Cekricek.id — Klomifen sitrat diresepkan untuk merangsang ovulasi sejak 1967 dan tercantum dalam daftar obat esensial Organisasi Kesehatan Dunia. Analisis terhadap 21.004 siklus transfer embrio program bayi tabung di Amerika Serikat menemukan makin besar dosis kumulatif — total obat yang diterima seorang perempuan sepanjang beberapa siklus pengobatan — makin tinggi pula angka keguguran yang tercatat. Peluang kelahiran hidup tidak ikut naik.
Hasil itu dilaporkan tim peneliti Adelaide University bersama Boston University dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat lewat artikel Dose-dependent perinatal risks of clomiphene citrate in US IVF cycles: a national cohort study, 2004–2021 dalam jurnal BMJ Open volume 16 nomor 8, artikel e115285, tahun 2026 (DOI 10.1136/bmjopen-2025-115285). Penulis utamanya Associate Professor Sheree Boulet, bersama Yujia Zhang, Dmitry Kissin, dan Michael Davies.
Angka yang naik bertingkat
Perempuan yang menerima dosis kumulatif 500 sampai 749 miligram mencatat risiko keguguran 12 persen lebih tinggi. Pada rentang 750 sampai 999 miligram, selisihnya melebar menjadi 38 persen. Dosis 750 miligram ke atas juga berkaitan dengan kemungkinan kelahiran kembar atau kembar lebih lebih dari dua kali lipat.
Angka lahir mati tercatat lebih dari tiga kali lipat pada dosis tertinggi. Peneliti menyatakan temuan itu tidak signifikan secara statistik — selisihnya masih mungkin muncul karena kebetulan, sebab jumlah perempuan yang menerima dosis sebesar itu terlalu sedikit. Mereka menulis bahwa studi berskala lebih besar diperlukan untuk memastikan ada tidaknya kaitan tersebut.
Kelahiran kembar bukan sekadar catatan statistik. Kehamilan kembar membawa angka kelahiran prematur dan berat lahir rendah yang lebih tinggi dibanding kehamilan tunggal, dan itu sebabnya layanan kesuburan modern umumnya berusaha menghindarinya.
Yang tidak bergeser adalah angka kelahiran hidup. Menaikkan dosis tidak memperbesar peluang seorang perempuan membawa pulang bayi. Data yang dipakai berasal dari catatan siklus yang dikumpulkan lembaga kesehatan, bukan dari percobaan yang mengacak perempuan ke dosis tertentu, sehingga yang terbaca adalah kaitan antara dosis dan hasil kehamilan, bukan bukti bahwa dosis itulah penyebabnya.
Baca juga: Mengidap PCOS, Ini 5 Tips untuk Wanita Meningkatkan Kesuburan
Obat lama yang jarang diuji besar-besaran
"Klomifen sitrat sudah dipakai banyak perempuan sejak 1967, tetapi obat ini tidak pernah dievaluasi secara menyeluruh dalam uji klinis prospektif berskala besar," kata Professor Michael Davies dari Adelaide University.
Uji klinis prospektif adalah percobaan yang menetapkan dosis lebih dulu lalu mengikuti pesertanya ke depan. Tanpa percobaan semacam itu, pola dosis-respons yang muncul dari catatan layanan kesuburan menjadi salah satu bahan penilaian keamanan yang tersedia.
Baca juga: PKRE (Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial)
Davies menyarankan agar klinisi mengikuti secara ketat rekomendasi keamanan dari produsen dan menghindari menaikkan dosis kumulatif tanpa perlu.
Riset yang berlanjut
Studi ini menyambung lebih dari dua dekade penelitian tim Adelaide soal keamanan pengobatan kesuburan. Pendanaannya berasal dari National Health and Medical Research Council Australia, dan datanya dihimpun bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang memang mencatat siklus teknologi reproduksi berbantu di seluruh Amerika Serikat.
Karena catatan itu berasal dari satu negara dengan satu pola praktik klinis, sebaran dosis yang terekam di dalamnya belum tentu mencerminkan cara obat tersebut diresepkan di tempat lain.
Boulet menyatakan perempuan yang menerima dosis kumulatif lebih tinggi mengalami peningkatan risiko hasil kehamilan yang merugikan secara bertingkat. Peneliti tidak menyerukan penghentian pemakaian obat itu, melainkan pembatasan penambahan dosis yang tidak menambah manfaat.
Klomifen sitrat masih menjadi obat lini pertama untuk induksi ovulasi di banyak layanan di dunia. Tim peneliti menyatakan analisis lanjutan pada kumpulan data yang lebih besar dibutuhkan untuk menguji kaitan pada dosis-dosis tertinggi yang jarang diresepkan.
Baca juga: Kesehatan Reproduksi




















