadar mengejar gelar, melainkan proses membangun cara berpikir ilmiah. Kuncinya ada pada rasa ingin tahu, konsistensi, dan semangat untuk memberikan manfaat nyata,” ujarnya.

Keberhasilan studi tersebut, menurut keterangan universitas, tidak terlepas dari ekosistem akademik Telkom University yang membuka kesempatan studi lanjut, menyediakan fasilitas riset, serta ruang kolaborasi internasional bagi dosennya. Skema semacam itu menjadi jalur umum perguruan tinggi Indonesia menambah jumlah doktor sekaligus menyambung jejaring riset dengan kampus luar negeri.

Langkah berikutnya yang paling ditunggu adalah pengujian di lapangan. Sebuah model yang bekerja baik pada data laboratorium masih harus membuktikan diri pada kondisi nyata, ketika kabel terpasang di jembatan, lahan pertanian, atau lereng yang rawan longsor, dan harus tetap membaca dengan benar pada cuaca yang berubah-ubah.

Baca Juga

Peneliti meninjau lahan sawah dalam riset ketahanan iklim pertanian Universitas Andalas
Riset Unand: Adaptasi Iklim Petani Sumbar dan Sulsel Beda
Seminar tentang pendidikan di era kecerdasan buatan di Universitas Negeri Jakarta
Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI
Papan nama kantor Stripe Inc. di South San Francisco, California, Amerika Serikat.
Stripe Dikabarkan Akuisisi OpenRouter Senilai Lebih dari US$7 Miliar
Ilustrasi dokter anak memeriksa bayi didampingi ibunya.
Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui
Chief Executive Officer Anthropic, Dario Amodei. Editor wajib memastikan wajah pada foto benar sebelum unggah.
CEO Anthropic: Penolakan pada AI Sebenarnya Krisis Kepercayaan
Ilustrasi seorang pembicara menyampaikan paparan di forum.
Wamendiktisaintek: Kampus Tetap Jadi Pusat Ilmu di Era AI