Cekricek.id — R. Natamidjaja, seorang juru tulis di Bandung, sebetulnya tidak suka membaca wawacan. Panjang kata-katanya, tipis isinya, begitu keluhannya. Tetapi pada suatu malam Jumat ia memaksa diri membuka sebuah buku baru, berniat membaca beberapa bait saja lalu tidur lebih awal. Yang terjadi sebaliknya: ia mulai tertarik, lalu terikat, lalu benar-benar tidak bisa berhenti. “Sampai saat itu saya belum pernah menemukan wawacan yang begitu membuat saya bersemangat sehingga tidak dapat meletakkannya,” tulisnya dalam surat tertanggal 8 Oktober, dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Buku itu berjudul Wawacan rusiah nu geulis, karangan R. Tjandra Pradja.
Surat Natamidjaja adalah salah satu dari empat surat pembaca yang dilampirkan penerbitnya ke dalam buku, dan menjadi salah satu bahan yang dibedah Wendy Mukherjee dari Australian National University dalam artikel Secrets of a beautiful woman; R. Tjandrapradja’s “Wawacan rusiah nu geulis”: a morality tale from West Java (Rahasia seorang perempuan cantik; Wawacan rusiah nu geulis karya R. Tjandrapradja: sebuah kisah moral dari Jawa Barat), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 2 pada 2025.
Tiga surat lain datang dari M. Kdr. Natawisastra, mantri guru Normaalschool Garut; Soepjan Iskandar, guru bantu Normaalschool Mr Cornelis di Batavia; serta tiga perempuan muda di Cianjur, Tedjaningsih, Djoewariah, dan Djoelaeha, yang tergabung dalam kelompok baca guguritan. Ketiganya menulis dengan antusiasme yang tak biasa. “Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Rahman, Ya Rahim, Oh Tuhan! Justru pada saat itulah kami terpikat oleh kata-kata wawacan ini!” tulis mereka pada 9 Oktober, dan menambahkan bahwa bagian-bagian lucunya membuat mereka tertawa sampai menangis. Menurut Mukherjee, yang justru tidak muncul dalam surat-surat itu adalah pesan moral yang dengan susah payah dipasang pengarang dan penerbitnya di halaman depan.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Buku mahal dari toko buku terbesar di Jawa Barat
Wawacan rusiah nu geulis terbit pada 1921 di Bandung oleh M.I. Prawira Winata. Toko Buku Prawira Winata, menurut data Mikihiro Moriyama yang dikutip Mukherjee, adalah perusahaan buku swasta terbesar di Jawa Barat sepanjang 1920-an, dengan sedikitnya lima belas judul fiksi dari mesin cetaknya sendiri, keagenan untuk terbitan Melayu, Jawa, dan Belanda, serta penjualan alat tulis. Bukunya tidak murah dan oplahnya tidak besar, antara 1.000 sampai 2.500 eksemplar. Untuk menghemat, buku diterbitkan berseri dengan harga sekitar 1,25 gulden per bagian; dalam cetakan berikutnya sebagai satu jilid berjahit, harganya tiga gulden.
Pemiliknya bukan sekadar pedagang. Prawira Winata pernah menjadi mantri guru atau kepala sekolah, dan membanggakan diri sebagai korektor naskah. Di setiap terbitannya ia mencantumkan diri sebagai penyunting sekaligus pemegang hak cipta. Pada halaman judul Wawacan rusiah nu geulis tertera keterangan bahwa naskah itu dipasieup sarta dibeuli hakna nu ngarang — dirapikan dan dibeli hak pengarangnya.
Pasar untuk buku semacam ini tidak muncul dengan sendirinya. Pada akhir abad kesembilan belas, kebijakan kolonial membuka sejumlah sekolah di Jawa Barat dan mengangkat angka melek huruf Bandung sampai 23 persen, tertinggi di seluruh Hindia. Menerbitkan buku pun tidak bebas begitu saja. Nama dan domisili pengarang serta nama dan alamat usaha penerbit wajib dicantumkan, sensor kolonial melarang penggambaran cabul, dan menghina golongan masyarakat berdasarkan ras, agama, atau negeri asal termasuk pelanggaran hukum. Melihat kutipan-kutipan yang ia sajikan, Mukherjee menulis, hari ini kita boleh bertanya-tanya apakah Prawira Winata tidak sedang berlayar terlalu dekat ke arah angin.
Sebuah genre dan kewajiban memberi pelajaran
Wawacan — dari akar kata waca, membaca nyaring atau melagukan — adalah bentuk sastra puitis utama di kalangan Sunda sejak pertengahan abad ketujuh belas, masuk bersama pengaruh politik Mataram. Aturan metrumnya diturunkan dari tembang macapat Jawa. Di Sunda ia dikenal dengan beberapa nama: dangding untuk metrumnya, tembang untuk syairnya, guguritan untuk puisi liris pendek, dan wawacan untuk karya panjang. Mengutip Ajip Rosidi, Mukherjee mengingatkan bahwa wawacan berakar pada dua pranata besar Sunda, yaitu keraton Priangan dengan keluarga bangsawannya dan pesantren dengan para kiainya, dan keduanya tidak saling berhadapan melainkan hadir bersama dengan penekanan berbeda.
Kewajiban memberi manfaat itu terpampang di kata pengantar buku, yang digubah dalam bentuk dangding dan ditandatangani penerbit bersama pengarang. Isinya kira-kira: masyarakat punya penyakitnya sendiri, dan pelajaran inilah obatnya; tidak ada penawar yang lebih baik daripada kisah seorang perempuan yang buruk perangainya. Sebagian besar wawacan Sunda yang muncul pada 1920-an dibingkai dengan tema didaktik serupa — peringatan bahwa kelonggaran seksual dan ketidaksetiaan akan dihukum, sementara keutamaan dan kesabaran akan berbuah.
Kata rusiah atau rasiah dalam judulnya sendiri sedang naik daun. Mukherjee mendaftar sejumlah judul sesudahnya: Wawacan rusiah nu kasep (1922) karya Nji Raden Hadji Hadidjah Machtum, yang menjawab dengan menjadikan seorang bangsawan muda sebagai contoh amoralitas; novel prosa Rasiah nu goreng patut (1928) karya Sukria-Juhana yang menjadi pastis jenaka atas keduanya; Rasiah geulang rantay (1937) karya Nanie; dan akhirnya Rasiah tembang Sunda (1931) karya R. Satjadibrata, yang membuktikan kata itu cukup terhormat untuk buku kaidah puisi.
Perjalanan hidup Nyi Raden Ayu Lasmana
Ceritanya sendiri berjalan cepat. Nyi Raden Ayu Lasmana, seorang janda muda yang cantik dari Sekar Arum, sebuah kawasan di Bandung, dan Raden Maja-Sutisna, seorang bujangan, saling mencintai dan diam-diam bertunangan. Lasmana kemudian tahu bahwa Agan Mariam, gadis keturunan India yang tidak menarik penampilannya, telah menyatakan harapan menikah dengan Maja-Sutisna; ayah Mariam, seorang tokoh keagamaan terkemuka di kota itu, memakai pengaruhnya untuk memeras janji dari ayah Maja-Sutisna. Panik, keduanya kawin lari. Pelarian itu berakhir di sebuah hotel Belanda di Surabaya, tempat mereka ditemukan kakak lelaki Lasmana. Lasmana dibawa pulang dalam aib ke Magelang; Maja-Sutisna kabur ke Banjarmasin menunggu skandal reda.
Agan Mariam akhirnya dilamar Ence Tamin, seorang ulama sekaligus pedagang dari Palembang, dan menikah dengan perayaan besar. Sementara itu, dalam kereta dari Magelang, Lasmana berkenalan dengan Raden Prawira-Supena dan segera menjalin hubungan. Ketika kabar itu sampai, Maja-Sutisna pulang ke Bandung untuk menghadapi saingannya; keduanya lalu menemukan bahwa Lasmana telah menipu mereka bergantian, dan memutuskan hubungan untuk selamanya. Maja-Sutisna kemudian menikahi seorang bangsawan muda di Sekar Arum, dan arak-arakan pengantinnya sengaja melewati depan pintu Lasmana. Lasmana kembali ke Magelang, bertemu Syekh Abubakar di toko permadaninya, dan menikah dengan lelaki itu. Ia kemudian bunuh diri dengan menenggelamkan diri di sungai, dan Abubakar diadili karena kekejaman terhadap istrinya lalu dibuang enam tahun ke Ambon.
Baca juga: Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Kiasan tua dalam sebuah adegan modern
Bagian yang menurut Mukherjee memperlihatkan kualitas sastrawi buku ini adalah penggambaran kecantikan Lasmana di awal cerita, ketika Maja-Sutisna mengintipnya mandi dari balik dinding bilik bambu. Yang menarik bagi Mukherjee bukan muatan erotisnya, melainkan asal-usul kiasannya. Lasmana disamakan dengan melati yang merambat di teralis rumah, dengan bulan baru yang sebagian tertutup awan putih, dengan bintang yang menggantung di langit. Air di sekitarnya berkilau pelangi.
Rujukan-rujukan itu, tulisnya, datang dari tradisi lama Nusantara. Adegan mandi di ruang tertutup mengingatkan pada relief candi, sementara seluruh susunannya memanggil motif mitologi Hindu yang sering dipakai: sang pahlawan memergoki sekelompok bidadari mandi di kolam hutan. Perumpamaan kecantikan perempuan dengan bulan juga merupakan topos yang lazim dalam teks-teks Jawa. Dengan kata lain, sebuah karya yang oleh Mukherjee disebut contoh awal fiksi realis dalam bahasa Sunda tetap dibangun dari perbendaharaan kiasan yang jauh lebih tua.
Syekh Abubakar dan sebuah potret yang tajam
Perbedaan Wawacan rusiah nu geulis dari wawacan sezamannya, menurut Mukherjee, terletak pada sumber konfliknya. Wawacan lain menempatkan pergulatan moral di dalam diri tokoh-tokoh yang semuanya orang Sunda. Di sini, lawan tanding sang tokoh utama adalah seorang Arab Hadhrami, Abubakar bin Ma’rup, dan potretnya, tulis Mukherjee terus terang, mengandung bisa yang nyata. Peran itu, tegasnya, harus dipahami lewat prasangka pengarangnya sendiri atau prasangka zamannya, sebab penggambarannya adalah stereotip yang sangat merendahkan.
Ketika kakak Lasmana meminta pertimbangan, kekhawatirannya justru menjadi ramalan: menikah dengan seorang Arab akan mendekatkan Lasmana pada ketaatan beragama, tetapi adat asing suaminya akan menjauhkannya dari kaumnya sendiri, seakan tinggal di Mekah yang jauh. Malam pernikahan, Abubakar menolak menunda keberangkatan. “Itu bukan kebiasaan saya, orang saya tidak membunyikan musik atas istri, dan terlarang bagi orang lain memandang mereka,” katanya dalam bait 1385, dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Bait-bait selanjutnya menggambarkan rumah yang berbau lemak kambing dan dupa, gudang yang beraroma minyak samin, tamu-tamu yang mengisap hookah dan memetik gambus, serta Lasmana yang menyimpulkan dalam hati bahwa ia sedang menyaksikan segerombolan jin. Puncak penghinaannya ada di bait 1410, ketika narator memelesetkan nama daerah asal Abubakar menjadi Hadaral-maot, sebuah permainan kata Arab yang menurut Mukherjee mengandung arti kehadiran maut itu sendiri.
Untuk menempatkan potret itu, Mukherjee memaparkan latar sejarahnya. Orang Arab telah bermigrasi ke Nusantara sejak abad kesembilan; sejumlah kerajaan seperti Banten dan Ceribon di Jawa Barat, Banjarmasin dan Pontianak di Kalimantan, serta Siak di Sumatra memiliki pendiri berdarah Hadhrami, dan nama-nama Hadhrami muncul dalam silsilah banyak keluarga bangsawan. Jumlah mereka bertambah ketika kapal uap mempermudah perjalanan dari Yaman. Di bawah hukum kolonial Belanda, sebagai Timur Asing, kedudukan hukum mereka nyaris setara dengan orang Eropa. Pada saat yang sama, dalam penggambaran sastra Sunda masa itu, mereka hampir selalu muncul sebagai pesaing ekonomi yang lebih kuat. Mukherjee menyebut tiga novel Jawa Barat yang memuat motif seorang perempuan muda cantik dipaksa menjadi istri muda seorang Arab demi menyelamatkan orang tuanya dari utang: Moegiri karya Joehana, Pertemuan jodoh karya Abdoel Moeis, dan Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Dalam wawancara di Canberra pada 1994, Achdiat — yang ternyata keponakan Tjandra Pradja — mengatakan kepadanya bahwa ia masih ingat menyaksikan pertunjukan lisan Wawacan rusiah nu geulis, dan menilai karya itu memang mencerminkan sikap sebagian orang Sunda pada masa tersebut.
Agan Mariam, orang Palembang, dan ironi dua tahun kemudian
Sasaran kedua adalah Agan Mariam. Ia digambarkan berjalan dengan payung hitam sehingga tampak seperti tenda berjalan, terlalu gemuk, dan pembicaraannya dengan Maja-Sutisna berjalan seperti dua orang yang satu menuju utara dan satu menuju selatan. Bait 218 menyimpulkannya secara terbuka: pendidikannya terlalu sedikit, ia tidak seperti gadis-gadis modern, dan kekayaan tidak berguna bagi perempuan yang tidak pandai membawa diri. Bandingkan dengan Lasmana, bangsawan Sunda berpendidikan Barat yang menggoda kedua kekasihnya dengan bahasa Belanda yang lancar. Dalam kecemburuannya, Lasmana memanggil Mariam dengan seluruh daftar sebutan asing: putri keling, urang magribi, paranakan hindu.
Rombongan pengantin dari Palembang digambarkan dengan nada yang lebih hormat sekaligus jauh: berkopiah hitam, bersepatu tali, berantai dan berkancing emas, terkenal di kalangan Melayu karena ketaatan beragama, membawa hadiah dalam koper kulit Belanda berisi gelang emas bertatah berlian dan perhiasan telinga masing-masing seharga lima ratus gulden. Mereka kaya dan saleh, tetapi dalam kacamata teks itu tidak terpelajar dalam cara-cara Barat kaum elite Sunda.
Di sinilah letak ironi yang menjadi kesimpulan Mukherjee. Dua tahun setelah wawacan itu terbit, tepatnya pada 1923, Persatuan Islam berdiri di Bandung justru di lingkungan yang baru saja digambarkan seburuk itu: tiga keluarga asal Palembang yang telah dua generasi menetap di Bandung, dan kemudian dipimpin Ahmad Hassan, putra seorang ayah Tamil dari Singapura dan ibu Jawa dari Surabaya. Persis memperoleh perhatian publik ketika Hassan bersentuhan dengan Ahmad Soorkattie, salah satu pelopor pembaruan Islam di Jawa dan juru bicara organisasi Hadhrami al-Irsyad. Gerakan pembaruan yang berpangkal pada gagasan Muhammad Abduh dari Mesir itu memang lambat masuk ke Jawa Barat, jauh setelah menyebar di Sumatra dan Singapura.
Baca juga: Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Mukherjee menutup dengan penilaian yang tidak berhati-hati: “Karya seperti Wawacan rusiah nu geulis tidak pernah terlihat lagi dalam kesusastraan Sunda modern. Ia benar-benar sebuah mahakarya,” tulisnya dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Ia mencatat bahwa setelah 1930 wawacan bermuatan moral kehilangan tenaga sebagai genre, dan fiksi Sunda dikuasai novel prosa berbahasa lebih biasa, dipercepat oleh menguatnya kegiatan Balai Pustaka.
Penulisnya tidak memaparkan bagian keterbatasan penelitian dalam artikel ini. Namun beberapa batas terbaca sendiri dari uraiannya: ia bekerja dari sebuah fotokopi buku yang disediakan mendiang Ajip Rosidi dari perpustakaan pribadinya; ia menyebut sendiri bahwa daftar tiga novel bermotif serupa itu ia kumpulkan tanpa penelusuran khusus; dan satu-satunya kesaksian lisan yang ia pakai berasal dari satu wawancara pada 1994. Ia juga menegaskan bahwa terjemahan Inggris yang ia sajikan tidak dapat mempertahankan pola vokal akhir baris yang akan dihargai pembaca Sunda pada zamannya.
















