Cekricek.id — Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo resmi menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara itu. Otoritas kesehatan setempat mencatat 2.325 orang meninggal, melampaui korban wabah 2018–2020 yang merenggut 2.299 nyawa, sekaligus menjadikan epidemi ini krisis kesehatan terburuk yang pernah dihadapi Kinshasa.
Hingga pekan ini tercatat 4.945 kasus terkonfirmasi, dengan 101 kasus baru muncul hanya dalam kurun 24 jam. Sebanyak 730 pasien masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit, sementara 1.040 orang dinyatakan sembuh. Yang paling mencemaskan, rasio kematian kasus melonjak ke 46 persen, naik tajam dari kisaran 20 persen pada awal Juni. Dikutip dari UN News, wabah yang dideklarasikan pada 15 Mei 2026 itu merupakan letusan Ebola ke-17 di Kongo.
Baca juga: WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus
Virus Bergerak Lebih Cepat daripada Respons
Kepala urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Tom Fletcher menyatakan penanganan di lapangan tertinggal jauh dari laju penyebaran virus. “Ebola sedang menang di Republik Demokratik Kongo. Kita tidak boleh membiarkan virus ini mendahului respons kita,” ujarnya.
Fletcher mendesak mitra internasional menutup celah pendanaan dan logistik sebelum situasinya makin sulit dikendalikan. “Kita butuh kecepatan, skala, dan solidaritas sebelum virus ini semakin jauh meninggalkan kita,” katanya.
Baca juga: Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Paling Mematikan Sepanjang Sejarah
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya memperingatkan bahwa laju kematian wabah Kongo berpotensi melampaui epidemi Afrika Barat 2014–2016, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Meski jumlah kasus di Kongo jauh lebih sedikit, korban jiwa bertambah dengan tempo yang jauh lebih cepat.
Juru bicara WHO Tarik Jašarević mengatakan lembaganya telah memulai “peningkatan besar-besaran di setiap aspek respons” terhadap virus tersebut, mulai dari pelacakan kontak, kapasitas laboratorium, hingga pengelolaan pemakaman yang aman.
Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera
Pasien Terlambat Ditemukan
Salah satu penyebab tingginya angka kematian adalah keterlambatan deteksi. Spesialis kesehatan masyarakat dari Dokter Lintas Batas (Médecins Sans Frontières) Thomas Parisch menggambarkan pola yang berulang di banyak wilayah terdampak. “Sebaliknya, kami masih melihat banyak kasus terdeteksi sangat terlambat, ketika pengobatan kecil kemungkinan berhasil, dan banyak yang baru teridentifikasi setelah mereka meninggal di tengah komunitas,” katanya.
Wabah kali ini disebabkan galur Bundibugyo, jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin maupun obat berlisensi. Uji coba kandidat vaksin tengah berlangsung di Inggris dan Kanada, sementara WHO mendorong pemanfaatan vaksin Ervebo dalam skema uji coba untuk melindungi tenaga kesehatan dan kontak erat pasien.
Dikutip dari Al Jazeera, infrastruktur kesehatan yang rapuh, konflik bersenjata yang belum reda di kawasan timur, serta ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap petugas medis membuat pelacakan kasus berjalan tersendat. Pada awal Agustus, sejumlah tenaga kesehatan yang menangani Ebola bahkan berunjuk rasa karena upah mereka tak kunjung dibayar.
Dana Darurat dan Pengawasan Lintas Batas
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB telah mengalokasikan 54,5 juta dolar Amerika Serikat untuk membiayai operasi tanggap darurat, meliputi pengiriman alat pelindung diri, pembangunan pusat perawatan, dan dukungan bagi keluarga korban. WHO menargetkan penularan dapat dikendalikan dalam tiga bulan ke depan, target yang diakui sendiri bergantung pada kesinambungan pendanaan.
Negara-negara tetangga di kawasan Afrika Tengah dan Timur diminta memperketat pengawasan penyakit di titik-titik perlintasan. Uganda, yang berbatasan langsung dengan wilayah terdampak, termasuk yang memperkuat surveilans setelah galur Bundibugyo pertama kali diidentifikasi di negara itu pada 2007.
Ebola menular melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, termasuk saat prosesi pemakaman tradisional. Masa inkubasinya berkisar 2 hingga 21 hari, dengan gejala awal berupa demam mendadak, nyeri otot, dan kelelahan hebat sebelum berkembang menjadi pendarahan internal.
















