Makam yang Menolak Pindah dan Kenduri Sko yang Berpindah ke Masjid

Ilustrasi dua batu nisan tegak di halaman berumput dengan siluet masjid di kejauhan

Ilustrasi makam tua dan masjid. Lanskap spiritual Pondok Tinggi, Sungai Penuh, berubah seiring kota tumbuh. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Ada sebuah makam yang berdiri di tengah jalan di Dusun Singaro, Desa Pondok Agung, Kecamatan Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh. Jalan itu dibangun mengitarinya, bukan menggusurnya. Yang dimakamkan di situ bernama Sutan Kamat, seorang Ninek Mamak yang menurut catatan setempat lahir pada 1312 dan wafat pada 1407 Masehi. Bentuk fisik makamnya sudah berubah akibat pembangunan jalan, sehingga depati adat mendirikan tugu di lokasi itu sebagai penanda. Alasan makam itu tidak dipindahkan disampaikan warga dengan kalimat yang tidak bisa dibantah oleh perencana jalan mana pun: arwahnya tidak mau pindah. Sutan Kamat dikenal sebagai sosok tegas, kuat pendirian, dan temperamental. Sampai hari ini masih ditemukan telur ayam kampung diletakkan di tugu itu sebagai bagian dari ritual tertentu.

Empat makam leluhur semacam itu — Sutan Kamat, Ninek Baju Besi, Ninek Siak Dukun, dan Nunyang Bungkuk — menjadi tulang punggung penelusuran Rofi Surya Aryanto dari Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada dalam artikel Perkembangan Lanskap Spiritual Masyarakat Pondok Tinggi, Sungai Penuh, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara (JANUS) Volume 3 Nomor 1 pada 2025. Yang dilacaknya bukan bentuk batu nisannya semata, melainkan perpindahan tempat orang Pondok Tinggi merayakan hal yang paling sakral bagi mereka: Kenduri Sko.

Metodenya menggabungkan wawancara dan studi pustaka dengan pendekatan etnosejarah dan memori kolektif, ditambah pengamatan langsung Kenduri Sko lewat pendekatan fenomenologi. Wawancara dilakukan terhadap pemangku adat tertinggi, Depati Macan Putih, untuk menangkap ingatan kolektif dan melihat bagaimana masyarakat serta pemangku adat memperlakukan masjid dan makam selama upacara. Ruang lingkupnya dipersempit ke dua desa di Kecamatan Pondok Tinggi, yaitu Desa Permanti dan Desa Pondok Agung, karena di sanalah artefak dan pelaksanaan Kenduri Sko berada.

Kampung Deret di Kaki Bukit Barisan

Pondok Tinggi terletak di ketinggian sekitar 800 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut, di kaki Bukit Barisan, tepatnya di Bukit Simancik, dan berada dalam zona sesar Semangko. Secara geokultural ia titik persilangan antara budaya Minangkabau dari dataran tinggi dan Melayu dari dataran rendah. Mayoritas penduduknya keturunan masyarakat adat Kerinci yang meyakini nenek moyang mereka berasal dari Desa Koto Majidin. Sistem kekerabatannya matrilineal, dengan struktur adat dipimpin Depati, Ninik Mamak, dan Rio. Bahasa lokalnya masih hidup dan dipakai sehari-hari maupun dalam pantun, mantra, parno adat, dan cerita rakyat.

Permukimannya berpola memanjang yang disebut laheik atau larik. Bahan bangunannya kayu aro, kayu bulian, dan kayu suryan, disambung dengan sistem pasak tanpa paku. Bentuknya rumah panggung, satu bangunan menyambung ke bangunan berikutnya sehingga satu rumah bisa dihuni sampai sepuluh kepala keluarga dari satu suku. Pondasinya ditopang batu sebagai mitigasi gempa, atapnya tinggi karena dipakai menyimpan pusaka. Tiang, dinding, jendela, dan pintunya berhias ornamen bermotif flora dan fauna, dan di depan pintu masuk selalu terpasang batu berlubang untuk mencuci kaki.

Batas wilayahnya berupa parit bersudut empat yang disebut pait sudut mpak, dalamnya hampir satu meter di setiap batas rumah larik, ditanami tanaman paku dan diberi tanda batu andesit berbentuk menhir di keempat sudutnya. Hunian awal masyarakat Pondok Tinggi terbagi menjadi empat laheik: Laheik Temenggung, Laheik Singgaro, Laheik Rio Patai, dan Laheik Mandarea. Ada pula bilik padi sebagai lumbung, empat di wilayah hunian awal dan tiga lagi dekat Masjid Agung, tetapi bangunan bilik padi itu sudah tidak bisa ditemukan lagi karena berubah menjadi hunian modern.

Empat Kuburan, Empat Ruang Sakral

Pada mulanya, setiap laheik punya area sakralnya sendiri, dan area itu adalah makam leluhur yang membuka tanah bagi mereka. Makam Ninek Baju Besi menjadi area sakral bagi Laheik Rio Mandarea, Makam Siak Dukun bagi Laheik Rio Patai, Makam Sutan Kamat bagi Laheik Rio Temenggung yang merupakan permukiman awal, dan Makam Nunyang Bungkuk bagi Laheik Rio Singaro. Kenduri Sko pun dilaksanakan terpisah, dengan waktu berbeda antara satu laheik dan laheik lain, meski antarlaheik saling mendatangi dan berbagi hasil bumi.

Sosok-sosok yang dimakamkan itu punya riwayat masing-masing. Ninek Baju Besi bernama asli Saleh Kecik Mulyo Alam, berasal dari Koto Majidin Mudik dan datang ke Pondok Tinggi kira-kira pada pertengahan abad ke-14. Ia dipercaya kebal terhadap benda tajam dan diyakini menunggu pintu lawang bersudut empat, satu-satunya pintu masuk ke Pondok Tinggi pada masa itu. Cerita rakyat menyebut ia seorang perempuan yang pergi dari tanah kelahirannya dalam keadaan bersedih dan menghabiskan hidupnya bermurung di bawah pohon Puntai, dekat sumber mata air. Nunyang Bungkuk dikenal sebagai tokoh yang menjemput Pusaka Rio Mandaro Rio Pati ke istana Raja Jambi, tetapi asal-usulnya belum diketahui sampai sekarang. Ninek Siak Dukun adalah alim ulama yang dianggap sangat berperan dalam penyebaran Islam di Pondok Tinggi, namun narasi sejarah tentang asal usul dan kehidupannya pun belum banyak ditemukan.

Nasib keempat makam itu kini berbeda-beda, dan justru di situ letak temuannya. Makam Ninek Baju Besi terawat: ada pagar keliling, jirat baru, dan cungkup besi, dengan ukuran keseluruhan 3,28 meter kali 1,90 meter. Warga Desa Koto Majidin masih rutin datang berdoa sambil membawa pisang, lemang, lapek, dan telur bebek sebagai ungkapan syukur atas terkabulnya keinginan. Makam itu sendiri pernah dipindahkan setelah kebakaran besar melalap satu kompleks perumahan warga yang sedang bersiap menggelar Kenduri Sko; pemindahan pada 2014 disebut dilakukan atas permintaan arwah Ninek Baju Besi yang merasuki salah seorang keturunannya, dengan pesan agar makam tidak diinjak-injak dan dijaga kebersihannya.

Sebaliknya, Makam Ninek Siak Dukun kehilangan statusnya. Tidak banyak warga masa kini yang mengaitkan kegiatan mereka dengan makam itu, sehingga area di sekitarnya dipakai untuk keperluan sehari-hari. “Artinya area makam ini tidak lagi bersifat sakral,” tulis Rofi Surya Aryanto dalam artikel itu. Hal serupa terjadi pada Makam Nunyang Bungkuk, yang lokasi awalnya di Desa Pondok Agung kini menjadi tapak Sekolah Dasar Negeri 10/III Pondok Agung. Batu nisannya pun menyusut secara fisik: nisan Ninek Siak Dukun kini tinggi 34 sampai 50 sentimeter, padahal sebelumnya lebih dari satu meter, setara ukuran menhir yang tersebar di sepanjang dataran tinggi Bukit Barisan. Pergeseran perlakuan terhadap tinggalan yang berstatus situs semacam ini yang dijadikan penulisnya sebagai patokan perubahan.

Ketika Syukur Berpindah Alamat

Kenduri Sko di Pondok Tinggi mulanya bermakna pesta panen padi dan ungkapan syukur kepada leluhur atas hasil bumi. Ia dijalankan oleh empat Luhah — Rio Pati, Rio Mendaro, Rio Temenggung, dan Rio Senggaro — dan di Pondok Tinggi digelar setiap sepuluh tahun sekali, sementara di tempat lain di semenanjung Kerinci rentangnya bisa empat, sepuluh, sampai empat puluh tahun tergantung kesepakatan petinggi adat. Olahan hasil tani dan kebun disajikan di ruang tamu dan pintu rumah dibuka 24 jam untuk menarik tamu sebanyak-banyaknya. Makam leluhur diperlakukan istimewa dengan persembahan buah-buahan dan padi yang diwadahi cerano atau jikat.

Pada perhelatan 2014 dan 2024, upacara itu dilangsungkan di halaman, baris utama, dan di dalam Masjid Agung Pondok Tinggi. Hasil panen dan buah-buahan dibawa masuk ke dalam masjid, lalu warga melakukan tasyakuran. “Perubahan pada esensi ucapan rasa syukur yang semula ditujukan pada leluhur atau nenek moyang berubah ke Allah SWT karena proses Islamisasi dan modernisasi yang terjadi,” tulis Rofi Surya Aryanto. Peran pemimpin adat menyempit menjadi mediator hubungan antara manusia dan nenek moyang, sementara penyiar agama Islam mengambil peran sebagai fasilitator pemahaman spiritual. Penyelesaian konflik adat pun diarahkan ke masjid sebagai tempat musyawarah mufakat, dan konsepsi Umah Gedeang di Pondok Tinggi ikut berpindah ke sana. Proses tarik-menarik antara adat dan agama semacam ini punya kemiripan dengan apa yang terjadi ketika Islam masuk ke dalam susunan cerita asal-usul di Minangkabau.

Ada kejadian pada 2024 yang membuat gambaran ini lebih rumit. Sebuah acara besar bernama Kenduri Swarnabhumi digelar di Pondok Tinggi dengan suntikan dana festival dari pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan Karisma Event Nusantara, dalam rangka peringatan 150 tahun berdirinya Situs Cagar Budaya Masjid Agung Pondok Tinggi. Karena itu tidak ada pesta panen dan tidak ada ritual penyucian pusaka. Pelaksananya bukan masyarakat Pondok Tinggi, melainkan event organizer dengan narasi keterlibatan pemuda-pemudi setempat yang menurut catatan penelitian ini pun dianggap bukan orang asli. Masyarakat dan kaum adat — Depati, Tuo Teganai, Niniek Mamak, Nak Gadieh, Nak Bujeang — hadir sebagai tamu undangan. Narasi dari kaum adat kemudian menggiring opini bahwa acara itu adalah Kenduri Sko Pondok Tinggi, dan menurut penulisnya hal ini menghasilkan pergeseran makna yang relatif berbeda dari esensi Kenduri Sko itu sendiri.

Masjid yang Berdiri Lebih Tinggi dari Nisan

Masjid Agung Pondok Tinggi berdiri sejak 1874 dan sempat berganti nama pada 1953. Ia pernah disinggahi Wakil Presiden ke-2 Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, dan sudah dilindungi lewat monumen ordonansi pada 1931. Atapnya limasan dengan puncak tumpang bersusun tiga, menaranya berada di dalam masjid berbentuk anjungan mangkuk besar bermotif hias. Ukiran bercorak Islam menutupi hampir seluruh permukaan: tiang, palang, pintu, lubang pintu, dan mimbar. Konstruksinya ditopang 36 tiang yang terbagi menjadi tiang panjang sembilan, tiang panjang lima, tiang panjang dua, serta tiang gantung.

Yang menarik perhatian penulisnya bukan ukirannya, melainkan konturnya. Masjid itu berdiri di dataran yang lebih tinggi daripada permukiman dan lebih tinggi daripada beberapa nisan leluhur. Musyawarah adat yang dahulu digelar di Balai Adat kini digelar di dalam masjid. Bagi Rofi Surya Aryanto, pola ini menandakan masyarakat Pondok Tinggi tidak serta-merta membuang keyakinan lamanya ketika Islam masuk, melainkan memindahkan objek yang dihormati ke tempat yang lebih tinggi — persis logika yang sama dengan yang menempatkan makam leluhur di atas permukiman. Pergerakan permukiman pun tidak dari dataran tinggi menuruni lembah seperti umumnya dataran tinggi Jambi, melainkan dari lereng bukit naik ke area yang lebih tinggi mengikuti letak monumen yang dianggap sakral. Kajian sejenis pernah dilakukan pada kompleks percandian di Riau, tempat bangunan suci dan lanskap sekelilingnya dibaca sebagai satu kesatuan.

Bukti lain datang dari arah nisan. Makam-makam leluhur di Pondok Tinggi tidak mengarah ke kiblat sebagaimana lazimnya makam Islam, melainkan ke selatan — dan bila ditarik lebih jauh, arah itu menuju Bukit Simancik. Dalam Kenduri Sko ditampilkan tarian Aseak, upacara penyucian jiwa dengan bantuan roh nenek moyang yang merasuki tubuh keturunannya yang masih hidup. Di dalamnya terdengar kalimat “haaa laah tuhaun ninek” dan “aee lah tuhaun neh, ninek ka baloik age”, yang artinya leluhur turun dari tempatnya lalu naik kembali ke tempatnya. Menurut penulisnya, dua wujud komunikasi itu menggambarkan kepercayaan bahwa leluhur mereka tidak pergi ke nirwana, melainkan tetap berada di dataran yang lebih tinggi dari permukiman.

Bukit Simancik sendiri masih dipertahankan sebagai hutan adat, sekaligus menjadi lokasi makam modern. Keberadaan harimau di sana dianggap perwujudan leluhur yang menjaga perbatasan Pondok Tinggi dari orang asing yang hendak mengganggu; jejak kaki harimau memang ditemukan di dataran tinggi itu. Warga percaya munyan, yaitu nenek yang sudah sangat tua, selalu melakukan perjalanan pulang pergi ke Bukit Simancik untuk menemui harimau atau inyeak sebelum kepergiannya. Kepercayaan pada harimau sebagai sosok yang punya kedudukan khusus di Sumatera juga terekam dalam sumber-sumber lain, meski dengan nada yang jauh berbeda.

Penulisnya mencatat sendiri bahwa sejumlah mitologi seperti reinkarnasi leluhur berwujud harimau sudah tidak lagi sampai ke generasi sekarang. Ia juga tidak menyajikan bagian keterbatasan penelitian secara terpisah, padahal kesimpulannya bersandar pada satu kecamatan, dua desa, wawancara dengan satu pemangku adat tertinggi, dan sejumlah makam yang beberapa di antaranya sudah berpindah tempat sehingga konteks aslinya tidak lagi utuh. Kesimpulan yang ditariknya adalah bahwa lanskap spiritual Pondok Tinggi kini merupakan hasil artikulasi antara kontinuitas adat, internalisasi nilai keislaman, dan arus modernisasi. Makam Sutan Kamat, yang keberadaannya mendahului kedatangan Islam di Pondok Tinggi, masih berdiri di tengah jalan Dusun Singaro, dan warga masih menanam tanaman hias di sana lalu menggelar kenduri kecil di rumah masing-masing bila hajat mereka terkabul.

Baca Juga

Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi pertunjukan wayang kulit dengan iringan gamelan pada malam hari
Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa
Ilustrasi tumpukan kain tenun tradisional berlatar permukaan batu prasasti
Dua Kain yang Hanya Boleh Dimiliki Raja pada Masa Mpu Sindok
Ilustrasi arca batu dewa matahari di relung dinding candi
Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan
Ilustrasi dermaga batu menjorok ke laut dangkal dengan perahu nelayan di kejauhan
Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga
Ilustrasi tumpukan manuskrip menguning tersimpan di lemari kaca kayu berukir
Naskah Kuno Palembang Dirawat dengan Tembakau dan Kapur Barus