Cekricek.id — Parlemen Hungaria memilih Andras Baka, mantan hakim Mahkamah Agung yang pernah disingkirkan Perdana Menteri Viktor Orban dari jabatannya, sebagai presiden baru negara itu.
Dikutip dari Al Jazeera yang bersumber dari AFP dan Reuters, Selasa (11/8/2026), Majelis Nasional Hungaria mengonfirmasi Baka lewat pemungutan suara rahasia dengan hasil 140 suara mendukung, enam menolak, dan tanpa satu pun abstain.
Diusung Tisza, Diboikot Fidesz
Baka, 73 tahun, diusung Partai Tisza yang memegang mayoritas konstitusional dua pertiga kursi parlemen sejak Sabtu (8/8/2026). Partai Fidesz milik Orban memboikot pemungutan suara tersebut, menolak hadir dalam proses pemilihan presiden baru itu.
Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar, yang partainya mengusung Baka, menyebut perjalanan hidup Baka sebagai “contoh komitmen terhadap negara hukum yang demokratis,” kata Magyar, seraya menegaskan Hungaria perlu dituntun “kembali ke jalur negara hukum.”
Baka sebelumnya menjabat dua periode sebagai hakim Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia di Strasbourg, sebelum terpilih memimpin Mahkamah Agung Hungaria pada 2009. Ia akan resmi menjabat sebagai presiden pada 19 Agustus mendatang.
“Hungaria Berubah Menjadi Negara yang Dikuasai”
Dua tahun setelah terpilih memimpin Mahkamah Agung, Baka dicopot dari jabatannya oleh pemerintahan Orban. Pencopotan itu terjadi setelah ia secara terbuka mengkritik reformasi pemerintah yang menurutnya mengancam independensi peradilan Hungaria.
Kepada AFP bulan lalu, Baka menjelaskan alasan di balik langkah-langkah pembongkaran struktur kekuasaan Orban yang tengah berjalan. “Di negara yang menjunjung negara hukum, langkah-langkah luar biasa semacam itu tidak bisa dipakai, tetapi Hungaria berubah menjadi negara yang dikuasai di bawah Orban,” kata Baka. Ia menambahkan pejabat-pejabat negara era sebelumnya “diangkat bukan untuk membatasi kekuasaan pemerintah, melainkan untuk memastikan kelangsungan politik sistem lama,” ujarnya.
Kembalinya Baka ke pucuk kekuasaan negara, kali ini sebagai presiden, menggantikan Tamas Sulyok, tokoh yang sebelumnya ditunjuk Orban namun dicopot beberapa pekan sebelum pemilihan Baka berlangsung.
Membongkar Struktur Kekuasaan Orban
Terpilihnya Baka menjadi langkah terbaru kepemimpinan baru Tisza dalam membongkar struktur kekuasaan politik yang dibangun Orban selama 16 tahun berkuasa. Langkah-langkah sebelumnya mencakup reformasi media, pembentukan satuan tugas antikorupsi, serta pembatasan masa jabatan perdana menteri menjadi maksimal delapan tahun.
Pergantian kepemimpinan di Hungaria ini terjadi di tengah dinamika politik yang lebih luas di kawasan Eropa, tempat sejumlah negara tengah bergulat dengan ketegangan antara kekuatan populis dan institusi demokrasi yang mapan. Cekricek.id sebelumnya memberitakan Spanyol dan Italia saling menerapkan kontrol perbatasan yang meretakkan kawasan bebas visa Schengen, contoh lain betapa rapuhnya konsensus politik di antara negara-negara Uni Eropa belakangan ini.
Belum ada pernyataan resmi dari Orban maupun Fidesz menanggapi terpilihnya Baka. Publik Hungaria kini menanti bagaimana presiden baru itu akan memosisikan dirinya di tengah ketegangan yang masih membara antara pemerintahan koalisi Tisza dan kubu oposisi Fidesz yang selama belasan tahun mendominasi politik negara itu.





















