Harsudiyono Hartas

Harsudiyono Hartas adalah perwira militer TNI, terakhir ia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dalam bidang militer. Pria kelahiran Jepara, 4 Juni 1935 itu mengawali karier militer setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang pada 1960 dan mulai bertugas di Medan, Sumatera Utara sebagai Perwira Kavaleri d Kodam Bukit Barisan sampai 1962.

Harsudiyono Hartas. [Foto: Istimewa]

Siapa Harsudiono Hartas?

Harsudiyono Hartas adalah perwira militer TNI, terakhir ia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dalam bidang militer. Pria kelahiran Jepara, 4 Juni 1935 itu mengawali karier militer setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang pada 1960 dan mulai bertugas di Medan, Sumatera Utara sebagai Perwira Kavaleri d Kodam Bukit Barisan sampai 1962.

Kemudian menjadi Wakil Komandan Batalyon Kavaleri Kostrad sampai 1971. Dua tahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) dan kembali ke Magelang.

Saat kembali, ia diserahi jabatan Walik Gubernur Akabri Darat 1982-1983. Selanjutnya selama 1985-1987 ia menjadi Pangdam IV/ Dipenogoro dan pada 1988, ia menjadi kepala staf sosial politik ABRI.

Setelah pensiun dari dunia kemiliteran, ia sempat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dalam bidang militer, Harsudiyono mendapatkan Bintang Dharma dan Bintang Yudha Dharma Pratama. Ia kemudian meninggal pada 26 Januari 2017.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda