Euis Komariah dan Zaman Kaset yang Sudah Lewat

Ilustrasi tumpukan kaset pita analog lawas di samping kacapi kayu berdawai.

Ilustrasi tumpukan kaset pita analog lawas di samping kacapi kayu berdawai. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Di sebuah ruang di Universitas California, Davis, pada 19 April 2007, seorang penyanyi Sunda berumur 57 tahun sedang menjelaskan cara membuat kaset satu per satu. Perusahaannya, kata dia, punya empat ratus tape deck kecil di Bandung. Karena bukan mesin penggandaan cepat, satu kaset perlu satu jam untuk jadi. Kalau butuh banyak, master salinannya dikirim ke Jakarta. Penanya, seorang etnomusikolog Amerika, terkesiap: repot sekali. Perempuan itu tidak menganggapnya repot. Itu memang cara kerja zaman kaset.

Perempuan itu Euis Komariah, dan percakapan tersebut kini tersedia lengkap sebagai terjemahan beranotasi berkat Henry Spiller dari University of California, Davis, lewat artikel Beyond the “zaman kaset” (era of the cassette); Interview with Euis Komariah, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025. Spiller mewawancarai Euis saat penyanyi itu menjalani residensi di kampus tersebut. Euis meninggal di Bandung pada 11 Agustus 2011, dan lebih dari satu dekade setelahnya ia tetap salah satu penampil paling berpengaruh dalam musik Sunda.

Dari Majalaya ke Panggung Dunia

Euis Komariah lahir di Majalaya pada 9 September 1949. Orang tua kandungnya bercerai ketika ia masih kecil, dan sebagian besar masa kanak-kanaknya dihabiskan dalam asuhan kerabat dengan keadaan yang sangat sederhana. Bakat musiknya tampak sejak dini. Selain menyanyi, ia ikut kelompok musik yang dianggap pantas untuk perempuan muda pada 1950-an: gondang, ansambel tumbuk lesung, dan gamelan degung. Pada masa remaja ia populer sebagai penyanyi wayang golek dan pop Sunda, lalu mengasah keterampilannya di Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung.

Baca juga: Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah

Ia mulai belajar tembang Sunda — puisi aristokratik yang dinyanyikan — kepada seniman-seniman terkemuka di Bandung dan langsung memenangi lomba-lomba bergengsi yang diselenggarakan DAMAS, perhimpunan mahasiswa Sunda. Penghargaan pertamanya datang pada 1962. Pada 1968 ia menikah dengan Gugum Gumbira Tirasondjaja (1945–2020), seniman sekaligus produser yang antara lain diingat karena perannya dalam perkembangan jaipongan. Sambil membesarkan empat anak perempuan, Euis tetap aktif. Dengan dukungan Gugum ia mewujudkan cita-cita masa kecilnya membentuk kelompok degung beranggotakan perempuan semua, Dewi Pramanik, yang menampilkan komposer sekaligus pemain suling ternama Ibu Haji Rohayah.

Rekamannya membawanya jauh. Ia menyanyi untuk piringan Asmara Record sejak 1971, dan bersama Gugum mendirikan label sendiri, Jugala, pada 1975. Rekaman tembang Sunda-nya di Jugala, yang sebagian besar dirilis pada 1970-an dan 1980-an, masih berpengaruh hingga kini — generasi penyanyi berikutnya terus mencari ilham pada warna suaranya dan senggol atau ornamen vokalnya. Ia berkeliling dunia: Singapura dan Malaysia pada 1967, Jerman Barat pada 1983, Jepang pada 1988, 1997, 2003, dan 2004, Malaysia pada 1990, Eropa pada 1991, Taiwan pada 2004, serta Amerika Serikat dan Kanada pada 2007. Sejumlah penyanyi terkemuka lahir dari bimbingannya, di antaranya Neneng Dinar, Mamah Dasima, Rika Rafika, dan Rita Tila.

Jugala Bermula dari Perbaikan Jalan

Yang jarang diketahui, Jugala tidak lahir sebagai studio. Ketika Spiller bertanya kapan studio itu didirikan, Euis mengoreksi urutan ceritanya: sebelum ada studio, yang ada CV Jugala, sebuah persekutuan usaha terdaftar dengan beberapa cabang usaha, yaitu pemborongan dan rekaman. Pemborongan yang ia maksud adalah membangun dan memperbaiki jalan. Di badan usaha itu Euis menjabat direktur, sementara Gugum direktur utama. Rekamanlah yang akhirnya berjalan. Setelah usaha rekaman menanjak, mereka tidak hanya menjual rekaman Euis sendiri, tetapi juga merekam orang lain yang dikontrak, seperti Idjah Hadidjah dan sinden-sinden lain dari Karawang dan Subang, termasuk penabuh kendang termasyhur asal Karawang, Suwanda.

Studionya sendiri baru dibangun kemudian. Mulai 1976 mereka menyewa studio orang lain — yang pertama di Jalan Jakarta, Bandung, dan Euis mengaku lupa siapa pemiliknya karena sudah lama sekali — lalu membangun studio sendiri pada 1980 di kompleks Jalan Kopo, dekat persimpangan Jalan Pasirkoja. Peralatannya buatan Jepang tetapi dibeli baru di Surabaya karena ada agen di sana. Sistemnya 16 trek dengan pita tebal setengah inci; hasilnya dipindahkan dan dicampur, menonjolkan atau melembutkan bagian tertentu, lalu diturunkan ke pita tipis seperempat inci dalam dua trek. Pita masternya, kata Euis, masih tersimpan lengkap di lemari khusus berlampu supaya tetap kering dan tidak lengket.

Penggandaannya bertumpu pada Jakarta. Di sana mereka bisa memakai mesin berkecepatan tinggi, dan pesanan besar butuh sekitar sepekan karena banyak orang lain juga menggandakan kaset di PT Murai. Spiller sempat menanyakan sesuatu yang mengganggunya sebagai orang luar: mengapa kaset Jugala tidak memuat catatan sampul yang menerangkan lagu dan pemainnya. Euis menjawab bahwa waktunya barangkali belum tiba; sampul hanya memuat pemain, informasi produksi, penyanyi, serta daftar dan urutan lagu, tanpa teks lagu. Spiller menduga hal itu berkaitan dengan keterbatasan satu lembar kertas yang muat dimasukkan ke kotak kaset, dan dengan kenyataan bahwa pendengar Sunda tidak perlu lirik tercetak untuk memahami lagunya.

Mandalungan, Nada yang Diturunkan Sedikit

Bagian paling teknis percakapan itu menyangkut laras. Spiller menjelaskan kepada pembaca bahwa salendro, salah satu sistem laras dasar Sunda, membagi satu oktaf menjadi lima jarak yang kira-kira sama besar, yaitu 240 sen — jarak yang di telinga Barat terdengar tidak mayor dan tidak minor. Musik Sunda juga punya kecenderungan menggabungkan sistem laras yang berbeda, misalnya penyanyi yang diiringi ansambel salendro dapat menumpangkan tangga nada lain asalkan dua atau tiga nadanya bertemu.

Euis bercerita tentang asal-usul kaset Jugala berlaras mandalungan. Karena pengalaman pertamanya belajar menyanyi untuk gamelan salendro, ia terbiasa berganti laras di dalam satu lagu. Suatu masa, guru-guru dari Cianjur dan Bandung sering datang ke rumahnya, di antaranya Pa Bakang, pencipta lagu “Jalan Satapak”, dan Pa Ahmad. Mereka berlatih berkali-kali sampai nadanya sedikit berputar, dan Pa Bakang menyebut itu justru laras tersendiri yang bernama mandalungan, atau kobongan bila dimainkan dengan gamelan. Akibatnya lagu yang sudah ada, misalnya dandanggula dalam pelog, bisa dipuntir sampai jelas menjadi lagu mandalungan.

Baca juga: Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN

Ketika ditanya bedanya dengan pelog, Euis tidak sekadar mengulang pendapat umum. Ada yang bilang mandalungan sama saja dengan pelog, hanya lebih tinggi, dan ia setuju — tetapi menambahkan satu hal: ada satu dawai kacapi yang diturunkan sedikit lalu disetel ulang saat berpindah dari pelog ke mandalungan; kacapi disetel dulu ke sorog, dan dari sorog dua nada diturunkan sedikit. Kaset itu akhirnya jadi, berjudul Sumanding asih, memuat antara lain lagu “Sruping argo” yang menurut Euis sebenarnya berlaras salendro tetapi ia pindahkan ke laras mandalungan sehingga berubah menjadi “Pagerbaya”. Sambutan pendengar bagus, meski mula-mula mereka bertanya-tanya karena bunyinya terdengar aneh. Gugum, sebagai produser, sengaja meminta lagu pembuka yang tidak biasa dengan meminjam ciri bagian instrumental jejemplangan, lalu memadukan kacapi indung, suling, dan rincik. Hasilnya, kata Euis, adumanis — bukan pertikaian, melainkan keselarasan yang enak antara kacapi indung dan rincik.

Jaipongan, Karawang, dan Nasib Baik Bernama Hongki

Soal jaipongan, Euis justru berhati-hati. Ia menyatakan hanya bisa bercerita sedikit karena tidak terlibat dalam risetnya. Gugum, kata dia, melakukan penelitian itu sendirian, mulai dari kebudayaan Cirebon, Tasik, Ciamis, sampai pesisir selatan, dan akhirnya Karawang. Euis baru hadir sesudahnya, pada proses di rumah. Mulanya belum ada nama jaipongan, yang ada bajidoran, yang berasal dari Karawang dan Subang. Setelah riset itu Gugum membuat aransemen gamelan yang sangat dinamis lalu menciptakan tariannya, berbasis tari rakyat, silat, dan ketuk tilu. Penari berpasangan bukan hal baru — sudah ada dalam ketuk tilu — hanya saja Gugum menatanya agar enak ditonton. Musisi pertamanya didatangkan dari Karawang, dari kelompok topeng banjet Ali Saban dan Abah Pendul, yang dibawa ke Bandung dan diberi arahan.

Spiller menambahkan konteks yang tidak dikatakan Euis: Gugum umumnya menerima porsi terbesar penghargaan atas penciptaan jaipongan, meskipun seniman lain juga berperan penting, termasuk komposer Nandang Barmaya serta penyanyi Tati Saleh dan Idjah Hadidjah. Popularitas jaipongan yang awet, tulis Spiller, banyak berutang pada naiknya kaset secara bersamaan dan pada tumbuhnya kelas menengah Indonesia. Rekaman “Daun Pulus / Keser Bojong”, yang mulai beredar pada 1980, disebut Euis paling sukses dan masih laku karena banyak orang menyukai tariannya — penyanyi dangdut Camelia Malik, misalnya, belajar tarian itu dari Gugum dan membawa kasetnya ke mana-mana. Spiller mencatat koreografi itu bahkan ditarikan massal oleh 2.500 penari pada 2018 di Car Free Day Jalan Dago, Bandung, empat dasawarsa setelah rilis pertamanya.

Yang paling jujur adalah pengakuan Euis bahwa banyak percobaan mereka gagal. Ia menjelaskannya dengan satu kata pinjaman. “Itu bergantung pada hongki, memakai istilah Tionghoa,” katanya, lalu menerjemahkannya sendiri menjadi beruntungan ketika Spiller tidak paham. Contohnya ia rinci: ada sinden baru yang bagus, direkam Jugala, tetapi belum tentu kasetnya laku; sebaliknya ada sinden yang biasa saja, tidak terlalu istimewa, lalu Gugum membuatkan lagu dan musik bergaya jaipongan, dan rekamannya melejit. Dalam memilih sinden untuk direkam, Gugum mengamati langsung acara kiliningan di Subang dan Karawang, yang biasanya diisi empat sampai enam sinden, untuk menakar siapa yang paling punya potensi komersial.

Menyanyi dari Rumah lewat Telepon

Bagian yang paling menerangkan zamannya justru soal radio. Euis menceritakan bahwa siaran langsung masih ada di RRI dan stasiun lain, dan ia kerap ikut secara interaktif lewat telepon: penyiar dan kacapi berada di studio RRI, sementara ia menyanyi dari rumah. “Sungguh. Jadi, sekarang dilakukan dari rumah,” katanya ketika Spiller memastikan ia benar-benar siaran dari rumahnya. Stasiun-stasiun swasta bersaing dengan format interaktif; penelepon menawarkan lagu, Euis menyebut lagu yang akan ia bawakan, kacapi dimainkan di RRI, dan ia menyanyi di rumah lewat sambungan telepon. Ia mendengar kacapinya dari telepon, bukan dari radio, sebab kalau pesawat telepon terlalu dekat dengan radio akan timbul dengung balik.

Tentang kaset, penilaiannya bersifat sosial. “Karena orang Indonesia kelas menengah ke bawah biasanya punya tape, radio, atau kaset, dan mereka sangat beruntung teknologi kaset ada. Mereka bisa menghibur diri di rumah,” katanya. Pada masa jaipongan mulai meledak, tambahnya, penabuh kendang yang belum bisa memainkan jaipongan terpaksa mempelajarinya, dan semua seniman kebagian rezeki karena pertunjukan begitu banyak. Rekaman di Jugala sendiri sempat terhenti ketika Gugum bekerja untuk pemerintah dan sibuk; menurut sumber yang dikutip Spiller, pengenaan pajak kaset oleh pemerintah juga memengaruhi keputusan Jugala berhenti memproduksi kaset komersial. Gugum baru memulainya lagi pada 2004 setelah pensiun, dengan sebuah karya jaipongan.

Wawancara itu menangkap satu titik peralihan yang, dibaca sekarang, terasa getir. Ketika Spiller menyebut format CD sudah ketinggalan zaman di Amerika dan orang memakai mp3, serta mengusulkan Jugala berjualan daring, Euis menjawab bahwa mereka belum memproduksi CD sama sekali, baru kaset. “Ya, suatu hari nanti kami akan memakai mp3,” katanya. Empat tahun kemudian ia meninggal. Spiller menutup artikelnya dengan mencatat bahwa kaset, CD, dan VCD kini hampir lenyap, dan telepon genggam menjadi antarmuka utama orang Indonesia untuk musik rekaman.

Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat

Batas Sebuah Percakapan

Perlu ditegaskan bahwa ini satu wawancara dengan satu narasumber, direkam pada 2007 dan baru diterbitkan pada 2025 dengan tambahan anotasi — bukan riset lapangan yang mengumpulkan banyak suara. Sejumlah keterangannya bersifat tangan kedua, terutama soal jaipongan yang risetnya diakui Euis tidak ia ikuti. Karena Euis meninggal pada 2011, tidak ada kemungkinan menanyakan ulang. Spiller mencatat bahwa Rina Oesman membantu menyunting versi bahasa Indonesia wawancara itu dan meninjau isinya bersama Euis sebelum ia wafat.

Spiller juga menyesali kesalahannya sendiri sebagai pewawancara. Setelah Euis menceritakan siaran telepon dari rumah, ia mengaku berganti topik terlalu cepat dan menduga Euis bisa berbagi lebih banyak detail menarik tentang siaran radio seandainya ia menggali lebih dalam — padahal banyak radio swasta itu kemudian gulung tikar pada awal 2000-an. Pengakuan semacam itu jarang muncul dalam artikel akademik. Ketika akhirnya ditanya tentang warisannya sendiri, jawaban Euis pendek dan tanpa hiasan. “Saya bersyukur karier saya, sejak muda sampai sekarang, berkembang. Saya masih tumbuh dan masih mampu,” katanya — kalimat yang dalam artikel itu disajikan dalam terjemahan bahasa Inggris.

Baca Juga

Guru memeriksa tas murid dengan detektor logam di sebuah sekolah di Bangkok
Thailand Perangi Perundungan Usai Penembakan Sekolah
Ilustrasi beranda rumah kampung Sunda pada dini hari dengan satu bohlam teras menyala.
Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail
Ilustrasi deretan tiang bendera negara-negara Eropa di depan gedung kaca pemerintahan.
Tiga Negara Eropa yang Absen dari Pakta Pertahanan PESCO
Ilustrasi perempuan berbusana adat Indonesia.
Kalimat Berlapis Kato Pasambahan dan Cara Adat Menunda Maksud
Ilustrasi majalah-majalah lama di rak kayu.
Wanoja Naik Daun, Wanita Meredup di Majalah Sunda Manglé
Ilustrasi naskah tulisan tangan kuno di atas meja kayu.
Ketika Juru Tulis Jawa Menyalin sambil Ikut Bicara