Jalur Masuk Obat Antisense ke Sel Kanker Terungkap Lewat Reseptor CD44 dan EPHA2

Perbandingan sferoid tumor pankreas kontrol dan yang diberi terapi antisense oligonukleotida

Perbandingan sferoid tumor pankreas kontrol (kiri) dan yang diberi terapi antisense oligonukleotida (kanan). [Foto: Marco dkk./Journal of Cell Biology]

Cekricek.id — Tim peneliti dari Cancer Research UK Scotland Institute dan University of Glasgow mengungkap jalur molekuler yang dipakai obat antisense oligonukleotida (ASO) untuk masuk ke dalam sel kanker dan mencapai targetnya, sebuah mekanisme yang selama ini masih kabur meski jenis terapi ini sudah dipakai secara klinis.

Temuan itu dipaparkan Jim Norman, profesor di Cancer Research UK Scotland Institute dan University of Glasgow, bersama Sergi Marco, peneliti pascadoktoral yang memimpin studi tersebut, lewat artikel EPHA2/CD44-directed trafficking enhances endosomal leakiness and antisense therapy delivery dalam jurnal Journal of Cell Biology pada 2026. Studi ini turut melibatkan kolaborator dari Ionis Pharmaceuticals.

Mekanisme yang Selama Ini Kurang Dipahami

“Meski penting bagi efektivitas ASO, mekanisme yang mengatur penyerapan dan perjalanan mereka di dalam sel masih kurang dipahami,” kata Norman, menjelaskan celah pengetahuan yang coba dijawab studi ini.

Obat antisense oligonukleotida bekerja dengan mengikat molekul RNA tertentu di dalam sel untuk mematikan produksi protein yang memicu penyakit, termasuk protein KRAS yang bermutasi dan menjadi salah satu pendorong utama kanker pankreas. Masalahnya, ASO harus lebih dulu menembus membran sel dan lolos dari kantung endosom di dalam sel sebelum bisa mencapai targetnya di sitoplasma -- dan sebagian besar dosis yang diberikan justru terjebak dan terbuang di dalam endosom tersebut.

Empat Tahap: dari Reseptor Permukaan sampai Kebocoran Membran

Tim menemukan bahwa ASO mula-mula berikatan dengan protein reseptor CD44 di permukaan sel, yang kemudian memicu aktivasi protein reseptor EPHA2. Aktivasi itu mendorong pembentukan endosom dan penambatannya di sekitar inti sel, sebuah posisi yang ternyata membuat membran endosom menjadi lebih “bocor” sehingga ASO di dalamnya lebih mudah lolos ke sitoplasma tempat targetnya berada.

Untuk menguji temuan ini, tim memberikan ASO penarget KRAS bermutasi pada sferoid sel kanker pankreas yang ditumbuhkan di laboratorium. Sferoid yang diberi ASO itu tumbuh lebih kecil dibanding sferoid kontrol, menunjukkan terapi tersebut berhasil menekan pertumbuhan sel kanker lewat jalur molekuler yang baru dipetakan itu.

Membuka Jalan untuk Terapi ASO yang Lebih Efisien

Dengan memahami jalur EPHA2/CD44 ini, tim menyebut para peneliti obat berpotensi merancang ASO generasi berikutnya yang lebih efisien memanfaatkan jalur tersebut, sehingga dosis yang lebih kecil bisa mencapai efek terapeutik yang sama -- sekaligus berpotensi mengurangi efek samping yang timbul akibat ASO yang tidak sampai ke target dan menumpuk di jaringan lain. Studi ini masih berbasis sel kanker pankreas di laboratorium, sehingga penerapannya pada pasien manusia masih memerlukan riset lanjutan.

Baca juga: Jarum Suntik Nano dari Untai DNA Tembus Membran Sel Buatan, Belum Diuji pada Sel Hidup

Baca juga: Radang Sendi Setelah Imunoterapi Kanker Berulang seperti Penyakit Bermemori, Terbaca dari Cairan Sendi Enam Pasien

Baca Juga

Ilustrasi botol-botol produk perawatan tubuh dan kosmetik tersusun di rak kamar mandi
98 Persen Produk Perawatan dan Pembersih Rumah Tangga Simpan Bahan Kimia Tak Tercantum di Label
Pita berwarna merah muda lembut sebagai simbol kesadaran kanker payudara, bukan foto Lucy Davis
Lucy Davis, Dawn di "The Office" Versi Inggris, Ungkap Kanker Payudara Stadium 4 yang Tak Bisa Disembuhkan
Ilustrasi abstrak jaringan sel dan koneksi saraf di dalam otak, bukan citra mikroskopi asli penelitian Mount Sinai
Subtipe Mikroglia Pelindung Ditemukan pada Otak Penderita Alzheimer, Studi Pemetaan Terbesar Sejauh Ini
Deretan tenda darurat berjajar di kaki bukit berpohon zaitun pada siang hari
WHO: Ribuan Pasien Gaza Masih Menunggu Giliran Evakuasi Medis
Peneliti bersarung tangan biru mengamati sampel melalui mikroskop di meja laboratorium
Radang Sendi Setelah Imunoterapi Kanker Berulang seperti Penyakit Bermemori, Terbaca dari Cairan Sendi Enam Pasien
Sekop tertancap pada gundukan tanah gelap yang terbuka tanpa penutup rumput
86 Persen Sampel Tanah di East Trenton Lampaui Ambang Timbal, Debu Lantai Rumah Ikut Tercemar