Cekricek.id — Mehmet Kusman menghabiskan hampir seluruh hidupnya di antara reruntuhan benteng Cavustepe di kawasan Van, Turki timur. Pria berusia 86 tahun itu tidak pernah menempuh pendidikan tinggi, tetapi ia belajar sendiri membaca aksara paku peninggalan Kerajaan Urartu, sebuah bahasa yang sudah lama mati.
Dikutip dari Arab News, Senin (10/8/2026), Kusman mulai bekerja di situs penggalian Cavustepe sebagai buruh biasa seusai menjalani wajib militer pada 1960-an. Sejak itu ia tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Ia pensiun pada 2026, namun tetap bertahan sebagai penjaga situs.
Tiga Tahun untuk Abjad, 22 Tahun untuk 650 Kata
Ketertarikannya bermula dari rasa takjub pada pahatan yang ia bersihkan setiap hari. “Prasasti itu sangat indah,” kata Mehmet Kusman, penjaga situs benteng Cavustepe.
Titik baliknya justru datang dari sebuah penolakan ketika ia meminta diajari. “Ucapan ‘Tidak’ itu menyakiti saya. Saya jadi tak kenal menyerah, dan berpikir: ‘Selama saya masih hidup, saya akan mempelajarinya,’” tutur dia.
Prosesnya berjalan sangat lambat. Butuh tiga tahun baginya untuk menguasai abjad Urartu, dan 22 tahun berikutnya untuk mengumpulkan sekitar 650 kosakata. Kini ia menyebut dirinya termasuk tujuh orang terakhir di Turki yang bisa berbicara dalam bahasa Urartu. Salah satu prasasti yang biasa ia bacakan kepada pengunjung berbunyi, “Sebelum aku tidak ada apa-apa di sini. Tetapi dengan kekuatan dewa Haldi, aku mendirikan kota ini.”
Baca juga: Tablet Kuno Ungkap Invasi Bencana di Kekaisaran Het 3.300 Tahun Lalu
Kerajaan yang Menguasai Timur Dekat Kuno
Urartu adalah kerajaan kuno yang wilayahnya membentang di kawasan yang kini menjadi Turki timur, Iran, dan Armenia. Kerajaan itu membangun kota, benteng, jaringan irigasi, serta fasilitas penyimpanan pangan, dan meminjam aksara paku dari peradaban Asyur. Haldi, yang namanya muncul dalam prasasti, merupakan dewa perang mereka.
“Salah satu negara terkuat di Timur Dekat kuno, antara abad ke-9 dan ke-7 Sebelum Masehi,” jelas Erkan Konyar, profesor sejarah kuno di Universitas Istanbul, menggambarkan kerajaan tersebut.
Benteng besar terakhir mereka, Ayanis, berada sekitar 35 kilometer di utara Van. Kerajaan itu diduga runtuh akibat gempa bumi dahsyat. “Penggalian kami barangkali bisa memberi tahu sesuatu tentang akhir Urartu,” kata Mehmet Isikli, Direktur Departemen Arkeologi Timur Dekat di Universitas Ataturk.
Baca juga: Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Kekaguman yang Disertai Keberatan
Para akademisi menghargai kegigihan Kusman, tetapi menolak menyamakan kemampuannya dengan penguasaan bahasa dalam arti ilmiah. Konyar menegaskan bahwa bahan yang tersedia terlalu terbatas.
“Prasasti yang ada memungkinkan kita memahaminya sampai batas tertentu, tetapi kita kekurangan kosakata dan teks. Hanya makna kata-kata tertentu yang diketahui dengan pasti. Jadi tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim berbicara bahasa Urartu,” tegas Konyar. Menurut dia, bahasa itu bahkan pada masanya hanya dipakai dalam bentuk tertulis, bukan percakapan.
Isikli menyampaikan penilaian yang serupa. “Saya mengaguminya. Dia bekerja keras dan mengangkat kebudayaan Urartu ke permukaan. Mehmet Kusman memberi semacam publisitas bagi Urartu, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan kerja akademik: dia hanya mengenal beberapa tanda abjad, atau beberapa huruf, dan informasi yang sangat, sangat umum tentangnya,” ujarnya.
Konyar tetap mencatat jasanya di sisi lain. “Selama 60 tahun, dia hidup di tengah penggalian dan memperkenalkan sejarah Urartu kepada ribuan pengunjung,” tutur dia.
Kusman sendiri sudah membawa ceritanya ke Amerika Serikat sebanyak lima kali, juga ke Jerman, Belanda, dan Belgia. “Sekarang saya sedang berpikir untuk pergi ke Jepang,” katanya. Ia menutup dengan alasan mengapa ia bertahan selama ini. “Saya keturunan orang Urartu, cucu mereka. Mereka menghilang, tetapi lihatlah, mereka tidak semuanya mati,” ujar Kusman.
Baca juga: Pemindaian Laser Ungkap 20.000 Bangunan Tanah di Amazon




















