Bursa Asia Melemah Sepekan, Nikkei Anjlok 4,4 Persen

Papan elektronik indeks saham di Bursa Efek Tokyo, Jepang

Papan elektronik yang menampilkan indeks saham di Bursa Efek Tokyo, Jepang. [Foto: Reuters]

Cekricek.id — Mayoritas indeks saham di Asia menuju pelemahan mingguan pada perdagangan Jumat (21/08/2026), seiring tekanan yang belum juga reda di pasar obligasi global. Kebuntuan diplomasi di kawasan Teluk pada saat yang sama mengerek harga minyak ke level tertinggi sebulan dan menjaga risiko inflasi tetap mengemuka, dikutip dari Reuters.

Imbal hasil surat utang Pemerintah Amerika Serikat kembali menanjak. Intervensi mendadak Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Rabu hanya memberi jeda kurang dari sehari dari tekanan jual di pasar obligasi.

Baca juga: AS Janjikan Sanksi Terberat ke Iran, China Diminta Ikut

Pasar Meragukan Janji Konsolidasi Fiskal

Kenaikan imbal hasil itu berlangsung meskipun Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan pemerintah dapat memperbesar lagi pembelian kembali surat utang negara. Bessent juga melemparkan gagasan konsolidasi fiskal.

Pada Rabu, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan penggandaan ukuran pembelian kembali surat utang bertenor panjang selama kuartal berikutnya menjadi sekurang-kurangnya US$4 miliar per operasi. Langkah itu semula meredakan kenaikan imbal hasil, namun efeknya cepat menguap.

Kalangan analis menilai langkah tersebut sulit menutup defisit anggaran Amerika Serikat yang berada di atas 6 persen produk domestik bruto. Beban bunga utang saja tahun ini berjalan pada angka US$1,2 triliun.

Baca juga: Meksiko Protes AS Deportasi 2.300 Warganya ke Guatemala

“Secara historis, pasar melawan ketika mereka yakin bahwa fundamental — seperti tingkat utang yang memecahkan rekor dan defisit yang secara historis sangat besar — berpihak kepada mereka, dan intervensi lanjutan bisa menjadi terlalu mahal untuk ditanggung,” kata ahli strategi Deutsche Bank, Steven Zeng.

“Ada pula potensi biaya bagi kredibilitas institusional Departemen Keuangan bila pendekatan aktivisnya mengikis sebagian itikad baik dan manfaat yang telah dibangun bertahun-tahun dengan berpegang pada kerangka yang teratur dan dapat diperkirakan,” ujar Zeng.

Imbal Hasil 30 Tahun Kembali ke 5,25 Persen

Keraguan investor tampak dari imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat bertenor 30 tahun yang kembali naik ke 5,25 persen. Imbal hasil tenor 10 tahun menyentuh 4,71 persen.

Baca juga: Imbal Hasil Obligasi Global Turun, Dolar AS Melemah

Pelaku pasar menganggap level 5,30 persen sebagai ambang batas yang menyakitkan bagi Departemen Keuangan Amerika Serikat, sebagaimana level 160,00 yen per dolar Amerika Serikat menjadi ambang batas bagi pembuat kebijakan di Jepang.

Imbal hasil yang lebih tinggi menaikkan biaya utang di seluruh dunia, tepat ketika raksasa teknologi menarik pinjaman besar untuk membiayai belanja modal kecerdasan buatan. Kenaikan itu juga memperbesar diskonto terhadap laba korporasi dan menekan valuasi saham.

Nikkei Turun 4,4 Persen dalam Sepekan

Tekanan tersebut terlihat pada indeks Nikkei yang turun 0,8 persen pada Jumat, sehingga kerugiannya sepanjang pekan mencapai 4,4 persen. Bursa Korea Selatan dan Taiwan menguat tipis pada hari yang sama, tetapi keduanya tetap melemah dalam hitungan mingguan.

Dari Jepang, data harga konsumen yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan inflasi inti Juli 2026 naik 1,8 persen secara tahunan karena perusahaan meneruskan kenaikan biaya impor. Angka itu menambah alasan bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga pada September, meski pasar sudah memperhitungkan kenaikan seperempat poin persentase menjadi 1,25 persen.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5 persen. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX bergerak sedikit lebih rendah, sementara kontrak berjangka FTSE turun 0,1 persen.

Di Amerika Serikat, musim laporan keuangan yang kuat memberi sedikit sokongan. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1 persen dan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,2 persen.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan keuangan Nvidia pekan depan, terutama proyeksi perusahaan itu mengenai permintaan infrastruktur dan pendapatan pusat data. Sebelumnya pada Kamis, saham Walmart merosot 9 persen setelah penjualannya meleset dari ekspektasi.

Baca Juga

Ilustrasi papan elektronik harga instrumen pasar modal
ADB Jual Obligasi Global US$2 Miliar Tenor 10 Tahun
Warga melintas di kawasan pertokoan pusat kota Teheran, Iran
AS Janjikan Sanksi Terberat ke Iran, China Diminta Ikut
Sejumlah deportan turun dari pesawat setelah dipulangkan dari Amerika Serikat
Meksiko Protes AS Deportasi 2.300 Warganya ke Guatemala
Spesialis bekerja di lantai perdagangan New York Stock Exchange
Imbal Hasil Obligasi Global Turun, Dolar AS Melemah
Ilustrasi toko perkakas dan bahan bangunan
Penjualan Lowe’s 26 Miliar Dolar AS, Belanja DIY Lesu
Donald Trump dan Mark Carney
AS Tunda Tarif 50 Persen atas Kanada Selama Tiga Hari