Cekricek.id — Ambil satu kalimat paling biasa yang bisa dibayangkan: Ibu memasak nasi. Tiga kata, satu pelaku, satu tindakan, satu sasaran. Sekarang pindahkan kalimat itu ke bahasa Inggris, Arab, dan Korea. Peristiwanya sama persis, tetapi tak satu pun dari ketiganya menyusun kalimat itu dengan cara yang sama seperti bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, kata kerjanya justru berdiri paling depan. Dalam bahasa Korea, ia menunggu sampai paling belakang.
Perbandingan itulah yang dibedah Ulil Amri, Aprilia Kartika Sari, dan Siti Fitriah dari Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi; Syafitri Ramadhani dari Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang; Zubaidah dari Tadris Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek; serta Lailatul Husna dari Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ekasakti. Artikel mereka, Perbandingan Konstruksi Kalimat Aktif Verbatif dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Korea: Kajian Linguistik Kontrastif, terbit dalam jurnal Puitika Vol. 22 No. 1 pada 2026.
Kalimat aktif verbatif — kalimat aktif yang berpusat pada kata kerja tindakan — dipilih karena ia konstruksi paling dasar dalam membentuk proposisi makna. Menurut Amri dan rekan-rekannya, kajian yang membandingkan keempat bahasa itu sekaligus dalam satu kerangka analisis masih menjadi ruang kosong. Penelitian terdahulu umumnya membandingkan dua bahasa saja, atau bahasa-bahasa yang berkerabat dekat.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Membaca Kalimat sebagai Peta Peran
Kerangka yang mereka pakai adalah Systemic Functional Linguistics atau SFL, pendekatan yang dikembangkan Michael Halliday dan memandang bahasa sebagai sistem untuk merealisasikan makna. Alih-alih bertanya “mana subjek, mana predikat”, SFL bertanya siapa pelakunya, apa prosesnya, dan apa yang dikenai proses itu.
Dalam istilah SFL, kalimat semacam Ibu memasak nasi memetakan tiga hal: actor atau pelaku, process: material atau proses tindakan, dan goal atau sasaran. Bisa ditambah recipient dan beneficiary ketika ada pihak yang menerima atau diuntungkan, serta circumstance untuk keterangan waktu, tempat, cara, atau sebab. Konfigurasi pelaku-proses-sasaran inilah yang dijadikan patokan pembanding.
Metodenya kualitatif-komparatif dan bersifat penelitian kepustakaan. Datanya bukan kalimat yang dipungut dari koran atau percakapan, melainkan constructed parallel data: kalimat-kalimat yang sengaja dibuat setara maknanya lintas bahasa agar bisa dibandingkan secara terkontrol. Kalimat-kalimat itu diproduksi tim peneliti sendiri, yang terdiri atas pakar dan praktisi keempat bahasa, lalu divalidasi lewat kesepakatan antarpeneliti terhadap kesepadanan makna dan struktur.
Empat Cara Menata Satu Peristiwa
Hasilnya, pada tingkat fungsi, keempat bahasa ternyata seragam. Semuanya merealisasikan pola dasar pelaku-proses-sasaran yang sama. “Kesamaan ini menegaskan bahwa secara semantis, konstruksi kalimat aktif verbatif dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Korea berangkat dari representasi pengalaman yang serupa, yaitu tindakan yang melibatkan pelaku dan sasaran,” tulis Amri dan rekan-rekannya.
Perbedaannya baru muncul di lapis berikutnya, yaitu cara masing-masing bahasa mewujudkan konfigurasi itu dalam bentuk gramatikal. Bahasa Indonesia dan Inggris sama-sama memakai pola subjek-verba-objek. Bahasa Arab memakai verba-subjek-objek sebagai bentuk kanoniknya, dengan variasi subjek-verba-objek yang muncul karena pertimbangan pragmatis ketika pelakunya hendak ditonjolkan. Bahasa Korea konsisten memakai subjek-objek-verba, dengan kata kerja selalu di posisi akhir.
Kalimat contoh yang dibedah dalam artikel itu memperlihatkannya secara telanjang. Ibu memasak nasi dalam bahasa Inggris menjadi Mother cooks rice. Dalam bahasa Arab, transliterasinya berbunyi taṭbukhu al-ummu al-arza — kata kerjanya lebih dulu, baru pelakunya, baru sasarannya. Dalam bahasa Korea, transliterasinya eomeoni-ga bap-eul jit-neunda: pelakunya ditandai partikel -ga, sasarannya ditandai partikel -eul, dan kata kerjanya menutup kalimat.
Beban yang Dipikul Afiks dan Urutan Kata
Perbedaan yang lebih dalam terletak pada alat yang dipakai masing-masing bahasa untuk menandai siapa berbuat apa. Bahasa Indonesia mengandalkan afiksasi: awalan meN- menandai tindakan aktif, sementara akhiran -kan dan -i memungkinkan tambahan partisipan seperti penerima atau pihak yang diuntungkan. Rumus umumnya, menurut artikel itu, adalah pelaku ditambah verba berafiks meN- ditambah sasaran, dengan penerima dan keterangan sebagai perluasan opsional.
Bahasa Inggris tidak punya penanda seperti meN-. Ia bersandar pada perubahan bentuk kata kerja untuk kala dan aspek, serta pada urutan kata yang relatif kaku. Karena itu, dalam pemetaan artikel ini, peran urutan kata dalam bahasa Inggris dinilai sangat penting sedangkan peran penandaan morfologisnya terbatas.
Baca juga: Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Bahasa Arab bergerak ke arah sebaliknya. Sistem infleksinya menandai persona, jenis, dan jumlah pada kata kerja, sehingga hubungan antarunsur tetap terbaca meski urutannya bergeser. Bahasa Korea memakai jalan lain lagi: partikel kasus yang ditempelkan langsung pada kata — -i atau -ga untuk pelaku, -eul atau -reul untuk sasaran, -ege atau -hante untuk penerima. Karena fungsi sudah ditandai secara eksplisit, posisi tidak lagi menentukan.
Ketika Ayah Ikut Masuk ke dalam Kalimat
Uji berikutnya dilakukan dengan memperumit kalimat: menambahkan penerima dan keterangan tempat, sehingga menjadi kalimat setara Ibu memasakkan ayah nasi di dapur. Di sinilah watak masing-masing bahasa makin kelihatan.
Bahasa Indonesia, menurut analisis itu, punya fleksibilitas ganda. Ia bisa memakai jalur morfologis lewat akhiran -kan sehingga penerima muncul langsung setelah verba, atau jalur sintaktis lewat preposisi untuk. Keterangan tempatnya pun bisa diletakkan di awal maupun di tengah tanpa mengubah fungsi sintaktis.
Bahasa Inggris justru memperlihatkan keterbatasan yang lebih jelas. Konstruksi objek ganda seperti Mother cooks father rice secara teoretis mungkin, tetapi para peneliti menilainya kurang alami dibandingkan konstruksi berpreposisi for father. Dalam bahasa Arab, penandaan penerima tetap konsisten memakai preposisi li-, dan variasi yang muncul terjadi pada urutan konstituen, bukan pada strategi penandaannya. Bahasa Korea mempertahankan partikel -ege untuk penerima dan -eseo untuk keterangan tempat, sehingga unsur-unsur itu bisa berpindah posisi tanpa memengaruhi fungsi — asalkan kata kerjanya tetap di akhir. “Bahasa Korea menunjukkan pola yang paling stabil secara struktural sekaligus paling fleksibel secara distribusional,” tulis Amri dan rekan-rekannya.
Dua Jalur Menuju Makna yang Sama
Seluruh temuan itu mereka rangkum menjadi sebuah pemetaan sederhana: satu sistem makna universal yang diwujudkan lewat dua jalur strategi. Jalur pertama linear, berbasis urutan kata, ditempati bahasa Inggris sebagai bentuk paling murni dan bahasa Indonesia sebagai bentuk semi-morfologis. Jalur kedua morfologis, berbasis penandaan bentuk, ditempati bahasa Arab dengan infleksinya dan bahasa Korea dengan partikelnya.
Posisi bahasa Indonesia dalam peta itu, menurut mereka, tergolong khas. “Kemampuan bahasa Indonesia untuk mengombinasikan strategi linear dengan sistem afiksasi yang produktif menempatkannya pada posisi yang unik di antara bahasa Inggris yang rigid secara linear dan bahasa Arab atau Korea yang dominan secara morfologis,” tulis mereka. Titik-titik perbedaan strategi itulah yang, dalam pembacaan artikel ini, sering menjadi sumber gangguan ketika penutur bahasa Indonesia menyusun kalimat dalam bahasa asing — kebiasaan bahasa ibu terbawa ke bahasa target.
Perlu dicatat bahwa manfaat praktis yang ditawarkan artikel ini bersifat usulan konseptual bagi pengajaran bahasa asing, bukan hasil uji coba di kelas. Penelitian ini tidak menguji satu pun metode pembelajaran pada pembelajar sungguhan, dan tidak mengukur apakah kesadaran kontrastif benar-benar menurunkan kesalahan struktur.
Kalimat yang Dibuat di Meja Peneliti
Amri dan rekan-rekannya menyebut keterbatasan penelitian mereka secara terbuka, dan dua di antaranya membatasi seberapa jauh temuan ini boleh dibawa. Pertama, cakupan datanya hanya konstruksi kalimat aktif dengan proses material — tindakan fisik semacam memasak. Jenis proses lain dalam kerangka SFL, seperti proses mental, relasional, dan verbal, belum tersentuh, padahal justru di sanalah kerumitan lintas bahasa sering bertambah.
Baca juga: Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Kedua, data yang dipakai adalah kalimat yang dikonstruksi secara terkontrol, bukan kalimat yang benar-benar diucapkan atau ditulis orang. Para penulisnya mengakui bahwa data semacam itu mungkin belum sepenuhnya menangkap variasi pragmatis dalam penggunaan bahasa alami. Konsekuensinya, penilaian bahwa satu konstruksi “kurang alami” dibandingkan konstruksi lain bertumpu pada kesepakatan antarpeneliti, bukan pada hitungan frekuensi dalam korpus nyata. Untuk penelitian lanjutan, mereka merekomendasikan perluasan ke tipe proses SFL lainnya serta penggunaan korpus autentik dari diskursus akademik atau media massa.
Dengan batas-batas itu, yang berhasil dipetakan artikel ini tetap jelas bentuknya: empat bahasa yang menyimpan pengertian sama tentang siapa berbuat apa kepada siapa, namun membangun kalimatnya dengan bahan dan urutan yang berlainan. Kesamaannya berada di lapis makna; perbedaannya seluruhnya berada di lapis cara.
















