Cekricek.id — Biochar ditaburkan ke lahan pertanian sebagai cara menyimpan karbon di dalam tanah dan diklaim menghasilkan manfaat iklim yang bisa dihitung. Sebuah tinjauan baru memperingatkan bahwa hitungan itu bisa meleset apabila tanah yang sama juga mengandung mikroplastik.
Peringatan tersebut disampaikan lewat artikel Biochar-microplastic co-occurrence in agricultural soils: interfaces, effects on soil organic carbon, and implications for measurement and verification dalam jurnal Agricultural Ecology and Environment volume 2, artikel e017, tahun 2026, dengan DOI 10.48130/aee-0026-0014.
Biochar adalah arang halus dari sisa tanaman yang dibakar tanpa oksigen. Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran di bawah lima milimeter yang masuk ke tanah lewat mulsa plastik, lumpur limbah, dan air irigasi.
Dua bahan yang berbagi ruang
"Biochar dan mikroplastik biasanya diteliti terpisah, tetapi di tanah pertanian yang sesungguhnya keduanya makin sering menempati pori, agregat, permukaan mineral, dan habitat mikroba yang sama," kata Binbin Hu dari Shenyang Agricultural University, penulis korespondensi tinjauan itu.
Persoalannya muncul saat pengukuran. Metode rutin untuk mengukur karbon organik tanah tidak bisa memisahkan tiga sumber sekaligus: karbon organik yang memang berasal dari tanah, karbon pirogenik dari biochar, dan karbon yang berasal dari plastik.
Tim memperkirakan karbon asal bisa menyumbang sekitar 3 sampai 15 megagram karbon per hektare pada pembacaan karbon tanah. Kalau angka itu ikut terhitung sebagai keberhasilan penyimpanan karbon, manfaat iklim biochar akan tampak lebih besar daripada yang sebenarnya terjadi.
Kedua bahan itu juga saling memengaruhi secara fisik. Permukaan biochar yang berpori dapat mengikat serpihan plastik dan senyawa yang lepas darinya, sementara keberadaan plastik dapat mengubah aktivitas mikroba di sekitar butiran biochar. Arah pengaruhnya tidak seragam dan bergantung pada jenis plastik, jenis biochar, serta karakter tanahnya.
Usulan cara menghitung
Penulis mengusulkan kerangka pengukuran, pelaporan, dan verifikasi bertingkat sesuai kekuatan bukti. Kerangka itu menggabungkan pengukuran yang mengenali jenis polimer plastik dengan metode yang memisahkan karbon pirogenik dari karbon asli tanah.
"Memahami apa yang terjadi ketika dua bahan kaya karbon ini bertemu menjadi hal yang penting untuk menilai secara akurat penyimpanan karbon tanah dan manfaat iklim biochar," kata Hu.
Bukti yang masih tipis
Naskah ini berupa tinjauan atas penelitian yang sudah ada, bukan percobaan lapangan baru. Penulisnya menegaskan bukti yang tersedia sampai kini bersandar berat pada percobaan laboratorium jangka pendek. Mereka menyerukan validasi lapangan jangka panjang yang memakai mikroplastik lapuk yang benar-benar menyerupai kondisi lahan, bukan serpihan plastik segar buatan laboratorium, serta metode pemisahan sumber karbon yang lebih baik.
Percobaan laboratorium umumnya memakai plastik yang baru dipotong, kadar yang lebih tinggi daripada di lahan, dan rentang waktu beberapa pekan sampai beberapa bulan. Plastik yang sudah bertahun-tahun berada di tanah punya permukaan yang berbeda dan berperilaku berbeda pula.
Selisih antara kondisi laboratorium dan lahan itu belum terjembatani. Sepanjang belum ada, perkiraan 3 sampai 15 megagram per hektare tetap berupa rentang, bukan angka pasti untuk satu petak tertentu.
Sistem kredit karbon di sejumlah negara sudah menerima biochar sebagai metode penyimpanan karbon yang bisa diperdagangkan. Penulis menyatakan tanpa pemisahan sumber karbon saat verifikasi, kredit yang diterbitkan berpotensi mencatat karbon plastik sebagai capaian.





















