Cekricek.id — Tiga penasihat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituduh membocorkan informasi rahasia mengenai Mesir kepada Qatar. Ketiganya adalah Jonatan Urich, Yisrael Einhorn, dan Eli Feldstein.
Mengutip The Times of Israel, Minggu (9/8/2026), tuduhan itu bersumber dari laporan harian Israel Hayom yang mengutip seorang pejabat keamanan Israel. Menurut laporan tersebut, ketiganya diduga berada dalam daftar bayaran Doha ketika kebocoran berlangsung.
Qatar disebut meneruskan informasi yang diperolehnya kepada wartawan-wartawan Israel. Tujuannya, masih menurut laporan itu, menurunkan citra Kairo di mata publik Israel sehingga Doha memperoleh ruang untuk mengambil peran utama dalam perundingan pembebasan sandera dengan Hamas.
Mesir dan Qatar adalah dua mediator kunci dalam pembicaraan gencatan senjata antara Israel dan Hamas serta pembebasan sandera yang diambil pada serangan 7 Oktober 2023.
Bersumber dari Rapat Rahasia Maret-Mei 2024
Materi yang bocor berasal dari rangkaian rapat rahasia pada Maret sampai Mei 2024 yang melibatkan Netanyahu, Dewan Keamanan Nasional, militer Israel, dan Shin Bet. Pertemuan itu membahas hubungan Israel-Mesir serta kemungkinan Mesir melanggar perjanjian damai 1979 dengan mengirim pasukan ke Sinai.
Artikel-artikel tentang dugaan pelanggaran Mesir kemudian bermunculan di media Israel sepanjang 2024 dan awal 2025.
Einhorn, Urich, dan Feldstein merupakan tersangka utama dalam penyelidikan yang dikenal sebagai Qatargate. Perkara itu berpusat pada dugaan pelobian pro-Qatar, termasuk kontak dengan agen asing dan serangkaian tindakan korup yang melibatkan pelobi serta pengusaha, ketika ketiganya bekerja untuk perdana menteri.
Sebelumnya penyidik menduga arus informasi berjalan satu arah, yakni dari Qatar kepada ketiganya lalu diteruskan ke wartawan Israel. Temuan baru ini menunjukkan arusnya berjalan dua arah.
Urich dan Feldstein sudah ditangkap dan diperiksa. Einhorn, yang tinggal di Serbia, belakangan diperiksa penyidik Israel di Beograd setelah menolak datang ke Israel karena khawatir ditangkap begitu tiba.
Pejabat pertahanan, menurut Israel Hayom, khawatir kebocoran tersebut membahayakan perjanjian damai dengan Mesir sekaligus mengurangi kesediaan Kairo membantu pembebasan sandera.
Harian itu menyatakan telah menguji klaim sumbernya dengan berbicara kepada pejabat keamanan lain yang hadir dalam pembicaraan rahasia tersebut. Pejabat kedua membenarkan keterangan sumber pertama dan menyebut waktu terjadinya berbagai kebocoran saling bersesuaian.
Ketiganya Membantah
Pengacara Einhorn menyebut laporan itu sebagai kebohongan yang tidak berdasar dan sepenuhnya dibantah.
“Kebohongan total, diterbitkan oleh lawan politik di tengah musim pemilu,” kata Urich. “Saya tidak pernah hadir dalam pembahasan rahasia, dan saya tidak pernah menyerahkan informasi apa pun, bahkan yang tidak rahasia, kepada siapa pun.”
Feldstein dan kantor Netanyahu menolak menanggapi laporan tersebut.
Memanas Menjelang Pemilu 27 Oktober
Laporan itu segera memancing reaksi keras dari lawan-lawan Netanyahu menjelang pemilu 27 Oktober. Mereka berulang kali menunjuk perkara Qatargate sebagai pengkhianatan di masa perang, dan mengecam Netanyahu yang menyebut Qatar sebagai pihak yang “rumit”, bukan musuh.
“Beginilah rupa pengkhianatan terhadap Negara Israel. Para penasihat Netanyahu yang menerima uang dari Qatar membahayakan hubungan strategis kita dengan Mesir demi melayani kepentingan Qatar,” kata Yair Golan, Ketua Partai Democrats.
“Lima perang dan ribuan prajurit yang gugur mengantar kita pada perjanjian damai dengan Mesir, dan kantor Netanyahu tidak ragu membahayakannya demi ketamakan uang. Rekening bank mereka menyetir kebijakan luar negeri dan keamanan Israel ketika putra-putra terbaik kita gugur di garis depan,” tulis Golan di platform X.
Ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, yang partainya memimpin dalam jajak pendapat, ikut mengecam Netanyahu.
Baca juga: Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump untuk Gaza
Peran Qatar sebagai perantara juga menonjol dalam pembicaraan rencana damai Gaza yang sampai kini belum menemukan titik temu.
Baca juga: Netanyahu Berhasil Manfaatkan Trump untuk Menyerang Fasilitas Nuklir Iran




















