Seorang guru sosiologi mengetik nama, alamat, dan catatan pribadi siswanya ke sebuah aplikasi kecerdasan buatan untuk membuat rapor deskriptif. Data itu tidak pernah benar-benar kembali menjadi miliknya.
Persoalan seperti itu yang dibawa tim pengabdian Universitas Negeri Padang ke Kabupaten Tanah Datar pada Sabtu (22/08/2026). Kegiatannya bertajuk penguatan pelindungan data pendidikan dan literasi etika dalam penggunaan kecerdasan buatan bagi guru-guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi.
AI Membantu, Guru Tetap Memutuskan
Ketua tim pengabdian, Dr. Reno Fernandes, M.Pd., menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat, bukan pengambil keputusan.
Baca juga UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI
“AI dapat membantu memberikan alternatif dan mempercepat pekerjaan, tetapi guru tetap harus melakukan evaluasi, verifikasi, dan pengolahan informasi,” katanya.
Baca juga Riset Mahasiswa UNP Ukur Karbon Hutan Nagari Sijunjung
Pemateri kedua, Rhavy Ferdian, M.Pd., membawa bagian teknis: cara melindungi data ketika guru memakai berbagai platform kecerdasan buatan.
Dilanjutkan secara Daring
Ketua panitia, Widya Trisna, S.Pd., Gr., menyebut pelatihan ini sebagai upaya MGMP memperkuat kemampuan guru di bidang teknologi digital, khususnya penerapan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Baca juga Riset Unand: Adaptasi Iklim Petani Sumbar dan Sulsel Beda
“MGMP Sosiologi Tanah Datar selalu terbuka untuk berkolaborasi dan mendapatkan pelatihan serta pendampingan dari UNP,” kata Reno Fernandes menirukan sambutan yang ia terima di lapangan.
Pelatihan tatap muka menjadi tahap awal. Tim melanjutkannya dengan pendampingan daring agar guru bisa menerapkan praktik penggunaan kecerdasan buatan yang aman dan beretika di kelas masing-masing.













