Cekricek.id — Nama Fouzi Lekjaa selama ini melekat pada keberhasilan sepak bola Maroko. Kini pria yang memimpin Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) itu masuk gelanggang politik praktis, dan namanya mulai disebut-sebut sebagai calon perdana menteri berikutnya.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026), Lekjaa bergabung dengan Partai Autentisitas dan Modernitas (PAM) kurang dari tiga bulan sebelum pemilihan umum yang dijadwalkan pada 23 September. Ia menjabat menteri delegasi urusan anggaran, sekaligus tetap memimpin federasi sepak bola.
Dua Kursi dalam Satu Waktu
Rangkap jabatan itulah yang memantik perdebatan. Secara hukum, langkahnya tidak terlarang, tetapi para pengamat menilai posisinya tidak bisa disamakan dengan warga biasa yang baru terjun ke politik.
“Dari sudut pandang konstitusional, setiap warga negara Maroko bebas bergabung dengan partai politik mana pun berdasarkan Konstitusi 2011,” jelas Mustafa Ahdar, peneliti hukum tata negara dan ilmu politik di Universitas Ibn Zohr.
Namun ia menambahkan catatan penting. “Meski begitu, seseorang yang pada saat bersamaan mengepalai federasi sepak bola nasional dan menduduki jabatan menteri senior tidak bisa secara realistis dipandang sama dengan warga biasa yang memasuki dunia politik,” kata Ahdar.
Baca juga: FIFA Serang Balik Kampanye Penggulingan Infantino
Modal Keuangan dan Warisan Piala Dunia
Reputasi Lekjaa dibangun di ranah administrasi publik dan keuangan negara, bukan lewat panggung kampanye. Ia diasosiasikan dengan sejumlah proyek infrastruktur dan investasi berskala besar.
“Hanya sedikit pejabat senior yang memadukan pengalamannya di bidang keuangan publik, pengelolaan kelembagaan, dan perencanaan strategis,” ujar Nouh El Harmouzi, Kepala Arab Center for Research.
Di sisi sepak bola, ia memimpin federasi ketika Singa Atlas menembus semifinal Piala Dunia 2022, capaian yang mengubah cara dunia memandang sepak bola Maroko. Gema keberhasilan itu terasa jauh melampaui batas negara.
“Banyak warga Maroko yang tinggal di luar negeri mengikuti dengan saksama pencapaian tim nasional dan merasa terhubung dengan keberhasilan itu,” tutur Touria Guerraoui, pakar teknologi berkewarganegaraan Maroko-Prancis. Ia menambahkan, “Sebagian besar tim sepak bola Maroko berasal dari diaspora, dan pencapaian mereka melahirkan kebanggaan yang luar biasa.”
Baca juga: Presiden LaLiga Tebas Sebut Era Infantino Sudah Berakhir
Pertanyaan soal Demokrasi Internal Partai
Kedatangan figur sebesar Lekjaa ke PAM menjelang pemilu justru memunculkan pertanyaan tentang cara partai membangun kadernya sendiri.
“Partai politik semestinya menciptakan ruang tempat warga terlibat secara politik dan pemimpin masa depan bermunculan,” kata Ahdar. Ia mencatat PAM merupakan bagian dari koalisi pemerintahan saat ini dan menuai kritik atas rekam jejaknya di pemerintahan. “Ini mau tidak mau memunculkan pertanyaan tentang demokrasi internal partai,” tegasnya.
Sampai hari pemungutan suara pada 23 September, status Lekjaa masih sebatas anggota partai yang baru bergabung dan menteri yang sedang menjabat. Siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya baru akan ditentukan setelah hasil pemilu keluar.
Baca juga: Ratusan Warga Ceuta Protes Penanganan Krisis Migran




















