Cekricek.id — Empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membangun merek fesyen sirkular bernama ReStitch yang bahan bakunya kain perca batik dari penjahit rumahan. Produk itu meraih penghargaan Inovasi Mahasiswa Terbaik pada SIE EXPO 2026 yang berlangsung pada 23 dan 24 Juni 2026.
Baca juga: Tips untuk Menerapkan Gaya Hidup Berkelanjutan di Indonesia
Tim pendirinya terdiri atas Nuha Amaliya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Tazkia Azzah Qonita dari Komunikasi Penyiaran Islam, Laila Zahra Amelia dari Pendidikan Bahasa Inggris, dan Akhsanu Cahya Putra dari Manajemen. Merek tersebut resmi diluncurkan pada 27 Juli 2026 dan mengolah kain perca batik menjadi barang siap pakai yang punya nilai jual.
Menurut keterangan universitas, Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun dengan tingkat daur ulang kurang dari lima persen. Angka itu dikutip kampus dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2021, dan menjadi titik berangkat tim dalam menyusun model usahanya.
Berawal dari 15 Penjahit di Bantul
Sebelum memproduksi, tim melakukan riset lapangan terhadap 15 penjahit lokal di Kasihan, Bantul. Hasilnya, setiap penjahit menyisakan dua hingga lima kilogram kain perca setiap bulan yang selama ini tidak memiliki nilai jual. Sisa kain itu umumnya berakhir sebagai buangan meski kondisinya masih layak diolah kembali.
Baca juga: Sustainable Development (Pembangunan Berkelanjutan)
Penjahit rumahan di kawasan tersebut kemudian dijadikan mitra produksi utama ReStitch. Skema kemitraan langsung itu dipilih agar limbah yang semula terbuang berpindah menjadi tambahan pemasukan bagi pengrajin di sekitar kampus, sekaligus memastikan pasokan bahan baku tim berjalan tetap.
Produk yang dihasilkan mencakup tas buatan tangan, gantungan kunci, dudukan tumbler, dan paket rakit sendiri atau DIY Kit. Harganya berkisar Rp18.000 untuk paket gantungan kunci rakit sendiri hingga Rp260.000 untuk tas jadi jenis totebag.
Menyasar Pembeli yang Peduli Asal Bahan
Salah satu fitur yang ditonjolkan adalah QR Code Story, kode pindai yang memungkinkan pembeli menelusuri asal-usul kain yang dipakai pada produk yang dibelinya. Fitur itu diletakkan tim sebagai jaminan bahwa klaim bahan daur ulang pada produknya dapat diperiksa pembeli, bukan sekadar pernyataan di label.
Tim juga menjalankan program Sustainable Workshop berupa kelas rakit sendiri yang ditawarkan kepada komunitas, sekolah, dan perusahaan. Program tersebut menjadi saluran kedua bagi usaha itu, di samping penjualan produk jadi.
Nuha Amaliya, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMY yang menjabat CEO ReStitch, menyatakan timnya tidak ingin berhenti pada tampilan produk. "Kami tidak ingin ReStitch hanya menjadi produk yang bagus di foto," katanya. Ia ingin setiap pembelian terasa menyambung ke penjahit yang mengerjakan bahannya.
Riset pasar yang dilakukan tim menunjukkan 84 persen responden bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan, sementara 76 persen menyatakan tertarik membeli produk berbahan limbah tekstil. Dua angka itu dipakai tim sebagai dasar penetapan segmen pembelinya, yakni konsumen yang mempersoalkan asal bahan dan bersedia menanggung selisih harganya.
Baca juga: Pelatihan Membatik Saat HUT RI di Padang Panjang: Pelestarian Budaya Bangsa
Dikutip dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, selain penghargaan di SIE EXPO 2026, ReStitch lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha 2026. Rencana perluasan produksi dan penambahan jaringan mitra penjahit belum diumumkan tim.


















