UNIFIL Catat 137 Proyektil Israel Sehari di Lebanon

Petugas penyelamat memeriksa reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel di Lebanon selatan

Petugas penyelamat dan warga memeriksa reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel di Deir al-Zahrani, Lebanon selatan. [Foto: AP]

Cekricek.id — Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, UNIFIL, melaporkan lonjakan tajam aktivitas militer Israel di Lebanon selatan selama dua pekan terakhir. Dalam pernyataan yang dirilis Senin, UNIFIL mencatat rata-rata 137 proyektil ditembakkan setiap hari sepanjang 5 hingga 16 Agustus 2026, dengan puncak 208 proyektil pada Sabtu dan 185 pada Minggu.

“Seiring meningkatnya ketegangan, warga sipil sekali lagi membayar harga paling mahal, dengan banyak keluarga mengungsi atau terpaksa mengubah rutinitas harian mereka karena rasa tidak aman dan ketidakpastian,” bunyi pernyataan UNIFIL. Dikutip dari Al Jazeera, jumlah korban tewas akibat serangan berulang Israel di Lebanon selatan sejak 2 Maret telah mencapai 4.346 orang, setelah 11 orang lagi tewas pada Sabtu dalam dua serangan udara terpisah.

Baca juga: Pemukim Israel Dirikan Pos Baru di Tepi Barat, PBB Bersuara

Gencatan Senjata yang Tak Menghentikan Tembakan

Eskalasi itu terjadi kendati kesepakatan gencatan senjata 26 Juni antara Lebanon dan Israel telah diperbarui. Kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat tersebut mengaitkan penghentian permusuhan dengan pelucutan senjata Hizbullah, tetapi tidak secara khusus mewajibkan penarikan pasukan Israel yang masih menduduki sejumlah kawasan di Lebanon selatan. Hizbullah menolak kesepakatan itu dan menyatakan tidak akan tunduk sebelum Israel mundur.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan keberadaan kelompok bersenjata di dalam negeri tidak bisa dijadikan pembenaran bagi serangan lintas batas. “Keberadaannya tidak memberi Israel hak untuk melanggar wilayah Lebanon atau membahayakan warga sipil,” katanya.

Baca juga: Kushner Temui Netanyahu, Israel Tetap Tuntut Hamas Lucuti Senjata

Dari pihak Israel, juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, menyatakan pemerintahnya masih berpegang pada kerangka kesepakatan tersebut. “Kami percaya pada kesepakatan itu. Kami sangat berharap angkatan bersenjata Lebanon mampu tampil ke depan,” ujarnya. Beirut dan Tel Aviv sudah menggelar putaran ketujuh perundingan pada awal bulan ini tanpa hasil yang mengakhiri serangan.

Mandat UNIFIL Habis Akhir Tahun

Di tengah eskalasi itu, mandat UNIFIL yang berlaku hingga 31 Desember 2026 menjadi bahan perdebatan internasional. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan dukungan penuh agar mandat pasukan itu diperpanjang. “Kehadiran UNIFIL di selatan penting dalam banyak hal, membantu warga tetap tinggal di desa dan kota mereka, serta memperkuat stabilitas dalam kerja sama dan koordinasi dengan tentara Lebanon,” katanya.

Baca juga: Australia Mulai Beli Kembali Senjata Api pada 2 November

Aoun juga menyiapkan opsi cadangan bila Dewan Keamanan tidak memperpanjang mandat itu. “Pilihan pertama kami adalah memperpanjang mandat UNIFIL. Jika mandatnya tidak diperpanjang, pilihan kedua adalah mengadopsi formula yang menjamin kehadiran pasukan internasional tetap berlanjut di selatan, dalam kerangka hukum yang diperlukan,” ujarnya. Dikutip dari Anadolu Agency, pernyataan itu disampaikan Aoun saat menerima delegasi parlemen dan diiringi keterangan bahwa Israel telah menekan agar UNIFIL ditarik selama kurang lebih setahun terakhir.

UNIFIL menegaskan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tetap menjadi kerangka dasar pemulihan stabilitas di Lebanon selatan. Resolusi yang diadopsi pada 2006 itu menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah sekaligus penguatan penggelaran tentara Lebanon bersama UNIFIL. Pasukan penjaga perdamaian ini sendiri telah bertugas di perbatasan Lebanon–Israel sejak 1978.

Desa-Desa Selatan Kian Kosong

Profesor madya kajian Timur Tengah di Bard College, New York, Ziad Abu Rish, menilai pola serangan yang berlangsung menyasar penduduk secara luas. “Sudah jelas bahwa kebijakan Israel adalah menghukum secara kolektif penduduk Lebanon, khususnya wilayah berpenduduk mayoritas Syiah dan Lebanon selatan, saat ia menjalankan kampanye bukan hanya melawan Hizbullah, melainkan melawan rakyat Lebanon,” katanya kepada Al Jazeera.

UNIFIL menyebut personelnya tetap menjalankan patroli, pemantauan, penyingkiran halangan di jalan, pengurangan risiko bahan peledak, serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan. Sepanjang pekan lalu, serangan udara Israel antara lain menghantam kawasan pegunungan Ali al-Taher di dekat Nabatieh dan meruntuhkan sebuah rumah di Deir al-Zahrani, mendorong sebagian keluarga di desa-desa perbatasan mengungsi ke arah utara.

Baca Juga

Tim medis berpakaian alat pelindung diri menangani penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo
Wabah Ebola Kongo Terparah, 2.325 Orang Meninggal
Seorang perempuan melintas di depan mural bergambar Ayatollah Ali Khamenei dan bendera Iran di Teheran
MoU AS-Iran Berakhir, Trump Minta Iran Menyerah
Presiden Zambia Hakainde Hichilema memasukkan surat suara ke kotak suara
Hichilema Menang Lagi Pilpres Zambia, 60% Suara
Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada membawa bendera Merah Putih seusai International Mathematics Competition di American University in Bulgaria.
Persiapan Kilat, Mahasiswa UGM Raih Perunggu IMC Bulgaria
Pohon baobab jenis baru Adansonia bozy di kawasan Sambirano, barat laut Madagaskar.
Analisis Genom Ungkap Spesies Baobab Baru di Madagaskar
Kapal-kapal berlayar di perairan sekitar Selat Hormuz.
Nota Kesepahaman Habis, Iran Beralih ke Posisi Militer Ofensif